قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا ۗ سُبْحَانَهُ ۖ هُوَ الْغَنِيُّ ۖ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَٰذَا ۚ أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Mereka berkata, “Allah mengangkat anak.” Mahasuci Dia. Dia berkecukupan. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Kalian tidak mempunyai alasan kuat tentang ini. Pantaskah kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui?
Terjemahan bertahap (6 jeda)
- قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًاqaaluu ttakhadza llaahu waladanmereka berkata, Allah mengangkat anak
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- هُوَ الْغَنِيُّhuwa l-ghaniyyuDia berkecukupan
- لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِlahu maa fii s-samaawaati wa-maa fii l-ardhimilik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi
- إِنْ عِنْدَكُمْ مِنْ سُلْطَانٍ بِهَٰذَاin 'indakum min sulthaanin bi-haadzaakalian tidak mempunyai alasan kuat tentang ini
- أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَa-taquuluuna 'alaa llaahi maa laa ta'lamuunapantaskah kalian mengatakan tentang Allah apa yang tidak kalian ketahui
Terjemahan per kata (25 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- اتَّخَذَttakhadzamengambil
- اللَّهُllaahuAllah
- وَلَدًاwaladananak
- سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
- هُوَhuwaDia
- الْغَنِيُّl-ghaniyyuMahakaya
- لَهُlahubaginya
- مَاmaaapa yang
- فِيfiidi
- السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
- وَمَاwa-maadan apa yang
- فِيfiidi
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- إِنْinjika
- عِنْدَكُمْ'indakumdi sisi kalian
- مِنْmindari
- سُلْطَانٍsulthaaninketerangan
- بِهَٰذَاbi-haadzaadengan ini
- أَتَقُولُونَa-taquuluunaapakah kalian mengatakan
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- مَاmaaapa yang
- لَاlaatidak
- تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui
Inti bacaan
Argumen logis: kecukupan diri sepenuhnya (al-ghaniyy, tidak membutuhkan apa pun) menjadi dasar penolakan konsep kebutuhan akan keturunan, kebutuhan akan kelangsungan lewat anak hanya relevan bagi yang terbatas dan fana. Konkretnya: kebutuhan akan warisan/kelangsungan lewat sesuatu di luar diri (anak, karya, nama) adalah ciri dari keterbatasan, memahami perbedaan antara yang benar-benar berkecukupan dan yang masih membutuhkan legacy eksternal membantu menilai klaim tentang apa yang sesungguhnya 'lengkap' tanpa kekurangan.
Tafsiran
Argumen ini menyusun tiga langkah, kesucian Allah dari klaim beranak, kecukupan-Nya yang membuat klaim itu tak masuk akal (mengapa yang serba berkecukupan butuh anak?), dan kepemilikan mutlak atas alam semesta, sebelum menutup dengan tantangan langsung: klaim macam ini butuh dasar, dan tak ada satu pun yang ditunjukkan.
Renungan dan Hikmah
- Yang pertama datang bukan bantahan, melainkan Mahasuci Dia. Sebuah penyucian, bukan alasan. Allah menjawab tuduhan tentang diri-Nya dengan lebih dahulu menegaskan kedudukan, baru kemudian menalar.
- Alasan yang diberikan Dia berkecukupan. Yang tidak kekurangan apa pun tidak memerlukan penerus. Kebutuhan akan keturunan memang keterangan tentang yang membutuhkannya, bukan tentang kebesarannya.
- Yang diminta dari mereka alasan kuat, bukan tobat lebih dahulu. Allah menuntut dasar. Sebuah keyakinan yang tak pernah diminta pertanggungjawabannya biasanya tumbuh karena tak seorang pun pernah menanyakannya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
kata-kata akar -l-m di ayat ini (mengetahui/ilmu/mengajarkan/lebih-mengetahui) mengikuti profil terjemahan lain yang sudah selaras;: kamu/-mu jamak diterjemahkan kalian (kelas morfologi corpus: murni-2MP). Konvensi lm: C1 aliim diterjemahkan 'berilmu', C2 aalamiin diterjemahkan 'seisi alam', C3 verba/nomina = pemakaian diteruskan terjemahan lain (selaras).