وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

Dan sungguh jika Kami cicipkan kepadanya suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya ia berkata, “Telah hilang keburukan itu dariku.” Sesungguhnya ia sangat gembira lagi membanggakan diri,

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّيwa-la-in adzaqnaahu na'maa'a ba'da dharraa'a massatsu la-yaquulanna dzahaba s-sayyi'aatu 'anniidan sungguh jika Kami cicipkan kepadanya suatu nikmat setelah bencana yang menimpanya, niscaya ia berkata, telah hilang keburukan itu dariku
  2. إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌinnahu la-farihun fakhuurunsesungguhnya ia sangat gembira lagi membanggakan diri

Terjemahan per kata (13 kata)

  1. وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
  2. أَذَقْنَاهُadzaqnaahuKami mencicipkan kepadanya
  3. نَعْمَاءَna'maa'anikmat
  4. بَعْدَba'dasesudah
  5. ضَرَّاءَdharraa'akesengsaraan
  6. مَسَّتْهُmassatsumenimpanya
  7. لَيَقُولَنَّla-yaquulannasungguh ia akan berkata
  8. ذَهَبَdzahabapergi
  9. السَّيِّئَاتُs-sayyi'aatukeburukan-keburukan
  10. عَنِّي'anniidariku
  11. إِنَّهُinnahusesungguhnya ia
  12. لَفَرِحٌla-farihunbenar-benar bergembira
  13. فَخُورٌfakhuurunmembanggakan diri

Inti bacaan

Sisi berlawanan didiagnosis: kelimpahan setelah kesulitan memicu 'sangat gembira lagi membanggakan diri', kegembiraan berlebihan yang berubah menjadi kesombongan atas pemulihan. Konkretnya: perhatikan kecenderungan untuk menjadi berlebihan bangga dan sombong saat keadaan membaik setelah masa sulit, baik kehilangan maupun perolehan sama-sama berisiko memicu respons ekstrem (putus asa atau kesombongan); menjaga keseimbangan emosional yang stabil di kedua kondisi adalah kematangan yang lebih sehat daripada terombang-ambing dari satu ekstrem ke ekstrem lain.

Penjelasan pilihan kata

Bagian ini menyambung ke 11:11 (pengecualian 'illaa lladziina sabaruu'), koma penutup dipertahankan menandai kesinambungan.

Tafsiran

Dua respons ekstrem (11:9 putus asa, 11:10 membanggakan diri) menyingkap pola yang sama: ketidakstabilan yang bergantung sepenuhnya pada kondisi luar, bukan fondasi batin yang tetap, sebuah gambaran manusia tanpa kesabaran yang akan segera dikontraskan.

Renungan dan Hikmah

  • Yang keluar dari mulutnya 'telah hilang keburukan itu dariku'. Ia menyebut nikmat sebagai berakhirnya masalah, bukan sebagai pemberian. Yang hilang dari kalimat itu satu hal saja, yaitu penyebutan siapa yang memberikannya, dan justru itu yang mengubah seluruh sikap yang menyusul.
  • Allah menggambarkan putus asa ketika ditimpa kesulitan di ayat sebelumnya, dan di sini membanggakan diri ketika diberi nikmat. Dua sikap yang berlawanan dan sama-sama bergantung pada keadaan. Yang dipersoalkan Allah bukan salah satunya, melainkan tidak adanya sesuatu yang tetap di bawah keduanya.
  • Kata yang dipakai Allah 'Kami cicipkan', bukan Kami berikan. Yang dicicipkan sedikit dan untuk sementara. Reaksi sebesar itu muncul dari sesuatu yang bahkan belum sampai disebut pemberian penuh, dan ukuran reaksinya sendiri sudah menjadi keterangan tentang orangnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar dz-w-q, n-'-m, b-'-d, d-r-r, m-s-s, q-w-l, dz-h-b, s-w-a, f-r-h, f-kh-r): adhaqnaa diterjemahkan 'mencicipkan' (akar dz-w-q); na'maa'/darraa' diterjemahkan 'nikmat/bencana'; massathu diterjemahkan 'menimpanya' (akar m-s-s putaran MSS); farih/fakhuur diterjemahkan 'sangat gembira/membanggakan diri' (akar f-r-h, akar f-kh-r). gloss '(manusia)' dibuang.