يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِمَنْ فِي أَيْدِيكُمْ مِنَ الْأَسْرَىٰ إِنْ يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Wahai Nabi, katakanlah kepada siapa pun yang ada di tangan kalian dari kalangan tawanan, “Jika Allah mengetahui ada kebaikan di dalam hati kalian, niscaya Dia akan menganugerahkan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian, dan Dia akan mengampuni kalian.” Dan Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِمَنْ فِي أَيْدِيكُمْ مِنَ الْأَسْرَىٰ إِنْ يَعْلَمِ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ خَيْرًا يُؤْتِكُمْ خَيْرًا مِمَّا أُخِذَ مِنْكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْyaa ayyuhaa n-nabiyyu qul li-man fii aydiikum mina l-asraa in ya'lami llaahu fii quluubikum khayran yu'tikum khayran mimmaa ukhidza minkum wa-yaghfir lakumwahai Nabi, katakanlah kepada siapa pun yang ada di tangan kalian dari kalangan tawanan, jika Allah mengetahui ada kebaikan di dalam hati kalian, niscaya Dia akan menganugerahkan kepada kalian yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari kalian, dan Dia akan mengampuni kalian
- وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimundan Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (25 kata)
- يَاyaawahai
- أَيُّهَاayyuhaasekalian
- النَّبِيُّn-nabiyyuNabi
- قُلْqulkatakanlah
- لِمَنْli-mankepada siapa yang
- فِيfiidi
- أَيْدِيكُمْaydiikumtangan kalian
- مِنَminadari
- الْأَسْرَىٰl-asraatawanan
- إِنْinjika
- يَعْلَمِya'lamimengetahui
- اللَّهُllaahuAllah
- فِيfiidalam
- قُلُوبِكُمْquluubikumhati kalian
- خَيْرًاkhayrankebaikan
- يُؤْتِكُمْyu'tikummemberi kalian
- خَيْرًاkhayrankebaikan
- مِمَّاmimmaadaripada apa yang
- أُخِذَukhidzadiambil
- مِنْكُمْminkumdari kalian
- وَيَغْفِرْwa-yaghfirdan Dia mengampuni
- لَكُمْlakumkepada kalian
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Pesan harapan yang ditawarkan bahkan kepada pihak yang berada dalam posisi kalah/tertawan, hasil yang lebih baik dijanjikan bergantung pada 'kebaikan di dalam hati kalian', bukan posisi eksternal mereka saat ini. Konkretnya: menawarkan jalan pemulihan/kesempatan lebih baik kepada seseorang yang sedang berada di posisi sulit atau kalah, berdasarkan kualitas hati/niat mereka (bukan posisi eksternal mereka), adalah sikap yang membuka ruang bagi perubahan positif, tidak menutup pintu harapan bagi siapa pun hanya karena posisi mereka saat ini tampak buruk.
Tafsiran
Tawaran ini membalik logika duniawi tebusan: kebaikan hati yang tulus dijanjikan ganjaran melebihi nilai materi apa pun yang telah diambil, membuka jalan rekonsiliasi yang lebih besar daripada transaksi semata.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyuruh menyampaikan kabar itu kepada para tawanan, pihak yang sedang kalah. Bukan kepada yang menang. Tawaran yang diberikan kepada orang di posisi paling lemah tidak bisa dibaca sebagai transaksi.
- Syarat yang disebut jika ada kebaikan di dalam hati kalian. Bukan syarat yang bisa diperiksa siapa pun. Yang menentukan sesuatu yang tak terlihat oleh pihak yang menahan mereka.
- Allah menjanjikan yang lebih baik daripada apa yang telah diambil dari mereka, lalu menambahkan ampunan. Bukan pengembalian. Yang hilang tidak dijanjikan kembali; yang dijanjikan sesuatu yang melebihi hitungannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Dia akan mengampuni kamu” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap.; kata dari akar r-h-m (indefinit). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.