أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
Atau apakah mereka berkata, “Dia mengada-adakannya”? Katakanlah, “Maka datangkanlah sepuluh surah semisalnya yang dibuat-buat, dan serulah siapa yang kalian mampu selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُam yaquuluuna ftaraahuatau apakah mereka berkata, dia mengada-adakannya
- قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَqul fa-tuu bi-'asyri suwarin mitslihi muftarayaatin wa-d'uu mani statha'tum min duuni llaahi in kuntum shaadiqiinakatakanlah, maka datangkanlah sepuluh surah semisalnya yang dibuat-buat, dan serulah siapa yang kalian mampu selain Allah, jika kalian orang-orang yang benar
Terjemahan per kata (18 kata)
- أَمْamatau
- يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
- افْتَرَاهُftaraahuia mengada-adakannya
- قُلْqulkatakanlah
- فَأْتُواfa-tuumaka datangkanlah
- بِعَشْرِbi-'asyridengan sepuluh
- سُوَرٍsuwarinsurah
- مِثْلِهِmitslihisemisalnya
- مُفْتَرَيَاتٍmuftarayaatinyang diada-adakan
- وَادْعُواwa-d'uudan panggillah
- مَنِmanisiapa yang
- اسْتَطَعْتُمْstatha'tumkalian sanggup
- مِنْmindari
- دُونِduuniselain
- اللَّهِllaahiAllah
- إِنْinjika
- كُنْتُمْkuntumkalian adalah
- صَادِقِينَshaadiqiinaorang-orang yang benar
Inti bacaan
Tantangan yang dieskalasi ('sepuluh surah semisalnya') tetap terbuka dan bisa diuji, konsistensi kesediaan diuji secara terbuka, bahkan pada standar yang lebih tinggi, memperkuat kredibilitas klaim yang dipertahankan.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menjawab tuduhan yang sama dengan yang dijawab di tempat lain, tetapi dengan angka yang dinaikkan.
Yang diminta di sini “sepuluh surah semisalnya”, sementara di tempat lain yang diminta hanya satu (10:38), dan di tempat lain lagi satu surah dari yang semisalnya (2:23). Tiga susunan kata yang berbeda, dan masing-masing hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Tantangan yang sama diajukan berulang dengan ukuran yang berganti-ganti.
Ada satu kata tambahan di sini yang tidak ada di tempat lain, yaitu “yang dibuat-buat” (مُفْتَرَيَاتٍ, muftarayaatin). Syaratnya justru diperlonggar: tidak perlu benar, tidak perlu bermanfaat, cukup karangan yang setara. Kalau tuduhannya bahwa kitab ini karangan, maka karangan pula yang diminta sebagai jawabannya.
Sama seperti di tempat lain, bantuan tidak dibatasi dan tantangannya dibiarkan terbuka tanpa batas waktu. Yang menuduh diberi jalan untuk membuktikan tuduhannya sendiri, dan jalan itu tidak pernah ditutup kembali.
Kata tambahan yang membedakan ayat ini dari tantangan sejenis tak terulang. Bentuk “yang dibuat-buat” (مُفْتَرَيَاتٍ, muftarayaatin) hanya sekali muncul di seluruh Al-Qur'an, yaitu di ayat ini. Kata itu berasal dari akar yang sama dengan tuduhan yang sedang dijawab, sehingga tantangannya memakai kata yang mereka pakai sendiri. Yang dituduhkan dikembalikan sebagai syarat, dan itu bentuk jawaban yang tidak menyisakan celah.
Kata tambahan itu juga memperlonggar syaratnya, bukan memperketat. Tidak diminta sesuatu yang benar, tidak diminta yang bermanfaat, dan tidak diminta yang lebih baik. Cukup karangan yang setara. Sebuah tantangan yang menaikkan jumlah dari satu menjadi sepuluh sekaligus menurunkan mutu yang dituntut sedang melakukan dua hal yang berlawanan dalam satu kalimat.
Tuduhan yang dijawabnya sendiri direkam tujuh kali di dalam Al-Qur'an (10:38, 11:13, 11:35, 21:5, 25:4, 32:3, 46:8), dan salah satunya berada di surah ini juga, berjarak dua puluh dua ayat (11:35). Sebuah kitab yang merekam tuduhan terhadap dirinya sendiri sebanyak itu, dan bahkan dua kali dalam satu surah, tidak sedang menyembunyikan keberatan yang paling merugikannya.
Bantuan pun dibiarkan tanpa batas. Yang ditantang dipersilakan menyeru siapa saja yang mereka mampu, dan satu-satunya yang dikecualikan Allah. Pengecualian itu bukan pembatasan yang mempersulit, melainkan penegasan tentang siapa yang sedang diperbandingkan. Kalau bantuan dari mana pun diperbolehkan kecuali dari satu pihak, maka yang sedang diuji adalah selisih antara pihak itu dan semua yang lain.
Tafsiran
Tantangan sepuluh surah ini lebih berat dari tantangan satu surah di 10:38: eskalasi bertahap yang tetap terbuka dan terukur, memperkuat pola bahwa pembuktian ditawarkan lewat upaya nyata, bukan klaim sepihak. Yang membuatnya menarik, kenaikan jumlah itu disertai penurunan mutu yang dituntut.
Kata tambahan yang dipakai di sini, yaitu yang dibuat-buat, tidak ada pada tantangan sejenis di tempat lain. Ia berasal dari akar yang sama dengan tuduhan yang sedang dijawab. Jadi yang diminta bukan sesuatu yang benar dan bukan sesuatu yang bermanfaat, melainkan persis jenis barang yang mereka tuduhkan. Sebuah tuduhan dijawab dengan meminta penuduhnya menghasilkan apa yang ia tuduhkan.
Kombinasi itu menutup dua jalan keluar sekaligus. Kalau syaratnya dinaikkan, penuduh bisa berkelit bahwa tuntutannya terlalu berat. Kalau jumlahnya diperkecil, ia bisa berkelit bahwa satu contoh tidak membuktikan apa-apa. Di sini jumlahnya dinaikkan sementara mutunya diturunkan, sehingga kedua alasan itu tidak lagi tersedia.
Tuduhan yang dijawab ini direkam tujuh kali di dalam kitab ini, dan dua di antaranya berada di surah ini saja (11:13, 11:35). Sebuah kitab yang mengulang tuduhan paling merugikan terhadap dirinya sendiri, bahkan dua kali dalam satu surah, tidak sedang menyembunyikan apa pun. Dan tantangannya dibiarkan terbuka tanpa batas waktu, tanpa penunjukan juri, dan tanpa pembatasan zaman, sehingga ia masih berlaku pada hari pembacanya membaca ayat ini.
Renungan dan Hikmah
- Allah menaikkan tantangannya dari satu menjadi sepuluh. Yang di surah lain satu. Di sini sepuluh. Rangkaian itu (عَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ) muncul satu kali saja di seluruh Al-Qur'an. Kenaikan dari satu surah di 10:38 menjadi sepuluh di sini berjalan ke arah yang tidak biasa. Tantangan yang belum terpenuhi biasanya diperingan supaya ada yang mencoba. Di sini ia justru diperberat, dan pemberatan itu cuma masuk akal kalau yang menantang tidak khawatir sama sekali.
- Yang diperbolehkan memanggil siapa saja. Selain Allah. Bantuan tidak dibatasi jumlahnya. Izin memanggil siapa saja diulang di kedua tempat, dan batasnya sama, yaitu selain Allah. Batas itu bukan penyempitan melainkan penentuan syarat. Kalau bantuan dari Allah dibolehkan, hasilnya tidak akan membuktikan apa-apa, sebab yang diperbandingkan justru asal-usulnya. Dengan batas itu terpasang, apa pun hasilnya tetap bisa dibaca.
- Tantangan itu bisa diuji siapa pun, kapan pun. Allah membiarkannya terbuka. Yang menuduh diberi jalan membuktikan. Tantangan ini tidak punya tenggat, tidak punya juri, dan tidak punya syarat kelayakan bagi yang mencobanya. Ketiadaan itu membuatnya tetap terbuka sampai sekarang. Apakah bentuk seperti itu tidak berisiko? Sangat berisiko, sebab satu keberhasilan saja akan menutup seluruh perkara. Justru risiko itulah yang menjadi isi pernyataannya.
- Allah menambahkan kata yang dibuat-buat, sehingga karangan yang setara pun sudah cukup: tak perlu benar, tak perlu bermanfaat. Kalau syaratnya serendah itu dan tetap terbuka sampai sekarang, apa yang bisa kita simpulkan dari tak adanya jawaban? Kata tambahan yang berarti dibuat-buat mengubah ukuran keberhasilannya. Yang diminta bukan wahyu, bukan kebenaran, dan bukan sesuatu yang bermanfaat. Yang diminta cukup karangan yang setara mutunya. Dengan syarat serendah itu, kegagalan memenuhinya tidak bisa dijelaskan dengan mengatakan bahwa yang diminta terlalu suci untuk ditiru.
- Surah 10 dan surah 11 berurutan di dalam mushaf, dan keduanya memuat tantangan yang sama dengan ukuran yang berbeda: satu surah di 10:38 dan sepuluh surah di 11:13. Kedua ayat itu bahkan dibuka dengan kalimat yang hampir sama persis. Apa yang dikerjakan penempatan berdampingan itu? Ia membuat kenaikan ukurannya kelihatan tanpa perlu disebutkan. Pembaca yang membaca berurutan akan melewati keduanya dalam jarak dekat, dan Allah membiarkan perbandingannya tersusun sendiri di kepala pembacanya tanpa satu kata pun yang menunjuknya.
- Tuduhan yang dijawab di sini sama persis dengan yang dijawab di 10:38, dan kata kerjanya pun sama. Yang berbeda cuma ukuran tantangannya. Kalau tuduhannya satu dan jawabannya dua, mana yang berlaku? Keduanya, sebab keduanya tidak saling membatalkan: yang sanggup memenuhi yang sepuluh pasti sanggup memenuhi yang satu, dan yang gagal pada yang satu tidak perlu diuji dengan yang sepuluh. Allah menyediakan dua pintu masuk untuk satu pemeriksaan yang sama, dan keduanya sampai ke tempat yang sama.