إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ ۚ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْinnii tawakkaltu 'alaa llaahi rabbii wa-rabbikumsesungguhnya aku bertawakal kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian
  2. مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَاmaa min daabbatin illaa huwa aakhidzun bi-naashiyatihaatidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya
  3. إِنَّ رَبِّي عَلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍinna rabbii 'alaa shiraathin mustaqiiminsesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus

Terjemahan per kata (18 kata)

  1. إِنِّيinniisesungguhnya aku
  2. تَوَكَّلْتُtawakkaltuaku bertawakal
  3. عَلَى'alaaatas
  4. اللَّهِllaahiAllah
  5. رَبِّيrabbiiTuhanku
  6. وَرَبِّكُمْwa-rabbikumdan Tuhan kalian
  7. مَاmaatidaklah
  8. مِنْmindari
  9. دَابَّةٍdaabbatinmakhluk bergerak
  10. إِلَّاillaakecuali
  11. هُوَhuwaDia
  12. آخِذٌaakhidzunyang memegang
  13. بِنَاصِيَتِهَاbi-naashiyatihaapada ubun-ubunnya
  14. إِنَّinnasesungguhnya
  15. رَبِّيrabbiiTuhanku
  16. عَلَىٰ'alaaatas
  17. صِرَاطٍshiraathinjalan
  18. مُسْتَقِيمٍmustaqiiminyang lurus

Inti bacaan

Dasar dari keberanian itu dijelaskan: 'tidak ada satu makhluk melata pun kecuali Dia memegang ubun-ubunnya', kepercayaan penuh pada kendali menyeluruh atas segala sesuatu, termasuk lawan-lawannya sendiri, menjadi sumber ketenangan menghadapi ancaman. Konkretnya: keberanian yang benar-benar stabil (bukan sekadar nekat) berasal dari kepercayaan mendalam bahwa segala sesuatu, termasuk ancaman yang dihadapi, tetap berada dalam kendali yang lebih besar, fondasi kepercayaan ini yang membuat keberanian terasa tenang, bukan grogi.

Penjelasan pilihan kata

Kutipan dibuka di 11:54, berlanjut di sini.

Tafsiran

Metafora 'memegang ubun-ubun' menegaskan kendali penuh atas setiap makhluk hidup, termasuk yang menantang Hud: tawakal yang dinyatakan bukan kepasrahan pasif, melainkan kepercayaan pada kekuasaan yang benar-benar menyeluruh.

Renungan dan Hikmah

  • Ia menyebut Allah sebagai Tuhannya dan Tuhan mereka sekaligus. Di tengah ancaman, ia tetap menyertakan lawan bicaranya. Orang yang sedang ditentang dan masih menyebut satu Tuhan bagi keduanya sedang menolak memutus hubungan itu.
  • Gambaran yang dipakai Allah memegang ubun-ubun setiap makhluk melata. Bagian paling depan dan paling menentukan arah. Yang dipegang bukan kakinya atau tangannya, melainkan bagian yang menentukan ke mana ia menoleh.
  • Penutupnya menyebut Tuhannya di atas jalan yang lurus. Sebutan itu biasanya dipakai untuk manusia yang berjalan. Yang hendak disampaikan barangkali bahwa kekuasaan sebesar itu tetap bergerak menurut ukuran yang tidak berubah-ubah.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar w-k-l, a-l-h, r-b-b, d-b-b, a-kh-dz, n-s-y, s-r-t, q-w-m): tawakkaltu diterjemahkan 'aku bertawakal' (akar w-k-l putaran 61); daabbah diterjemahkan 'makhluk melata' (akar d-b-b); naasiyah diterjemahkan 'ubun-ubun' (kekuasaan mutlak Allah). gloss '(di atas bumi)/(menguasainya)/(adil)' dibuang.