فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Maka jika mereka berpaling, katakanlah, “Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy yang agung.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَfa-in tawallaw fa-qul hasbiya llaahu laa ilaaha illaa huwamaka jika mereka berpaling, katakanlah, cukuplah Allah bagiku, tidak ada tuhan selain Dia
- عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُalayhi tawakkaltuhanya kepada-Nya aku bertawakal
- وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِwa-huwa rabbu l-arshi l-azhiimidan Dia adalah Tuhan pemilik 'Arasy yang agung
Catatan pilihan kata (ringkas)
azhiim diterjemahkan 'agung' (takrif diterjemahkan 'Sang Agung'; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama passthrough. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. Lih.. sebagian penerjemah: 'Then if they turn away, say thou: “God is sufficient for me; there is no god save He.1 In Him have I placed my trust, and He is Lord of the Great Throne.”' Akar akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.
Aplikasi
Penutup surah dengan formula ketenangan yang sudah familiar: 'Cukuplah Allah bagiku... Dia Tuhan pemilik Arasy yang agung', sikap tawakal sebagai jangkar penutup setelah rangkaian panjang menghadapi kemunafikan dan pengkhianatan. Konkretnya: setelah menghadapi rangkaian panjang kekecewaan atau pengkhianatan dari orang lain, kembali kepada fondasi kepercayaan yang stabil (bukan larut dalam kepahitan) adalah cara menutup babak sulit dengan ketenangan, bukan dendam berkepanjangan.