فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ
Maka para pemuka yang kufur dari kaumnya berkata, “Kami tidak melihatmu kecuali seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikutimu kecuali orang-orang yang hina di antara kami, pada pandangan pertama. Dan kami tidak melihat kalian memiliki suatu kelebihan atas kami, bahkan kami menduga kalian para pendusta.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَىٰ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَfa-qaala l-mala'u lladziina kafaruu min qawmihi maa naraaka illaa basharan mitslanaa wa-maa naraaka ttaba'aka illaa lladziina hum araadzilunaa baadiya r-ra'yi wa-maa naraa lakum alaynaa min fadlin bal nazhunnukum kaadzibiinamaka para pemuka yang kufur dari kaumnya berkata, kami tidak melihatmu kecuali seorang manusia seperti kami, dan kami tidak melihat orang yang mengikutimu kecuali orang-orang yang hina di antara kami, pada pandangan pertama, dan kami tidak melihat kalian memiliki suatu kelebihan atas kami, bahkan kami menduga kalian para pendusta
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar q-w-l, m-l-a, k-f-r, q-w-m, r-a-y, b-sh-r, m-ts-l, t-b-', r-dz-l, b-d-w, f-d-l, zh-n-n, k-dz-b): bashar diterjemahkan 'manusia'; araadhil diterjemahkan 'orang-orang yang hina' (akar r-dz-l); baadiya r-ra'y diterjemahkan 'pada pandangan pertama'; fadl diterjemahkan 'kelebihan' (akar f-d-l, spt 7:39); nazhunnu diterjemahkan 'menduga' (akar zh-n-n). gloss '(biasa)/(yang lekas percaya begitu saja)' dibuang.
Aplikasi
Kritik elite terhadap Nuh berbasis kelas sosial: mereka menolak pesan semata karena pengikutnya 'orang-orang yang hina... pada pandangan pertama', penilaian dangkal berdasarkan status sosial pengikut, bukan substansi pesan itu sendiri. Konkretnya: menilai kebenaran suatu pesan berdasarkan status sosial orang-orang yang menerimanya (bukan substansi pesan itu sendiri) adalah bias klasik yang berulang lintas zaman, waspadai kecenderungan menganggap remeh sesuatu semata karena diterima oleh orang-orang yang dianggap kurang berstatus.