مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ ۚ أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ
Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik meramaikan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi bahwa diri mereka kufur. Itulah orang-orang yang sia-sia amal mereka, dan di dalam apilah mereka kekal.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِmaa kaana li-l-mushrikiina an ya'muruu masaajida llaahi shaahidiina alaa anfusihim bi-l-kufritidaklah pantas bagi orang-orang musyrik meramaikan masjid-masjid Allah, sedangkan mereka bersaksi bahwa diri mereka kufur
- أُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَulaa'ika habitat a'maaluhum wa-fii n-naari hum khaaliduunaitulah orang-orang yang sia-sia amal mereka, dan di dalam apilah mereka kekal
Catatan pilihan kata (ringkas)
⟶ akar ini. *'amira* = *'He, long'*; *'amara bi-makaanin* = *'He, resided in a place'*; *'amara* (tempat) = menjadi dihuni, *'in a flourishing state, '*. ** (hlm 2156) memikul, *''* DAN *'in a place'*. Ditambah *'umraan* dinyatakan ** ('reruntuhan/tanah terbengkalai', Lane hlm 716). diterjemahkan **Inti akar = BERTAHAN-BERLANGSUNG / TERUS TERPELIHARA, lawan BINASA & TERBENGKALAI.** Usia = lamanya orang bertahan; *'imaarah* = tempat yang terus dihuni & terpelihara. (Sejajar akar h-j-j: *qasada* memersatukan ziarah & argumen, HJJ.) ⟶ (putusan opsi-2): sebelumnya terjemahan lain memakai, 'memakmurkan' (9:17, 9:18, 30:9, 11:61) vs '' (9:19, kehilangan seluruh muatan akar). ⚠ 'Makmur' (KBBI) berkonotasi, sedangkan inti akar =; 'meramaikan' lebih dekat & konsisten. 9:17/9:18 '', 9:19 '', 30:9 '', 52:4 '', 11:61 ''. Entri/bedah via bedah akar akar '-m-r (20 Jul, putusan Pak FD 'opsi a dan b'): cabang A (usia) diterima apa adanya +; cabang B diseragamkan ke keluarga 'ramai'. Lih.. sebagian penerjemah: 'It is not for the idolaters1 to inhabit2 the places of worship3 of God, bearing witness against themselves to denial; those: their works are vain, and in the Fire do they abide eternally.'
Aplikasi
Kepantasan mengurus atau meramaikan tempat ibadah ditentukan oleh keselarasan batin dan pengakuan diri, bukan oleh kehadiran fisik semata, orang yang mengakui sendiri dirinya kafir tidak pantas meramaikan masjid Allah, sekalipun secara fisik ia berada di sana. Konkretnya: kelayakan seseorang memegang kendali simbolis atas sebuah institusi nilai bukan soal akses fisik atau jabatan, melainkan keselarasan sikap batin dengan nilai yang diwakilinya.