Ayat 11:74

فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَىٰ يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍ

Maka ketika rasa takut telah hilang dari Ibrahim dan kabar gembira telah datang kepadanya, ia berbantah dengan Kami tentang kaum Lut.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَلَمَّا ذَهَبَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ الرَّوْعُ وَجَاءَتْهُ الْبُشْرَىٰ يُجَادِلُنَا فِي قَوْمِ لُوطٍfa-lammaa dzahaba 'an ibraahiima r-raw'u wa-jaa'atsu l-busyraa yujaadilunaa fii qawmi luuthinmaka ketika rasa takut telah hilang dari Ibrahim dan kabar gembira telah datang kepadanya, ia berbantah dengan Kami tentang kaum Lut

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
  2. ذَهَبَdzahabapergi
  3. عَنْ'andari
  4. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  5. الرَّوْعُr-raw'uketakutan
  6. وَجَاءَتْهُwa-jaa'atsudan datang kepadanya
  7. الْبُشْرَىٰl-busyraakabar gembira
  8. يُجَادِلُنَاyujaadilunaamembantah Kami
  9. فِيfiitentang
  10. قَوْمِqawmikaumku
  11. لُوطٍluuthinLut

Inti bacaan

Ibrahim terus 'berbantah' memohonkan keringanan bagi kaum Lut meski rasa takutnya sudah reda, kegigihan advokasi/kepedulian bahkan untuk komunitas yang sudah sangat bermasalah. Konkretnya: kepedulian yang tulus kadang mendorong seseorang terus memohon/mengadvokasi bahkan untuk pihak yang tampaknya sudah sangat sulit ditolong, kegigihan ini adalah cerminan karakter penyayang, bukan naif, meski pada akhirnya tetap perlu menerima batas yang ditetapkan.

Penjelasan pilihan kata

'Ibrahim'/'Lut' nama diri eksplisit bukan tambahan.

Tafsiran

Peralihan langsung dari ketakutan-lega menuju perdebatan menyingkap kepedulian Ibrahim yang melampaui urusan pribadinya sendiri: begitu ancaman terhadap dirinya reda, perhatiannya segera beralih kepada nasib kaum lain.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut rasa takut hilang dan kabar gembira datang, baru Ibrahim berbantah. Urutannya disebutkan. Kepedulian pada nasib orang lain muncul setelah dirinya sendiri tenang.
  • Allah menyebut ia berbantah dengan-Nya. Kata itu dipakai apa adanya. Perbantahan yang lahir dari iba tidak disembunyikan, dan tidak pula ditegur di ayat ini.
  • Yang ia perbantahkan nasib kaum Lut, bukan kepentingannya sendiri. Kabar gembira baru saja ia terima. Yang pertama terpikir sesudah menerima kabar baik adalah orang lain.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar dz-h-b, r-w-', j-y-a, b-sh-r, j-d-l, q-w-m): raw' diterjemahkan 'rasa takut (kekagetan)'; bushraa diterjemahkan 'kabar gembira' (akar b-sh-r); yujaadilunaa diterjemahkan 'berbantah dengan Kami' (akar j-d-l, Ibrahim memohonkan kaum Lut). gloss '(malaikat)' dibuang.

Ayat 11:75

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ

Sesungguhnya Ibrahim benar-benar penahan murka, sangat lembut hati, lagi suka kembali.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌinna ibraahiima la-haliimun awwaahun muniibunsesungguhnya Ibrahim benar-benar penahan murka, sangat lembut hati, lagi suka kembali

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
  3. لَحَلِيمٌla-haliimunbenar-benar penyantun
  4. أَوَّاهٌawwaahunyang banyak merintih
  5. مُنِيبٌmuniibunyang kembali

Inti bacaan

Karakter Ibrahim dijelaskan dalam tiga sifat: penahan murka, lembut hati, suka kembali, penjelasan tentang mengapa ia begitu gigih memohon, bukan sekadar deskripsi kepribadian terpisah. Konkretnya: memahami akar karakter di balik sebuah perilaku (mengapa seseorang begitu gigih berbelas kasih) membantu menghargai konsistensi kepribadian mereka, sifat-sifat batin yang stabil (kesabaran, kelembutan, kerendahan hati) secara konsisten menghasilkan pola perilaku yang bisa diprediksi.

Tafsiran

Tiga sifat ini (penahan murka, lembut hati, suka kembali) menjelaskan mengapa Ibrahim berbantah demi kaum Lut di ayat sebelumnya, bukan sifat pasif, melainkan karakter yang mendorongnya terus berusaha meski menghadapi kaum yang jelas bersalah.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut Ibrahim penahan murka, sangat lembut hati, dan suka kembali. Tiga sifat. Ketiganya tentang bagaimana ia menahan diri, bukan tentang apa yang ia lakukan.
  • Allah menyebut sifat-sifat itu justru ketika Ibrahim sedang membantah utusan tentang kaum Lut. Bukan saat ia patuh. Perdebatan yang lahir dari iba diberi nama yang benar.
  • Sifat ketiga yang Allah sebut suka kembali kepada-Nya. Bukan tak pernah pergi. Yang dipuji bukan orang yang tak pernah melangkah keliru, melainkan yang selalu berbalik.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(atau varian, LIMA terjemahan utk satu lema: Maha Penyantun/penyantun/sangat penyantun/sangat lembut/sangat santun). Dua cacat: (a) 'Maha'+kapital tanpa dasar, corpus INDEFINIT; (b) 'penyantun' salah kata: KBBI VI, nomina 'penyantun' = 'orang sopan/suka menaruh belas kasihan/suka menolong/dewan pelindung', makna 'sabar dan tenang' (yang ada di adjektiva santun¹) HILANG pada turunannya, jebakan derivasi persis 'welas asih'; indra belas-kasihan/ menolong juga menabrak wilayah ra'uuf ('iba'). terjemahan ini: 'penahan murka'. 11:75 awwaah: terjemahan lain 'pengiba' BERTABRAKAN dgn 'iba'=ra'fah diterjemahkan dipakai terjemahan terjemahan lain sendiri yang lain (9:114: 'sangat lembut hati'). Akar -w-h belum dibedah; ini manajemen-tabrakan, bukan keputusan makna. haliim dipakai utk MANUSIA 4× (Ibrahim 9:114 & 11:75; anak/ Ismail 37:101 'ghulaamin haliim'; Syu'aib 11:87) diterjemahkan SIFAT, bukan nama (pola rahiim/ ra'uuf). sebagian penerjemah 'clement' 15/15. hilm ≠ sabr (menahan-balasan vs menanggung-derita) ≠ ra'fah (perasaan iba) ≠ santun (adab). Rumus: ghafuurun haliim 6×; aliimun haliim 3×. Corpus: haliim INDEFINIT di ayat ini (14/15 kemunculan indefinit, termasuk SEMUA yang tentang Allah). Konteks pengunci: 2:225 (tak menghukum keseleo sumpah), 35:41 (MENAHAN langit-bumi agar tak lenyap).