ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
Kemudian Kami jadikan kalian pengganti-pengganti di bumi setelah mereka, untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ جَعَلْنَاكُمْ خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ مِنْ بَعْدِهِمْ لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَtsumma ja'alnaakum khalaa'ifa fii l-ardhi min ba'dihim li-nanzhura kayfa ta'maluunakemudian Kami jadikan kalian pengganti-pengganti di bumi setelah mereka, untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat
Terjemahan per kata (10 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- جَعَلْنَاكُمْja'alnaakumKami menjadikan kalian
- خَلَائِفَkhalaa'ifapara khalifah
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- مِنْmindari
- بَعْدِهِمْba'dihimsesudah mereka
- لِنَنْظُرَli-nanzhuraagar Kami melihat
- كَيْفَkayfabagaimana
- تَعْمَلُونَta'maluunakalian kerjakan
Inti bacaan
Setiap generasi baru diberi kesempatan evaluasi sendiri: 'Kami jadikan kalian pengganti-pengganti. untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat', bukan dihakimi berdasarkan pendahulu, melainkan dinilai dari tindakan sendiri. Konkretnya: setiap generasi atau individu baru mendapat kesempatan evaluasi yang independen dari catatan pendahulunya, warisan sejarah (baik atau buruk) tidak menentukan penilaian atas pilihan yang dibuat sekarang; setiap orang tetap dinilai dari tindakannya sendiri.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut kedudukan dan alasannya dalam satu kalimat, tanpa dipisahkan.
Sebutannya “pengganti-pengganti di bumi” (خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ, khalaa'ifa fi l-ardhi). Bentuk jamak ini muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 10:14, 10:73, 35:39), dan dua di antaranya berada di surah ini. Tempat yang ditempati disebut bekas pakai: “setelah mereka”. Yang berdiri di sana sekarang berdiri di atas jejak orang yang sudah pergi, dan itu disebutkan lebih dahulu daripada apa pun yang akan mereka kerjakan.
Tujuannya dinyatakan langsung, yaitu “untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat” (لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ, li-nanzhura kayfa ta'maluuna). Yang diperhatikan disebut “bagaimana”, bukan “apa”. Bukan hasil yang dicapai, melainkan cara mengerjakannya.
Karena keduanya diletakkan dalam satu kalimat, kedudukan itu tak pernah berdiri sendiri sebagai pemberian. Ia datang bersama pertanyaan yang sedang diajukan lewat pemberian itu, dan pertanyaannya berjalan terus selama kedudukan itu masih dipegang.
Rumusan tujuannya tak terulang. Rangkaian “untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat” (لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ, li-nanzhura kayfa ta'maluuna) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata tanya yang dipakai menanyakan cara, bukan hasil, dan perbedaan itu menentukan seluruh bacaannya.
Kalau yang ditanyakan hasil, maka orang yang keadaannya sempit sejak awal berada pada kedudukan yang tidak adil, sebab hasil bergantung pada banyak hal yang tidak ia kuasai. Kalau yang ditanyakan cara, maka kedudukan semua orang menjadi setara, sebab cara adalah satu-satunya bagian yang sepenuhnya berada di tangan yang menjalaninya.
Sebutan yang dipakai untuk kedudukan mereka muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 10:14, 10:73, 35:39), dan dua di antaranya berada di surah ini. Yang satu lagi di surah ini dipakai untuk orang-orang yang selamat dari kaum Nuh (10:73). Jadi kata yang sama menyebut generasi yang binasa digantikan dan generasi yang sekarang membaca, dan kesamaan sebutan itu menempatkan pembacanya di dalam barisan yang sama.
Keterangan bahwa tempat itu ditempati sesudah orang lain pun disebut lebih dahulu daripada tujuannya. Urutan itu berarti. Sebelum diberi tahu untuk apa ia ada di sana, pembacanya diberi tahu bahwa tempat itu bekas pakai. Kesadaran bahwa seseorang berdiri di atas jejak orang yang sudah pergi mengubah cara ia memandang kedudukannya sendiri, dan ayat ini menaruh kesadaran itu di depan. Yang menempati tempat bekas pakai tahu bahwa ia pun akan digantikan.
Tafsiran
Status pengganti generasi terdahulu membawa fungsi ujian, yaitu untuk Kami lihat bagaimana kalian berbuat, bukan kenaikan status tanpa tanggung jawab, melainkan kesempatan baru yang dievaluasi dengan standar yang sama. Yang menentukan seluruh bacaan ayat ini adalah satu kata tanya.
Yang ditanyakan bagaimana, bukan apa. Perbedaan itu memindahkan ukuran dari hasil ke cara. Sebuah ukuran yang berdasarkan hasil selalu tidak adil, sebab hasil bergantung pada keadaan, bekal, dan zaman yang tidak dipilih seseorang. Sebuah ukuran yang berdasarkan cara berlaku setara bagi semua, sebab cara adalah satu-satunya bagian yang sepenuhnya berada di tangan yang menjalaninya.
Keterangan bahwa tempat itu ditempati sesudah orang lain disebut lebih dahulu daripada tujuannya, dan urutan itu bekerja pada pembacanya. Sebelum diberi tahu untuk apa ia ada di sana, ia diberi tahu bahwa tempat itu bekas pakai. Orang yang sadar sedang berdiri di atas jejak orang yang sudah pergi memandang kedudukannya dengan cara yang berbeda dari orang yang merasa memulai segalanya.
Yang paling mengikat, kedudukan dan tujuannya disebut dalam satu kalimat tanpa dipisah. Pemberian itu tidak pernah berdiri sendiri sebagai hadiah, dan pertanyaan yang menyertainya tidak menunggu di akhir melainkan berjalan bersamanya. Selama kedudukan itu masih dipegang, pertanyaannya masih berlangsung, dan itu berlaku pada hari ini juga.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut Dia menjadikan kalian pengganti di bumi setelah mereka. Tempat itu bekas pakai. Yang menempatinya sekarang berdiri di atas jejak yang sudah pergi. Rangkaian itu (خَلَائِفَ فِي الْأَرْضِ) muncul di dua ayat, di sini dan di 35:39, sedangkan bentuk katanya sendiri (خَلَائِفَ) muncul di empat ayat, yaitu 6:165, 10:14, 10:73, dan 35:39. Dua dari empat ada di surah ini, berjarak lima puluh sembilan ayat, dan yang kedua menyebut kaum Nuh yang selamat sebagai penerus. Jadi kata ini selalu dipasang tepat pada titik satu kelompok mengambil tempat kelompok yang sudah lewat.
- Tujuan yang Allah sebut untuk melihat bagaimana kalian berbuat. Bukan apa yang kalian capai. Yang diperhatikan caranya, dan itu terus berlangsung sepanjang giliran ini. Rangkaian itu (لِنَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Yang disebut sebagai tujuan bukan hasil melainkan cara. Perbedaannya besar. Hasil bisa dinilai tanpa mengetahui bagaimana ia diperoleh, sedangkan cara cuma bisa dinilai dengan menyaksikan seluruh prosesnya, dan kata yang dipakai memang kata untuk memandang, bukan untuk menghitung.
- Allah menyebut pemberian tempat dan tujuannya dalam satu kalimat. Tak dipisah. Kedudukan yang diterima seseorang adalah juga soal yang sedang diajukan kepadanya. Kalimat sependek ini memuat pemberian dan tujuannya sekaligus, tanpa jeda satu kata pun di antara keduanya. Susunan seperti itu menutup satu jarak yang biasanya panjang, yaitu jarak antara menerima sesuatu dan menyadari untuk apa ia diberikan. Kebanyakan orang baru mencari tujuan sesudah lama memegang, dan pencarian itu sering datang terlambat.
- Allah menyebut tujuannya melihat bagaimana kalian berbuat, bukan apa yang kalian capai. Kalau yang diperhatikan memang caranya dan bukan hasilnya, berapa banyak dari yang kita banggakan sebenarnya tidak sedang dinilai sama sekali? Ada satu hal yang tidak disebutkan ayat ini, dan ketiadaannya berarti. Tidak disebutkan apa yang harus dikerjakan. Tidak ada satu pun perintah di dalamnya. Yang ada cuma keterangan tentang kedudukan dan tentang pengamatan. Apa yang tersisa untuk pembacanya? Tersisa seluruh kemungkinan perbuatan, dan pengetahuan bahwa yang mana pun yang dipilih akan disaksikan.
- Kalimat ini menyebut bahwa kedudukan itu diberikan sesudah mereka, dan mereka tidak dinamai di ayat ini. Yang dimaksud disebutkan di ayat sebelumnya, yaitu kaum yang dibinasakan ketika berbuat zalim. Pembaca harus menoleh satu ayat ke belakang untuk mengetahuinya. Apa yang dikerjakan penyebutan tanpa nama itu? Ia membuat kalimat ini tetap berlaku pada setiap pembaca di zaman mana pun, sebab setiap generasi punya pendahulu yang tempatnya kini ditempati, dan tak seorang pun bisa berkata bahwa ayat ini menyangkut orang lain.
- Ayat ini dibuka dengan kata yang menandai jeda waktu, bukan dengan kata yang menandai kelanjutan langsung. Antara binasanya kaum terdahulu dan ditempatkannya kaum berikutnya ada rentang. Rentang itu bukan hiasan cerita. Ia menandai bahwa penggantian tidak terjadi seketika, dan bahwa kaum yang menggantikan tidak menyaksikan sendiri apa yang menimpa pendahulunya. Allah menyampaikannya lewat kabar, bukan lewat penyaksian, dan sejak itu setiap kaum menerima keterangan yang sama dengan cara yang sama.