لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Tidak ada dosa bagi orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan, jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan apa pun atas orang-orang yang berbuat baik. Dan Allah pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- لَيْسَ عَلَى الضُّعَفَاءِ وَلَا عَلَى الْمَرْضَىٰ وَلَا عَلَى الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ مَا يُنْفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا لِلَّهِ وَرَسُولِهِlaysa 'alaa dh-dhu'afaa'i wa-laa 'alaa l-mardhaa wa-laa 'alaa lladziina laa yajiduuna maa yunfiquuna harajun idzaa nashahuu li-llaahi wa-rasuulihitidak ada dosa bagi orang-orang yang lemah, sakit, dan yang tidak mendapatkan apa yang akan mereka infakkan, jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya
- مَا عَلَى الْمُحْسِنِينَ مِنْ سَبِيلٍmaa 'alaa l-muhsiniina min sabiilintidak ada jalan apa pun atas orang-orang yang berbuat baik
- وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌwa-llaahu ghafuurun rahiimundan Allah pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (26 kata)
- لَيْسَlaysabukanlah
- عَلَى'alaaatas
- الضُّعَفَاءِdh-dhu'afaa'iorang-orang lemah
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- عَلَى'alaaatas
- الْمَرْضَىٰl-mardhaaorang-orang sakit
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- عَلَى'alaaatas
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَاlaatidak
- يَجِدُونَyajiduunamereka mendapati
- مَاmaaapa yang
- يُنْفِقُونَyunfiquunamenginfakkan
- حَرَجٌharajunkeberatan
- إِذَاidzaaapabila
- نَصَحُواnashahuumereka menasihati
- لِلَّهِli-llaahibagi Allah
- وَرَسُولِهِwa-rasuulihidan Rasul-Nya
- مَاmaatidaklah
- عَلَى'alaaatas
- الْمُحْسِنِينَl-muhsiniinaorang-orang yang berbuat kebaikan
- مِنْmindari
- سَبِيلٍsabiilinjalan
- وَاللَّهُwa-llaahudan Allah
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Pengecualian yang sah dijelaskan dengan jernih: bagi yang lemah, sakit, atau tidak memiliki sarana, 'tidak ada dosa. jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya', keterbatasan genuine yang disertai ketulusan hati sepenuhnya berbeda dari penghindaran yang disengaja. Konkretnya: membedakan antara ketidakmampuan genuine (yang tidak perlu disalahkan) dan keengganan yang disengaja (yang perlu dipertanyakan) adalah keadilan penilaian yang penting, kriteria pembeda utamanya adalah ketulusan hati, bukan sekadar hasil akhir yang tampak sama (tidak berpartisipasi).
Tafsiran
'Jalan/sabiil' di sini adalah idiom untuk celah menyalahkan seseorang: tiga kategori yang disebutkan (lemah, sakit, tak mampu) dibebaskan sepenuhnya dari celah itu selama niat mereka ikhlas, bukan sekadar keringanan administratif.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut tiga keadaan: lemah, sakit, dan tidak menemukan apa yang bisa diinfakkan. Ketiganya di luar kuasa orangnya. Yang dibebaskan bukan yang enggan, melainkan yang memang tidak punya pilihan lain.
- Pembebasan itu tetap diberi syarat: jika mereka ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketiadaan sarana tidak otomatis menutup perkara. Yang membedakan orang yang tidak bisa dari orang yang tidak mau memang cuma satu hal, dan letaknya tidak terlihat.
- Kalimat berikutnya menutup celah menyalahkan: tidak ada jalan apa pun atas orang-orang yang berbuat baik. Bukan cuma tidak berdosa. Yang ditutup Allah bahkan pintu bagi orang lain untuk mencari-cari alasan mencela mereka.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.