وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Dan apabila kesusahan menimpa manusia, ia menyeru Kami dalam keadaan berbaring, atau duduk, atau berdiri. Maka ketika Kami hilangkan kesusahannya darinya, ia berlalu seakan-akan ia tidak pernah menyeru Kami untuk kesusahan yang menimpanya. Demikianlah dihiasi bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُwa-idzaa massa l-insaana d-durru da'aanaa li-janbihi aw qaa'idan aw qaa'iman fa-lammaa kashafnaa anhu durrahu marra ka-an lam yad'unaa ilaa durrin massahudan apabila kesusahan menimpa manusia, ia menyeru Kami dalam keadaan berbaring, atau duduk, atau berdiri, maka ketika Kami hilangkan kesusahannya darinya, ia berlalu seakan-akan ia tidak pernah menyeru Kami untuk kesusahan yang menimpanya
- كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَka-dzaalika zuyyina li-l-musrifiina maa kaanuu ya'maluunademikianlah dihiasi bagi orang-orang yang melampaui batas apa yang mereka kerjakan
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar m-s-s, a-n-s, d-r-r, d-'-w, j-n-b, q-'-d, q-w-m, k-sh-f, m-r-r, z-y-n, s-r-f, k-w-n, '-m-l): massa diterjemahkan 'menimpa/menyentuh' (akar m-s-s putaran MSS); durr diterjemahkan 'kesusahan' (akar d-r-r); da'aanaa diterjemahkan 'menyeru Kami' (akar d-'-w, seruan kepada Allah saat susah); kashafnaa diterjemahkan 'menghilangkan' (akar k-sh-f); musrifiin diterjemahkan 'yang melampaui batas' (akar s-r-f). gloss '(ke jalan yang sesat)/(menghilangkan)' dibuang.
Aplikasi
Pola yang sudah dikenal diulang dengan detail vivid: memanggil dalam segala posisi (berbaring, duduk, berdiri) saat kesusahan, lalu 'berlalu seakan-akan ia tidak pernah menyeru' begitu kesusahan hilang. Konkretnya: intensitas permohonan saat krisis (memanggil dalam kondisi apa pun) sebaiknya menjadi pengingat komitmen yang perlu dijaga konsisten setelah krisis lewat, mencatat secara sadar seberapa mendesak sebuah permohonan terasa saat sulit membantu menjaga rasa syukur setelah pertolongan datang.