وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا ۚ إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dia berkata, “Naiklah kalian semua ke dalamnya dengan nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya! Sesungguhnya Tuhanku benar-benar pengampun lagi pengasih.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَاwa-qaala rkabuu fiihaa bi-smi llaahi majraahaa wa-mursaahaadia berkata, naiklah kalian semua ke dalamnya dengan nama Allah pada waktu berlayar dan berlabuhnya
  2. إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌinna rabbii la-ghafuurun rahiimunsesungguhnya Tuhanku benar-benar pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَقَالَwa-qaaladan berkata
  2. ارْكَبُواrkabuunaiklah kalian
  3. فِيهَاfiihaake dalamnya
  4. بِسْمِbi-smidengan nama
  5. اللَّهِllaahiAllah
  6. مَجْرَاهَاmajraahaaberlayarnya
  7. وَمُرْسَاهَاwa-mursaahaadan berlabuhnya
  8. إِنَّinnasesungguhnya
  9. رَبِّيrabbiiTuhanku
  10. لَغَفُورٌla-ghafuurunbenar-benar pengampun
  11. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Kesadaran dibawa masuk ke dalam tindakan praktis sehari-hari: 'naiklah dengan menyebut nama Allah', bahkan tindakan fisik biasa (naik kapal) diberi kerangka kesadaran, bukan dipisahkan dari makna yang lebih besar. Konkretnya: membawa kesadaran dan niat yang jelas bahkan ke dalam tindakan praktis paling sederhana (memulai perjalanan, memulai pekerjaan) menghubungkan aktivitas sehari-hari dengan makna yang lebih besar, bukan memisahkan keduanya.

Tafsiran

Perintah naik 'dengan nama Allah' menjadikan setiap tahap perjalanan (berlayar dan berlabuh) sebagai tindakan yang disandarkan pada-Nya, bukan sekadar formalitas ucapan, melainkan pengakuan bahwa keselamatan bahtera bergantung penuh pada kehendak-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Allah merekam Nuh menyebut nama-Nya pada waktu berlayar dan berlabuh. Dua ujung perjalanan. Yang memulai dan yang mengakhiri disebut dengan nama yang sama.
  • Allah merekam ia menutup dengan menyebut Tuhannya pengampun lagi pengasih. Di tengah banjir yang sedang datang. Dua sifat yang paling melapangkan disebut pada saat yang paling menakutkan.
  • Perintahnya naiklah kalian semua ke dalamnya. Bahtera yang dibangun bertahun-tahun sambil ditertawakan. Yang dikerjakan tanpa terlihat gunanya akhirnya menjadi satu-satunya jalan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.