فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةً ۚ قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍ
Maka ketika ia melihat tangan mereka tidak menjamahnya, ia mencurigai mereka dan memendam rasa takut kepada mereka. Mereka berkata, “Janganlah takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut.”
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- فَلَمَّا رَأَىٰ أَيْدِيَهُمْ لَا تَصِلُ إِلَيْهِ نَكِرَهُمْ وَأَوْجَسَ مِنْهُمْ خِيفَةًfa-lammaa ra'aa aydiyahum laa tashilu ilayhi nakirahum wa-awjasa minhum khiifatanmaka ketika ia melihat tangan mereka tidak menjamahnya, ia mencurigai mereka dan memendam rasa takut kepada mereka
- قَالُوا لَا تَخَفْ إِنَّا أُرْسِلْنَا إِلَىٰ قَوْمِ لُوطٍqaaluu laa takhaf innaa ursilnaa ilaa qawmi luuthinmereka berkata, janganlah takut, sesungguhnya kami diutus kepada kaum Lut
Terjemahan per kata (18 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- رَأَىٰra'aamelihat
- أَيْدِيَهُمْaydiyahumtangan mereka
- لَاlaatidak
- تَصِلُtashilusampai
- إِلَيْهِilayhikepadanya
- نَكِرَهُمْnakirahummerasa asing terhadap mereka
- وَأَوْجَسَwa-awjasadan ia merasakan
- مِنْهُمْminhumdari mereka
- خِيفَةًkhiifatanketakutan
- قَالُواqaaluumereka berkata
- لَاlaajanganlah
- تَخَفْtakhafengkau takut
- إِنَّاinnaasesungguhnya kami
- أُرْسِلْنَاursilnaakami diutus
- إِلَىٰilaakepada
- قَوْمِqawmikaumku
- لُوطٍluuthinLut
Inti bacaan
Kecurigaan dan rasa takut Ibrahim saat tamunya tidak menyentuh makanan adalah respons manusiawi yang wajar terhadap perilaku tak terduga, segera diredakan dengan penjelasan terbuka: 'Janganlah takut'. Konkretnya: kecurigaan atau kekhawatiran yang muncul dari perilaku tak terduga orang lain adalah respons manusiawi yang wajar (bukan tanda buruk sangka yang harus disesali), memberikan penjelasan yang jelas dan menenangkan segera setelah menyadari kesalahpahaman adalah cara yang baik meredakan kekhawatiran yang wajar itu.
Penjelasan pilihan kata
'Lut' nama diri eksplisit bukan tambahan.
Tafsiran
Kecurigaan Ibrahim atas tamu yang tak menyentuh makanan (kebiasaan yang dianggap tanda niat buruk pada masanya) segera dijawab dengan identitas asli mereka: malaikat yang diutus dengan misi lain, membuka babak baru kisah kaum Lut.
Renungan dan Hikmah
- Yang membuat Ibrahim curiga bukan ucapan mereka, melainkan tangan yang tidak menjamah makanan. Sebuah tanda yang sangat kecil. Allah merekam bahwa kecurigaan itu tumbuh dari kebiasaan yang tidak dipenuhi, bukan dari ancaman yang diucapkan.
- Kata yang dipakai Allah ia memendam rasa takut. Tidak diperlihatkan kepada tamunya. Keramahan yang tetap dijaga di atas rasa takut yang disembunyikan menerangkan sesuatu tentang orang yang menjalankannya.
- Mereka tidak cuma berkata jangan takut; mereka langsung menyebutkan siapa dan untuk apa mereka datang. Alasannya menyusul di kalimat yang sama. Menenangkan orang tanpa memberi keterangan jarang benar-benar menenangkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar r-a-y, y-d-y, w-s-l, n-k-r, w-j-s, kh-w-f, q-w-l, r-s-l, q-w-m): tasilu diterjemahkan 'menjamah/sampai' (akar w-s-l); nakira diterjemahkan 'mencurigai (tak mengenal)' (akar n-k-r); awjasa khiifah diterjemahkan 'memendam rasa takut' (akar w-j-s + akar kh-w-f). gloss '(Ibrahim)/(malaikat)/(untuk menghancurkan mereka)' dibuang.