وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً ۖ وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ
Dan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat, tetapi mereka senantiasa berselisih,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةًwa-law shaa'a rabbuka la-ja'ala n-naasa ummatan waahidatandan seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat
- وَلَا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَwa-laa yazaaluuna mukhtalifiinatetapi mereka senantiasa berselisih
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar sh-y-a, r-b-b, j-'-l, n-w-s, a-m-m, w-h-d, z-y-l, kh-l-f): wa law shaa'a rabbuka la-ja'ala n-naasa ummatan waahidatan wa laa yazaaluuna mukhtalifiin diterjemahkan 'seandainya dikehendaki, satu umat; tapi senantiasa berselisih' (akar sh-y-' + akar '-m-m: ummah waahidah, keseragaman-paksa TAK dikehendaki Allah; akar kh-l-f, kebebasan-memilih meniscayakan perbedaan, cf. 10:99, 16:93; landasan 'laa ikraaha'). gloss '(dalam urusan agama)' dibuang.
Aplikasi
Keragaman dan perselisihan manusia digambarkan sebagai bagian dari desain, bukan kegagalan yang perlu 'diperbaiki' dengan paksaan, 'seandainya Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat; tetapi mereka senantiasa berselisih'. Konkretnya: menerima bahwa keragaman pandangan dan perselisihan adalah bagian bawaan dari kondisi manusia (bukan anomali yang harus dihapuskan sepenuhnya) membantu menghadapi perbedaan dengan lebih realistis, tujuannya bukan menghapus semua perbedaan, melainkan mengelolanya dengan bijak.