قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۖ رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ ۚ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Mereka berkata, “Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah? Rahmat dan berkah Allah atas kalian, wahai ahlulbait! Sesungguhnya Dia terpuji lagi luhur.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- قَالُوا أَتَعْجَبِينَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِqaaluu a-ta'jabiina min amri llaahimereka berkata, apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah
- رَحْمَتُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِrahmatu llaahi wa-barakaatuhu 'alaykum ahla l-baytirahmat dan berkah Allah atas kalian, wahai ahlulbait
- إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌinnahu hamiidun majiidunsesungguhnya Dia terpuji lagi luhur
Terjemahan per kata (14 kata)
- قَالُواqaaluumereka berkata
- أَتَعْجَبِينَa-ta'jabiinaapakah engkau heran
- مِنْmindari
- أَمْرِamriurusan
- اللَّهِllaahiAllah
- رَحْمَتُrahmaturahmat
- اللَّهِllaahiAllah
- وَبَرَكَاتُهُwa-barakaatuhudan keberkahan-Nya
- عَلَيْكُمْ'alaykumatas kalian
- أَهْلَahlaahli
- الْبَيْتِl-baytiRumah
- إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
- حَمِيدٌhamiidunMaha Terpuji
- مَجِيدٌmajiidunyang mulia
Inti bacaan
'Apakah engkau merasa heran dengan ketetapan Allah?', bukan mencela reaksi jujur, melainkan mengajak memperluas kerangka berpikir tentang apa yang dianggap mungkin. Konkretnya: keheranan awal terhadap sesuatu yang tampak mustahil adalah wajar, tapi ada baiknya diikuti pertanyaan reflektif: apakah standar 'kemungkinan' yang dipegang terlalu sempit?, momen keheranan bisa menjadi kesempatan memperluas kerangka berpikir, bukan sekadar menolak begitu saja.
Tafsiran
Jawaban ini membalikkan keheranan menjadi teguran halus: jika sudah menyangkut 'ketetapan Allah', ketakjuban seharusnya berubah menjadi pengakuan, bukan keraguan, sebuah pola yang sama dengan jawaban Allah kepada Nuh/Hud/Saleh sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Allah merekam mereka bertanya apakah engkau heran dengan ketetapan-Nya. Keheranan itu diluruskan dengan pertanyaan. Yang dianggap mustahil oleh manusia tidak masuk kategori yang sama bagi Yang menetapkan.
- Sesudah meluruskan, mereka mendoakan rahmat dan berkah Allah atas ahlulbait. Teguran disusul doa. Yang ditegur tidak ditinggalkan dengan rasa bersalah.
- Penutupnya menyebut Dia terpuji lagi luhur. Dua sifat. Yang menetapkan hal yang tak terbayangkan disebut dengan nama yang menerangkan ketinggian-Nya, bukan kekuasaan-Nya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini: “Apakah” diterjemahkan “Apakah”; “kamu,” diterjemahkan “kalian,”; “Mulia.”” diterjemahkan “Mulia. Dalam ayat ini, 'rahmah' tanpa kata sandang al-.