فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۖ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ
Mereka mendustakannya. Lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal, serta Kami jadikan mereka sebagai generasi penerus, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Kami. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَكَذَّبُوهُ فَنَجَّيْنَاهُ وَمَنْ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَجَعَلْنَاهُمْ خَلَائِفَ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَاfa-kadzdzabuuhu fa-najjaynaahu wa-man ma'ahu fii l-fulki wa-ja'alnaahum khalaa'ifa wa-aghraqnaa lladziina kadzdzabuu bi-aayaatinaamereka mendustakannya, lalu Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal, serta Kami jadikan mereka sebagai generasi penerus, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Kami
- فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَfa-nzhur kayfa kaana 'aaqibatu l-mundzariinamaka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang diberi peringatan
Terjemahan per kata (17 kata)
- فَكَذَّبُوهُfa-kadzdzabuuhulalu mereka mendustakannya
- فَنَجَّيْنَاهُfa-najjaynaahumaka Kami selamatkan dia
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- مَعَهُma'ahubersamanya
- فِيfiidi dalam
- الْفُلْكِl-fulkikapal
- وَجَعَلْنَاهُمْwa-ja'alnaahumdan Kami menjadikan mereka
- خَلَائِفَkhalaa'ifapara khalifah
- وَأَغْرَقْنَاwa-aghraqnaadan Kami menenggelamkan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- كَذَّبُواkadzdzabuumendustakan
- بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
- فَانْظُرْfa-nzhurmaka perhatikanlah
- كَيْفَkayfabagaimana
- كَانَkaanaadalah
- عَاقِبَةُ'aaqibatukesudahan
- الْمُنْذَرِينَl-mundzariinaorang-orang yang diperingatkan
Inti bacaan
Keselamatan Nuh dan pengikutnya dibingkai sebagai penerus tanggung jawab ('generasi penerus'), bukan sekadar keberuntungan lolos dari bencana, kelangsungan hidup disertai amanah, bukan hadiah tanpa konsekuensi. Konkretnya: diberi kesempatan hidup atau kesempatan baru setelah melewati masa sulit sebaiknya dipandang sebagai amanah untuk melanjutkan sesuatu yang bermakna, bukan sekadar keberuntungan yang bisa dinikmati tanpa tanggung jawab lanjutan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menyebut tiga pekerjaan berurutan, lalu berhenti untuk menyuruh memperhatikan hasilnya.
Ketiganya disebut sebagai perbuatan satu pihak: menyelamatkan, menjadikan mereka generasi penerus, dan menenggelamkan yang mendustakan. Mereka yang selamat diberi kedudukan baru dalam rangkaian perbuatan yang sama.
Sebutan yang dipakai untuk mereka “generasi penerus” (خَلَائِفَ, khalaa'ifa), kata yang sama dengan yang dipakai di ayat lain dalam surah ini untuk menyebut kedudukan orang yang sedang hidup sekarang (10:14). Bentuk jamak itu seluruhnya muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 10:14, 10:73, 35:39). Karena dua di antaranya berada di surah ini, susunannya membaca sendiri: yang selamat dari satu kaum menjadi penerus, dan yang membaca ayat ini pun disebut dengan kata yang sama. Tempat yang kosong tidak pernah dibiarkan kosong.
Penutupnya berupa perintah memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sudah diberi peringatan, tidak berupa kesimpulan. Pembaca diminta menengok ujungnya sendiri. Ajakannya berupa pemeriksaan, bukan permintaan percaya.
Perintah penutupnya memakai rangkaian yang muncul dua kali di dalam Al-Qur'an. Susunan “kesudahan orang-orang yang diberi peringatan” (عَاقِبَةُ الْمُنْذَرِينَ, 'aaqibatu l-mundzariina) muncul di dua tempat (10:73, 37:73). Pembaca disuruh memperhatikan kesudahan orang yang sudah diperingatkan. Sebutan itu mencakup kedua belah pihak, yaitu yang selamat dan yang tenggelam, sebab keduanya sama-sama pernah diperingatkan.
Tiga pekerjaan yang disebut sebelumnya pun disusun dengan urutan yang tidak biasa. Menyelamatkan disebut lebih dahulu, lalu memberi kedudukan, baru menenggelamkan. Kalau maksudnya menakut-nakuti, urutan sebaliknya lebih kuat. Susunan ini menaruh penyelamatan dan pemberian kedudukan di depan, sehingga penenggelaman terbaca sebagai akibat yang menyusul dan tidak menjadi pokok cerita.
Sebutan bagi mereka yang selamat sama dengan sebutan yang dipakai untuk generasi yang sekarang (10:14). Kata itu (خَلَائِفَ, khalaa'ifa) muncul empat kali di dalam Al-Qur'an (6:165, 10:14, 10:73, 35:39), dan dua di antaranya berada di surah ini. Orang yang selamat dari sebuah kebinasaan dan orang yang sekarang membaca ayat ini disebut dengan kata yang sama, sehingga kedudukan itu terbaca sebagai sesuatu yang berpindah terus, tidak diberikan sekali.
Bentuk perintahnya pun tunggal, bukan jamak. Perintah memperhatikan itu berbentuk perintah kepada satu orang. Sebuah pemeriksaan yang diperintahkan secara perorangan tidak bisa diserahkan kepada kesimpulan bersama, dan itu sejalan dengan bentuk seluruh ajakannya, yaitu memeriksa, bukan menerima.
Tafsiran
Penyelamatan disertai status generasi penerus menegaskan pola berulang di surah ini: mereka yang selamat mewarisi tanggung jawab baru, tidak berhenti pada lolos dari bencana yang menimpa yang mendustakan. Urutan penyebutannya yang menjadikannya demikian.
Menyelamatkan disebut lebih dahulu, memberi kedudukan menyusul, dan menenggelamkan disebut paling akhir. Kalau maksudnya menakut-nakuti, urutan sebaliknya jauh lebih kuat. Susunan ini menaruh dua perbuatan yang membangun di depan, sehingga yang membinasakan terbaca sebagai akibat yang menyusul dan bukan sebagai pokok ceritanya.
Sebutan bagi mereka yang selamat paling mengubah kedudukan pembaca. Kata itu sama dengan kata yang dipakai di 10:14 untuk generasi yang sekarang membaca. Kalau yang selamat dari kebinasaan dan yang sedang membaca disebut dengan kata yang sama, maka kisah ini bukan tentang orang lain di masa lalu. Pembacanya diletakkan di dalam barisan yang sama, dan barisan itu terus berpindah.
Perintah penutupnya menyebut kesudahan orang-orang yang diperingatkan, bukan kesudahan orang-orang yang mendustakan. Perbedaan sebutan itu penting. Pembaca diminta memperhatikan bagaimana peringatan yang sama berakhir berbeda pada orang yang berbeda. Dan bentuk perintahnya tunggal, ditujukan kepada seorang, sehingga pemeriksaan itu tidak bisa diserahkan kepada kesimpulan bersama.
Renungan dan Hikmah
- Allah menyebut Dia menyelamatkan, menjadikan mereka generasi penerus, lalu menenggelamkan yang mendustakan. Tiga. Mereka yang selamat diberi giliran. Tiga perbuatan itu disebut dalam satu kalimat dengan pelaku yang sama, dan urutannya tidak bisa ditukar. Menyelamatkan lebih dulu, menjadikan penerus sesudahnya, menenggelamkan yang lain di ujung. Kalau penenggelaman disebut lebih dulu, kisahnya akan terbaca sebagai hukuman yang menyisakan beberapa orang. Dengan urutan yang dipakai di sini, kalimat itu terbaca sebagai penyelamatan yang diikuti penggantian.
- Sebutan yang Dia pakai generasi penerus. Menggantikan yang lenyap. Tempat yang kosong tidak dibiarkan kosong. Bentuk kata yang dipakai (خَلَائِفَ) muncul di empat ayat, dan dua di antaranya di surah ini: 10:14 dan 10:73. Penggunaan pertama menyebut pembaca sebagai penerus kaum yang dibinasakan, penggunaan kedua menyebut kaum Nuh yang selamat sebagai penerus. Dua kali di dalam satu surah kata ini dipakai, dan dua kali pula kata itu menandai tempat yang kosong karena penghuni sebelumnya lenyap.
- Ayat ditutup dengan menyuruh memperhatikan kesudahan orang-orang yang diperingatkan. Pembaca diminta menengok ujungnya. Ajakannya berupa pemeriksaan, bukan penerimaan. Perintah di penutup ayat ini bukan perintah takut dan bukan perintah mengambil pelajaran secara umum. Perintah memperhatikan berarti memandang sesuatu yang sudah terjadi dengan sengaja. Sasaran perhatiannya pun disebut dengan tepat, yaitu kesudahan orang yang sudah diberi peringatan. Sasarannya kesudahan orang yang peringatannya sudah sampai, tidak kesudahan orang jahat pada umumnya.
- Allah tidak berhenti pada menyelamatkan mereka; pada kalimat yang sama Dia menjadikan mereka penerus. Kalau setiap kali kita diselamatkan dari sesuatu selalu ada kedudukan baru yang menyertainya, kedudukan apa yang sedang kita pegang sekarang tanpa menyadarinya? Penyelamatan saja tidak menyelesaikan apa pun kalau tempatnya tidak ada. Orang yang selamat dari banjir tetap memerlukan tanah untuk berpijak sesudah airnya surut. Karena itu dua hal disebut berurutan di dalam satu kalimat: diselamatkan, lalu dijadikan penerus. Menjadikan mereka generasi penerus itu kelanjutan yang tanpanya penyelamatan belum tuntas.
- Seluruh penolakan kaum Nuh diringkas dalam kalimat pembuka yang sangat pendek, yaitu bahwa mereka mendustakannya. Bertahun-tahun seruan, dan seluruh tanggapannya muat dalam satu kalimat. Sesudah itu kalimatnya langsung berpindah ke apa yang Allah kerjakan, dan bagian itu jauh lebih panjang. Perbandingan panjang itu sendiri berbicara. Catatan itu memuat hasilnya, dan hasil sebuah penolakan yang panjang ternyata bisa ditulis lebih pendek daripada penolakannya.
- Pihak yang binasa tidak disebut dengan nama kaum atau dengan sebutan golongan. Mereka disebut sebagai orang-orang yang mendustakan tanda-tanda Kami, yaitu dengan perbuatannya. Penamaan seperti itu punya akibat yang jauh. Sebuah nama kaum berhenti bersama kaumnya, sedangkan sebuah perbuatan bisa dikerjakan siapa pun di zaman mana pun. Allah menutup ayat ini dengan menyuruh memperhatikan kesudahan mereka, dan perintah itu masuk akal kalau kesudahan yang diperhatikan masih mungkin berulang.