لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh, benar-benar telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan bagi kalian, dan penuh iba dan pengasih terhadap orang-orang mukmin.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌla-qad jaa'akum rasuulun min anfusikum 'aziizun 'alayhi maa 'anittum hariishun 'alaykum bi-l-mu'miniina ra'uufun rahiimunsungguh, benar-benar telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan bagi kalian, dan penuh iba dan pengasih terhadap orang-orang mukmin
Terjemahan per kata (14 kata)
- لَقَدْla-qadsungguh
- جَاءَكُمْjaa'akumdatang kepada kalian
- رَسُولٌrasuulunseorang rasul
- مِنْmindari
- أَنْفُسِكُمْanfusikumdiri kalian sendiri
- عَزِيزٌ'aziizunMahaperkasa
- عَلَيْهِ'alayhiatasnya
- مَاmaaapa yang
- عَنِتُّمْ'anittumkalian menderita
- حَرِيصٌhariishunsangat menginginkan
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- بِالْمُؤْمِنِينَbi-l-mu'miniinapada orang-orang beriman
- رَءُوفٌra'uufunpenyantun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Gambaran karakter yang mendalam: 'Berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, sangat menginginkan (keselamatan) bagi kalian. penuh iba dan pengasih', kepedulian yang genuine dirasakan langsung sebagai beban, bukan sekadar kewajiban formal. Konkretnya: kepemimpinan atau kepedulian yang sejati ditandai dengan benar-benar merasakan beban kesulitan orang lain sebagai bagian dari diri sendiri (bukan sekadar tanggung jawab formal yang dijalankan berjarak), empati yang genuine adalah kualitas kepemimpinan yang dicontohkan secara eksplisit di sini.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini memperkenalkan seorang utusan lewat empat sifat, dan keempatnya tentang rasa, bukan tentang kekuasaan.
Yang disebut lebih dahulu bukan salah satu sifat itu, melainkan asalnya: “dari kaum kalian sendiri” (مِنْ أَنْفُسِكُمْ, min anfusikum), yang secara harfiah berbunyi “dari diri kalian sendiri”. Kedekatan ditaruh di depan seluruh keterangan yang menyusul, seolah tanpa itu sifat-sifat berikutnya tak punya tempat berpijak.
Sifat kedua menyebut penderitaan yang mereka alami terasa berat olehnya. Bebannya berpindah. Kepedulian yang digambarkan di sini tidak berhenti pada memperhatikan dari kejauhan; ia ikut memikul tanpa diminta.
Dua kata penutupnya, “penuh iba dan pengasih” (رَءُوفٌ رَحِيمٌ, ra'uufun rahiimun), adalah pasangan yang muncul sembilan kali di dalam Al-Qur'an. Delapan di antaranya menerangkan Allah (2:143, 9:117, 16:7, 16:47, 22:65, 24:20, 57:9, 59:10). Ayat inilah satu-satunya tempat pasangan itu menerangkan seorang manusia. Karena itu terjemahan di sini tidak memakai awalan “Maha”: yang sedang digambarkan memang bukan Allah, melainkan seseorang yang membawa sebagian dari sifat itu kepada sesamanya.
Dua dari empat sifat itu dirumuskan dengan susunan yang tak terulang. Rangkaian “berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami” (عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ, 'aziizun 'alayhi maa 'anittum) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, begitu pula rangkaian “sangat menginginkan bagi kalian” (حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ, hariishun 'alaykum). Dua sifat yang paling menggambarkan hubungan pribadi justru dirumuskan dengan kata-kata yang tidak dipakai di tempat lain mana pun.
Kata pertama dari kedua rangkaian itu menarik. Ia berasal dari akar yang sama dengan kata yang biasa diterjemahkan digdaya atau perkasa. Yang dipakai di sini bukan maknanya yang menyangkut kekuatan, melainkan yang menyangkut beratnya sesuatu bagi seseorang. Akar yang di banyak tempat menunjuk keperkasaan, di sini menunjuk kelembutan hati, dan pergeseran itu terjadi tanpa mengubah kata dasarnya.
Ada satu hal lagi pada urutan keempat sifat itu. Dua yang pertama menyangkut hubungannya dengan seluruh yang diseru, sedangkan dua yang terakhir dibatasi kepada orang-orang mukmin. Pembatasan itu muncul hanya di ujung. Jadi berat merasakan penderitaan dan menginginkan kebaikan berlaku bagi semua orang tanpa syarat, sementara dua sifat penutupnya disebut khusus. Susunan seperti itu menutup pembacaan bahwa kepedulian yang digambarkan di sini hanya berlaku ke dalam.
Ayat ini juga ayat kedua dari belakang di surahnya, dan surah itu banyak berisi perkara yang keras. Letak sebuah gambaran selembut ini di penutup surah semacam itu bukan hal yang bisa dilewatkan begitu saja.
Tafsiran
Empat sifat yang disebutkan, yaitu berat merasakan penderitaan umat, menginginkan kebaikan bagi mereka, iba, dan pengasih, membentuk gambaran kepemimpinan yang berakar pada empati mendalam, bukan otoritas yang jauh dari yang dipimpinnya. Yang paling perlu dicatat, tak satu pun dari keempatnya menyangkut kekuatan.
Kalau sebuah pengantar tentang seorang pemimpin ditulis oleh siapa pun, hampir pasti ada satu sifat yang menyangkut kemampuan, kewibawaan, atau ketegasan. Di sini tidak ada. Keempatnya tentang rasa, dan tiga di antaranya bahkan tentang rasa yang ditanggung untuk orang lain. Susunan seperti itu bukan kelalaian; ia pilihan, dan pilihan itu mengatakan sesuatu tentang ukuran yang dipakai.
Yang disebut sebelum keempatnya pun bukan sifat, melainkan asal. Dari diri kalian sendiri, kata ayat ini. Kedekatan diletakkan sebagai landasan, dan sifat-sifat itu berdiri di atasnya. Urutan ini menyiratkan bahwa keempat sifat tersebut tidak mungkin tumbuh dari kejauhan. Orang tidak merasakan berat penderitaan yang tidak pernah ia dekati.
Ada satu hal yang membuat ayat ini berdiri sendiri di seluruh kitab. Pasangan kata penutupnya muncul sembilan kali, dan delapan di antaranya menerangkan Allah (2:143, 9:117, 16:7, 16:47, 22:65, 24:20, 57:9, 59:10). Hanya di sini pasangan itu menerangkan seorang manusia. Karena itu terjemahannya di ayat ini tidak memakai awalan yang menyatakan kemutlakan: yang digambarkan memang bukan Allah, melainkan seseorang yang membawa sebagian dari sifat itu kepada sesamanya. Sebuah sifat ilahiah yang dipinjamkan kepada manusia dalam kadar yang bisa ia tanggung, dan letaknya di ayat kedua dari belakang sebuah surah yang banyak berisi perkara keras membuatnya lebih menonjol lagi.
Renungan dan Hikmah
- Yang pertama disebut Allah bahwa rasul itu dari kaum mereka sendiri. Bukan orang asing. Kedekatan itu disebutkan lebih dahulu daripada seluruh sifat yang menyusul sesudahnya. Hal pertama yang disebutkan bukan kedudukannya, bukan mukjizatnya, dan bukan tugasnya, melainkan asalnya. Susunan itu menjawab keberatan yang sama yang diucapkan kaum Hud di 7:69, yaitu keheranan bahwa peringatan datang lewat orang dari golongan sendiri. Yang di sana dijadikan alasan menolak, di sini disebut lebih dulu sebagai kelebihan.
- Yang disebut berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami. Beban itu berpindah. Kepedulian yang sungguh-sungguh memang tidak berhenti pada memperhatikan; ia ikut memikul tanpa diminta. Rangkaian itu (عَزِيزٌ عَلَيْهِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an, dan begitu pula rangkaian sesudahnya (حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ). Dua sifat yang paling khas dari empat yang disebutkan ternyata sama-sama tidak dipakai lagi di mana pun. Keduanya menerangkan arah perasaan, yaitu dari dirinya menuju mereka, bukan sebaliknya.
- Empat sifat yang disebut Allah seluruhnya tentang rasa: berat merasakan, sangat menginginkan, penuh iba, dan pengasih. Tak satu pun tentang kekuatan atau wibawa. Yang dijadikan gambaran seorang pemimpin di sini justru bagian yang paling tidak terlihat. Empat hal yang disebutkan seluruhnya menyangkut rasa, dan tak satu pun menyangkut wewenang. Tidak disebutkan bahwa ia berhak memerintah, tidak disebutkan bahwa ia berhak dituruti, dan tidak disebutkan bahwa menolaknya berakibat apa. Kalau seorang utusan diperkenalkan tanpa satu pun kata tentang kuasanya, apa yang tersisa sebagai alasan mengikutinya? Yang tersisa cuma satu, yaitu bahwa ia sungguh-sungguh menghendaki kebaikan bagi yang diajaknya.
- Untuk memperkenalkan utusan-Nya, Allah memilih empat hal yang seluruhnya tentang rasa, dan tak satu pun tentang wibawa atau kekuatan. Kalau ukuran itu yang kita pakai untuk menilai kepemimpinan yang sedang kita jalankan, atau yang sedang kita ikuti, apa yang berubah dari penilaian kita? Dua sifat penutupnya (رَءُوفٌ رَحِيمٌ) muncul di sembilan ayat, dan di hampir seluruhnya keduanya dipakai untuk Allah. Di sini pasangan itu dipakai untuk seorang manusia. Perbandingan itu tidak menyamakan keduanya, tapi ia menaruh sifat yang biasanya menerangkan Allah pada orang yang diutus-Nya, dan pemakaian seperti itu tidak diberikan kepada utusan lain mana pun di dalam mushaf ini.
- Surah ini adalah surah yang paling banyak berisi ketentuan tentang peperangan dan tentang orang munafik, dan satu-satunya surah yang tidak dibuka dengan basmalah. Ayat ini berdiri di urutan kedua dari akhir, dan isinya seluruhnya tentang kelembutan seorang utusan. Apa yang dikerjakan penempatan itu? Ia menutup bacaan yang paling mudah diambil dari surah sepanjang ini, yaitu bahwa yang dituntut adalah kekerasan. Allah meletakkan gambaran tentang perasaan utusan-Nya justru di halaman terakhir, sesudah semua ketentuan yang berat sudah selesai dibacakan.
- Tiga sifat pertama disebut tanpa menyebutkan kepada siapa ia tertuju, sehingga cakupannya seluruh yang disapa. Sifat keempat berbeda: ia dibatasi kepada orang-orang mukmin. Perbedaan itu mudah terlewat padahal ia disengaja. Beratnya merasakan penderitaan dan keinginan akan kebaikan berlaku kepada semua yang mendengar, termasuk yang menolak. Yang dibatasi cuma sifat terakhir. Susunan seperti itu menyediakan ukuran untuk siapa pun yang memikul kepemimpinan: kepedulian diulurkan seluas-luasnya, sedangkan kedekatan tetap punya bentuknya sendiri.