Ayat 10:84
وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ
Musa berkata, “Wahai kaumku, jika kalian sungguh-sungguh beriman kepada Allah, bertawakallah hanya kepada-Nya apabila kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَقَالَ مُوسَىٰ يَا قَوْمِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَwa-qaala muusaa yaa qawmi in kuntum aamantum bi-llaahi fa-'alayhi tawakkaluu in kuntum muslimiinaMusa berkata, wahai kaumku, jika kalian sungguh-sungguh beriman kepada Allah, bertawakallah hanya kepada-Nya apabila kalian benar-benar orang-orang yang berserah diri
Terjemahan per kata (13 kata)
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- مُوسَىٰmuusaaMusa
- يَاyaawahai
- قَوْمِqawmikaumku
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- آمَنْتُمْaamantumkalian beriman
- بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
- فَعَلَيْهِfa-'alayhimaka atasnya
- تَوَكَّلُواtawakkaluubertawakallah kalian
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- مُسْلِمِينَmuslimiinaorang-orang yang berserah diri
Inti bacaan
Musa mengarahkan kaumnya pada tawakal sebagai respons terhadap ancaman berat, mempercayakan hasil akhir kepada sumber yang lebih besar setelah usaha maksimal dilakukan, bukan sebagai pengganti usaha.
Tafsiran
Ajakan bertawakal ini disyaratkan pada iman yang sudah ada ('jika kalian sungguh-sungguh beriman'), bukan tuntutan sepihak, melainkan konsekuensi logis dari keimanan yang mereka klaim sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam Musa menyandarkan ajakannya pada pengakuan mereka sendiri. Kalau memang beriman. Maka bertawakallah.
- Yang dituntut bukan iman baru, melainkan lanjutannya. Imannya sudah ada. Akibatnya yang diminta.
- Kata hanya disisipkan Allah pada tawakalnya. Bukan sebagian kepada-Nya. Seluruhnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain menerjemahkan s-l-m di sini via 'muslim'. terjemahan ini menyeragamkan DALAM cabang keberserahan; sisi-keadaan (salaam/saliim) = 'keselamatan/damai', TIDAK diseragamkan lintas cabang. Rollout cabang keberserahan akar s-l-m. 'muslim' diterjemahkan 'orang yang berserah diri' meng-universalkan istilah (bdk QS 3:83: seluruh ciptaan 'aslama'), konsisten dgn sikap keberserahan=orientasi hati, bukan keanggotaan institusi (FDI_FRAMEWORK_DIIN). ' akar s-l-m (slm), cabang KEBERSERAHAN (aslama/islaam/muslim/mustaslim). Diverifikasi corpus Leeds (127 ayat slm; cabang keberserahan 66). Konvensi terjemahan ini: islaam diterjemahkan 'keberserahan(-diri)', aslama diterjemahkan 'berserah diri', muslim diterjemahkan 'orang yang berserah diri'.
Ayat 10:85
فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Maka mereka berkata, “Kepada Allah kami bertawakal. Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi kaum yang zalim.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَقَالُوا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَfa-qaaluu 'alaa llaahi tawakkalnaa rabbanaa laa taj'alnaa fitnatan li-l-qawmi zh-zhaalimiinamaka mereka berkata, kepada Allah kami bertawakal, Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi kaum yang zalim
Terjemahan per kata (10 kata)
- فَقَالُواfa-qaaluulalu mereka berkata
- عَلَى'alaaatas
- اللَّهِllaahiAllah
- تَوَكَّلْنَاtawakkalnaakami bertawakal
- رَبَّنَاrabbanaaTuhan kami
- لَاlaajanganlah
- تَجْعَلْنَاtaj'alnaaEngkau menjadikan kami
- فِتْنَةًfitnatanujian
- لِلْقَوْمِli-l-qawmibagi kaum
- الظَّالِمِينَzh-zhaalimiinayang zalim
Inti bacaan
Permohonan yang bernuansa: bukan hanya 'selamatkan kami', melainkan juga 'janganlah Engkau jadikan kami fitnah bagi kaum yang zalim', kesadaran bahwa nasib sendiri bisa disalahgunakan sebagai pembenaran bagi pihak yang berbuat salah. Konkretnya: mempertimbangkan bukan hanya dampak langsung suatu hasil bagi diri sendiri, tetapi juga bagaimana hasil itu bisa disalahartikan atau dimanfaatkan pihak lain untuk membenarkan kesalahan mereka, adalah kepekaan tambahan yang layak dipertimbangkan saat berdoa atau berharap sesuatu.
Tafsiran
Respons kaum Musa ini menjadikan tawakal bukan sekadar sikap pasif, melainkan permohonan aktif agar tidak dijadikan sasaran ujian oleh kaum zalim: kesadaran bahwa iman mereka sendiri bisa menjadi celah yang dieksploitasi kekuasaan yang menindas.
Renungan dan Hikmah
- Kepada Allah kami bertawakal diucapkan sebelum permintaan apa pun. Sandaran disebut lebih dahulu daripada keperluan. Doa yang dibuka dengan menyebut kepada siapa ia ditujukan menempatkan permintaannya pada kedudukan yang berbeda.
- Yang mereka minta bukan kemenangan, melainkan jangan dijadikan fitnah bagi kaum yang zalim. Kekhawatirannya tentang akibat pada pihak lain. Orang yang sedang terdesak dan masih memikirkan bagaimana nasibnya akan dibaca orang lain sedang menahan sesuatu yang berat.
- Sapaan kepada Allah diselipkan di tengah doa, sesudah tawakal dan sebelum permintaan. Panggilan itu memisah dua bagian. Yang berdiri di antara penyerahan dan permohonan ternyata sebuah panggilan, bukan alasan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar q-w-l, a-l-h, w-k-l, r-b-b, j-'-l, f-t-n, q-w-m, zh-l-m): tawakkalnaa diterjemahkan 'kami bertawakal' (akar w-k-l putaran 61); fitnah diterjemahkan 'fitnah (sasaran cobaan)'; zhaalimiin diterjemahkan 'zalim'. gloss '(sasaran)' dibuang.