وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Dan jika mereka hendak mengkhianatimu, sungguh sebelumnya mereka telah berkhianat kepada Allah, lalu Dia memberi kekuasaan atas mereka. Dan Allah berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِنْ يُرِيدُوا خِيَانَتَكَ فَقَدْ خَانُوا اللَّهَ مِنْ قَبْلُ فَأَمْكَنَ مِنْهُمْwa-in yuriiduu khiyaanataka fa-qad khaanuu llaaha min qablu fa-amkana minhumdan jika mereka hendak mengkhianatimu, sungguh sebelumnya mereka telah berkhianat kepada Allah, lalu Dia memberi kekuasaan atas mereka
  2. وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌwa-llaahu 'aliimun hakiimundan Allah berilmu lagi penuh hikmah

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَإِنْwa-indan jika
  2. يُرِيدُواyuriiduumereka menghendaki
  3. خِيَانَتَكَkhiyaanatakapengkhianatanmu
  4. فَقَدْfa-qadmaka sungguh
  5. خَانُواkhaanuumereka mengkhianati
  6. اللَّهَllaahaAllah
  7. مِنْmindari
  8. قَبْلُqablusebelumnya
  9. فَأَمْكَنَfa-amkanamaka Dia memenangkan
  10. مِنْهُمْminhumdari mereka
  11. وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
  12. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  13. حَكِيمٌhakiimunbijaksana

Inti bacaan

Pengamatan tajam: pengkhianatan terhadap seseorang sering didahului pola pengkhianatan yang lebih dalam ('sebelumnya mereka telah berkhianat kepada Allah'), ketidaksetiaan biasanya bukan dimulai dari target yang terlihat, melainkan dari kompromi integritas yang lebih dulu terjadi. Konkretnya: pola ketidaksetiaan atau pengkhianatan terhadap seseorang biasanya berakar pada kompromi integritas yang lebih dulu dan lebih dalam (terhadap prinsip sendiri), mengenali akar yang lebih dalam ini membantu memahami pola perilaku seseorang, bukan hanya menilai kejadian pengkhianatan yang tampak di permukaan.

Tafsiran

Ayat ini menutup pembahasan tawanan dengan mengingatkan pola: pengkhianatan terhadap komitmen bukan hal baru bagi mereka, sebelumnya mereka bahkan berkhianat terhadap Allah sendiri, sehingga kekuasaan diberikan bukan tanpa alasan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut bahwa sebelumnya mereka sudah berkhianat kepada-Nya. Yang sekarang dikhawatirkan bukan kejadian pertama. Sebuah pola yang sudah punya riwayat memang lebih menerangkan daripada satu peristiwa yang berdiri sendiri.
  • Yang lebih dahulu dikhianati bukan manusia, dan urutan itu disebutkan dengan sengaja. Ketidaksetiaan jarang bermula pada orang yang terlihat menjadi korbannya; ia biasanya sudah lama berjalan di tempat yang tak dilihat siapa pun.
  • Sesudah menyebut pengkhianatan itu, disebutkan Allah memberi kekuasaan atas mereka. Akibatnya menyusul dalam kalimat yang sama. Yang digambarkan bukan hukuman yang datang belakangan, melainkan kelanjutan yang sudah menempel pada perbuatannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: sebutan 'Maha Bijaksana' diterjemahkan 'penuh hikmah' (indefinit corpus, tanpa 'Maha'); pasangan sebutan lain (aliim/khabiir dst.) belum dibedah, dipertahankan sementara. Konvensi hkm: hakiim diterjemahkan 'penuh hikmah' (SATU terjemahan: Allah 91 + KITAB 5 + amr 1; takrif diterjemahkan 'Sang Penuh Hikmah', indefinit kecil tanpa Maha); hikmah diterjemahkan 'hikmah' (gloss '(sunah)' dibuang); muhkam diterjemahkan 'dikukuhkan' (11:1, 22:52); verba diterjemahkan 'memutuskan'; keluarga hakim (hakam/haakimiin/hukkaam) tetap 'hakim/penengah'. hukm = pemakaian diteruskan terjemahan lain, sub-putusan MENUNGGU (6:5712:4012:67 tiga terjemahan).