كَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

Demikianlah, telah pasti kalimat Tuhanmu atas orang-orang yang berbuat fasik, bahwa sesungguhnya mereka tidak beriman.

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. كَذَٰلِكَ حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَka-dzaalika haqqat kalimatu rabbika alaa lladziina fasaquu annahum laa yu'minuunademikianlah, telah pasti kalimat Tuhanmu atas orang-orang yang berbuat fasik, bahwa sesungguhnya mereka tidak beriman
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar h-q-q, k-l-m, r-b-b, f-s-q, a-m-n): haqqat kalimatu rabbik diterjemahkan 'pasti/berlaku kalimat Tuhanmu' (akar h-q-q + akar k-l-m KLM); fasaquu diterjemahkan 'berbuat fasik' (akar f-s-q). gloss '(berlaku)/(ketentuan)' dibuang.

Aplikasi

Prinsip yang berlaku: pembangkangan yang menetap ('berbuat fasik') secara konsisten dikaitkan dengan ketidakmampuan/keengganan beriman, sebuah pola sebab-akibat yang sudah 'pasti' berdasarkan pengamatan berulang. Konkretnya: pola pembangkangan yang sudah menetap dan berulang cenderung menghasilkan hasil yang bisa diprediksi (penolakan yang terus berlanjut), mengenali kapan sebuah pola sudah menjadi 'pasti' berdasarkan riwayat berulang membantu mengelola ekspektasi realistis, bukan terus berharap perubahan tanpa dasar.