وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا ۚ إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَ

Kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Sesungguhnya dugaan itu sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Sesungguhnya Allah berilmu akan apa yang mereka lakukan.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّاwa-maa yattabi'u aktsaruhum illaa zhannankebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan
  2. إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًاinna zh-zhanna laa yughnii mina l-haqqi syay'ansesungguhnya dugaan itu sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran
  3. إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا يَفْعَلُونَinna llaaha 'aliimun bi-maa yaf'aluunasesungguhnya Allah berilmu akan apa yang mereka lakukan

Terjemahan per kata (17 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. يَتَّبِعُyattabi'umengikuti
  3. أَكْثَرُهُمْaktsaruhumkebanyakan mereka
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. ظَنًّاzhannansangkaan
  6. إِنَّinnasesungguhnya
  7. الظَّنَّzh-zhannasangkaan
  8. لَاlaatidak
  9. يُغْنِيyughniimencukupkan
  10. مِنَminadari
  11. الْحَقِّl-haqqihak
  12. شَيْئًاsyay'ansedikit pun
  13. إِنَّinnasesungguhnya
  14. اللَّهَllaahaAllah
  15. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  16. بِمَاbi-maaatas apa yang
  17. يَفْعَلُونَyaf'aluunamelakukan

Inti bacaan

Kritik eksplisit terhadap mengandalkan dugaan: 'dugaan itu sedikit pun tidak mencukupkan untuk memperoleh kebenaran', asumsi/spekulasi tanpa dasar tidak setara dengan pengetahuan yang benar-benar diverifikasi. Konkretnya: membedakan antara keyakinan yang benar-benar diverifikasi dan sekadar dugaan/asumsi yang belum diuji adalah kedisiplinan berpikir penting, bertindak berdasarkan dugaan semata (tanpa verifikasi) untuk hal-hal yang berdampak besar adalah risiko yang layak dihindari.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini memisahkan dua hal yang dalam percakapan sehari-hari sering dianggap bertingkat, lalu menyatakan keduanya tidak bertingkat sama sekali.

Yang diikuti kebanyakan orang disebut “dugaan” (ظَنًّا, zhannan), bukan kebohongan dan bukan kesesatan. Bedanya penting. Yang menyesatkan di sini bukan sesuatu yang jelas keliru, melainkan sesuatu yang belum diperiksa. Dugaan bisa saja kebetulan benar, dan itu justru yang membuatnya sulit ditinggalkan.

Ukuran yang dipakai tegas: dugaan “sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran” (لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا, laa yughnii mina l-haqqi syay'an). Bukan kurang mencukupi, melainkan nol. Yang hampir benar dan yang benar tidak diletakkan pada satu tangga yang sama. Kalimat itu diulang dengan kata yang persis sama di satu tempat lain (53:28), dan di sana ia dipakai untuk menilai orang yang berbicara tentang perkara gaib tanpa pengetahuan. Dua tempat, dua pokok bahasan, satu ukuran yang sama.

Yang disebut pertama adalah jumlah, yaitu “kebanyakan mereka”. Banyaknya pengikut disebutkan lebih dahulu, lalu dinyatakan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kedudukan dugaan itu. Penutupnya menghadapkan keadaan mereka dengan Allah yang berilmu akan apa yang mereka lakukan: yang berdiri di atas dugaan dihadapkan kepada Yang berdiri di atas pengetahuan.

Penutup ayat ini memakai rumusan yang muncul dua kali di dalam Al-Qur'an, yaitu Dia berilmu akan apa yang mereka lakukan (10:36, 24:41). Yang menarik pada pemakaiannya di sini adalah perbandingan yang dibangun tanpa diucapkan. Sepanjang ayat, keadaan mereka digambarkan sebagai berdiri di atas dugaan. Lalu di kalimat terakhir disebut pihak yang berdiri di atas pengetahuan. Dua keadaan itu tidak pernah dinyatakan berlawanan secara terang-terangan; keduanya hanya diletakkan berdampingan, dan pembacanya yang menyusun sendiri jaraknya.

Ada satu hal lagi pada kata yang dipakai untuk kegiatan mereka. Yang disebut bukan mempercayai dan bukan meyakini, melainkan mengikuti. Kata itu menggambarkan gerakan di belakang sesuatu yang berjalan lebih dahulu. Dugaan diperlakukan sebagai sesuatu yang memimpin, dan orang-orang itu berjalan di belakangnya. Gambaran semacam ini menerangkan mengapa banyaknya pengikut tidak mengubah apa pun: rombongan yang besar tetap menuju ke mana pemimpinnya menuju, dan jumlah tidak memperbaiki arah.

Ayat berikutnya menutup celah yang mungkin tersisa. Di 10:37 disebut bahwa kitab ini tidak mungkin dibuat-buat oleh selain Allah, dan bahwa ia menjelaskan Kitab secara terperinci. Jadi sesudah dugaan dinyatakan tidak mencukupkan, disebutlah apa yang mencukupkan. Urutan itu penting: sesuatu tidak ditolak lalu dibiarkan kosong, melainkan ditolak lalu digantikan.

Tafsiran

Ayat ini memisahkan dua hal yang dalam percakapan sehari-hari selalu diletakkan pada satu tangga, lalu menyatakan bahwa tangga itu tidak ada. Yang hampir benar dan yang benar biasanya dianggap bertetangga, dan orang merasa aman selama ia berada di dekat kebenaran. Ayat ini menutup rasa aman itu dengan satu kata: sedikit pun tidak mencukupkan.

Yang membuat pernyataan ini berat adalah pilihan kata untuk apa yang mereka ikuti. Bukan kebohongan, bukan kesesatan, bukan kejahatan. Yang disebut dugaan, dan dugaan adalah sesuatu yang bisa dipegang orang jujur dengan hati bersih. Ia bahkan bisa kebetulan benar. Justru itu yang membuatnya sulit dilepaskan: tidak ada rasa bersalah yang menyertainya, dan tidak ada tanda yang memberi peringatan bahwa seseorang sedang berdiri di atasnya.

Susunan ayatnya memperkuat hal itu dengan menyebut jumlah lebih dahulu. Kebanyakan mereka, kata ayat ini, dan baru sesudah itu ukurannya dinyatakan. Urutan seperti ini menjawab pembelaan yang paling sering muncul sebelum pembelaan itu sempat diucapkan. Banyaknya orang yang memegang sesuatu terasa seperti bukti, padahal ia hanya keterangan tentang berapa banyak yang memegangnya. Kalau dasarnya dugaan, bertambahnya pemegang tidak mengubah dasarnya.

Penutupnya menaruh dua keadaan bersebelahan tanpa memberi tanda perbandingan. Di satu pihak orang-orang yang berdiri di atas dugaan; di pihak lain Dia yang berilmu akan apa yang mereka lakukan. Tidak ada kata yang menghubungkan keduanya sebagai lawan, dan tidak perlu ada. Jaraknya cukup terlihat oleh siapa pun yang membaca keduanya berturut-turut, dan ayat sesudahnya (10:37) menyebut apa yang menggantikan dugaan itu, sehingga penolakannya tidak berakhir sebagai kekosongan. Dugaan dikontraskan langsung dengan kebenaran sebagai dua kategori yang tak bisa saling menggantikan: betapapun banyak yang mengikutinya, jumlah pengikut tidak mengubah status epistemik sebuah dugaan menjadi kebenaran.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut kebanyakan mereka hanya mengikuti dugaan. Bukan kebohongan. Yang menyesatkan bukan sesuatu yang jelas salah, melainkan sesuatu yang belum diperiksa. Yang disebut bukan kebohongan dan bukan kesengajaan. Dugaan adalah sesuatu yang dipegang tanpa dasar yang cukup, dan orang yang memegangnya bisa sepenuhnya jujur. Justru kejujurannya yang membuatnya bertahan lama. Sebuah kebohongan runtuh begitu terbukti; sebuah dugaan tidak pernah diuji, sebab pemiliknya tidak merasa sedang memegang sesuatu yang perlu diuji.
  • Allah menyebut dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran. Nol, bukan sebagian. Yang mendekati benar dan yang benar dipisahkan sepenuhnya, bukan bertingkat. Rangkaian itu (لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا) muncul di dua ayat, di sini dan di 53:28, dan di kedua tempat ia menutup pembicaraan tentang orang yang mengikuti dugaan dalam perkara yang paling menentukan. Jadi kalimat ini bukan pernyataan umum tentang dugaan dalam segala hal; ia khusus dipasang pada perkara kebenaran.
  • Allah menutup dengan menyebut Dia berilmu akan apa yang mereka lakukan. Perbandingan yang diam-diam. Yang berdiri di atas dugaan dihadapkan pada Yang berdiri di atas ilmu. Penutupnya menyebut pengetahuan Allah tentang perbuatan mereka, bukan tentang dugaan mereka. Perpindahan itu mudah terlewat. Sepanjang ayat yang dibicarakan adalah apa yang mereka ikuti di dalam kepala, dan di kalimat terakhir yang disebut justru apa yang mereka kerjakan dengan tangan. Dugaan yang dipegang cukup lama selalu berpindah menjadi perbuatan, dan di titik itulah ia bisa dihitung.
  • Allah menyatakan dugaan sedikit pun tidak mencukupkan terhadap kebenaran, dan menyebut banyaknya pengikut lebih dahulu supaya jelas bahwa jumlah tidak mengubah apa pun. Berapa banyak dari yang kita pegang hari ini sebenarnya belum pernah kita periksa, dan bertahan semata karena banyak orang memegangnya juga? Kata yang dipakai menandai ketiadaan sama sekali, bukan kekurangan. Ukuran seperti itu menolak pembacaan yang paling wajar, yaitu bahwa dugaan yang kuat lebih baik daripada dugaan yang lemah. Menurut kalimat ini keduanya sama-sama nol terhadap kebenaran. Apakah itu berarti dugaan tidak berguna sama sekali? Bukan begitu. Ia berguna di tempat yang memang menerima kemungkinan, dan yang ditolak di sini cuma memakainya sebagai pengganti kebenaran.
  • Ayat ini menyebut kebanyakan mereka, bukan mereka semua. Pembatas itu kecil dan mudah dilewati padahal ia menentukan. Sebuah kalimat tentang semua orang menghasilkan golongan yang tertutup, dan pembacanya tinggal menempatkan diri di luar golongan itu. Sebuah kalimat tentang kebanyakan meninggalkan celah yang tidak bisa ditunjuk, dan celah itu memaksa pembacanya memeriksa apakah ia berada di dalamnya. Allah memakai pembatas yang sama di banyak tempat, dan pembatas itu hampir selalu diletakkan pada golongan yang sedang dicela.
  • Kata kerja yang dipakai untuk sikap mereka adalah kata untuk mengikuti, dan mengikuti mengandaikan ada yang berjalan di depan. Apa yang berjalan di depan sebuah dugaan? Tidak ada. Dugaan tidak menuju ke mana-mana; ia lahir di dalam kepala orang yang memegangnya dan bergerak ke arah yang sudah dikehendakinya. Jadi yang digambarkan ayat ini bukan orang yang tersesat karena mengikuti penuntun yang salah, melainkan orang yang mengikuti bayangannya sendiri sambil merasa sedang berjalan di belakang sesuatu. Allah menutup ayat ini dengan menyebut pengetahuan-Nya atas perbuatan mereka, dan perbuatan adalah satu-satunya bagian dari keadaan itu yang meninggalkan jejak.