وَكَذَٰلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَىٰ آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَىٰ أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Demikianlah, Tuhanmu memilihmu dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil tuturan, serta menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya'qub, sebagaimana Dia menyempurnakannya kepada kedua leluhurmu sebelum ini: Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu berilmu lagi penuh hikmah.

Terjemahan bertahap (30 jeda)

  1. وَwa-dan
  2. كَذَٰلِكَka-dzaalikademikianlah
  3. يَجْتَبِيكَyajtabiikamemilihmu
  4. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  5. وَwa-dan
  6. يُعَلِّمُكَyu'allimukamengajarkan kepadamu
  7. مِنْminsebagian dari
  8. تَأْوِيلِta'wiilitakwil
  9. الْأَحَادِيثِal-ahaadiitsituturan
  10. وَwa-dan
  11. يُتِمُّyutimmumenyempurnakan
  12. نِعْمَتَهُni'matahunikmat-Nya
  13. عَلَيْكَ'alaykakepadamu
  14. وَwa-dan
  15. عَلَىٰ'alaakepada
  16. آلِaalikeluarga
  17. يَعْقُوبَYa'quubaYa'qub
  18. كَمَاka-maasebagaimana
  19. أَتَمَّهَاatammahaaDia menyempurnakannya
  20. عَلَىٰ'alaakepada
  21. أَبَوَيْكَabawaykakedua leluhurmu
  22. مِنْmindari
  23. قَبْلُqablusebelum
  24. إِبْرَاهِيمَIbraahiimaIbrahim
  25. وَwa-dan
  26. إِسْحَاقَIshaaqaIshaq
  27. إِنَّinnasesungguhnya
  28. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  29. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  30. حَكِيمٌhakiimunpenuh hikmah

Terjemahan per kata (25 kata)

  1. وَكَذَٰلِكَwa-ka-dzaalikadan demikianlah
  2. يَجْتَبِيكَyajtabiikamemilihmu
  3. رَبُّكَrabbukaTuhanmu
  4. وَيُعَلِّمُكَwa-yu'allimukadan Dia mengajarimu
  5. مِنْmindari
  6. تَأْوِيلِta'wiilitakwil
  7. الْأَحَادِيثِal-ahaadiitsicerita
  8. وَيُتِمُّwa-yutimmudan Dia menyempurnakan
  9. نِعْمَتَهُni'matahunikmat-Nya
  10. عَلَيْكَ'alaykaatasmu
  11. وَعَلَىٰwa-'alaadan atas
  12. آلِaalikeluarga
  13. يَعْقُوبَYa'quubaYaqub
  14. كَمَاka-maasebagaimana
  15. أَتَمَّهَاatammahaamenyempurnakannya
  16. عَلَىٰ'alaaatas
  17. أَبَوَيْكَabawaykakedua orang tuamu
  18. مِنْmindari
  19. قَبْلُqablusebelumnya
  20. إِبْرَاهِيمَIbraahiimaIbrahim
  21. وَإِسْحَاقَwa-Ishaaqadan Ishaq
  22. إِنَّinnasesungguhnya
  23. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  24. عَلِيمٌ'aliimunberilmu
  25. حَكِيمٌhakiimunbijaksana

Inti bacaan

Kelanjutan pola pemberkahan lintas generasi ditegaskan lagi, dari Ibrahim, Ishaq, hingga Yusuf, sebuah rantai pewarisan nilai dan anugerah yang berkesinambungan.

Penjelasan pilihan kata

Kata yang di sini diterjemahkan 'tuturan' (al-ahaadiits, bentuk jamak dari hadiits) sering ditransliterasi begitu saja menjadi 'hadits' dalam banyak terjemahan lain, tapi itu longsoran makna dari belakang. Akar kata ini (h-d-ts) secara literal berarti 'terjadi, muncul, menjadi baru', lawan dari 'lama'. Bentuk bendanya, secara umum dalam bahasa Arab, berarti apa saja yang dikisahkan, diberitakan, atau dituturkan, sebuah percakapan, sebuah laporan peristiwa, sebuah kisah yang disampaikan dari mulut ke mulut. Makna sempit 'kumpulan riwayat resmi ucapan dan tindakan Muhammad' baru berkembang belakangan, sebagai salah satu cabang makna yang lahir dari makna umum ini, bukan makna aslinya di masa Al-Qur'an turun. Menerjemahkan kata ini sebagai 'hadits' di teks Al-Qur'an sendiri, karenanya, berisiko menyisipkan makna teknis yang sebenarnya baru lahir belakangan.

Rentang pemakaian kata ini di seluruh Al-Qur'an (kurang lebih 26 kali) mendukung makna yang luas ini. Ia dipakai untuk percakapan biasa antarmanusia (tamu yang berlama-lama mengobrol usai makan, orang-orang yang beralih topik menjauhi ayat yang diperolok-olokkan), untuk Al-Qur'an menyebut dirinya sendiri ('tuturan terbaik', lengkap dengan tantangan kepada pengingkar untuk mendatangkan tandingannya), untuk kisah tentang tokoh tertentu (tuturan tentang Musa, tuturan tentang tamu Ibrahim), bahkan untuk nasib kaum yang dibinasakan yang 'dijadikan tuturan', maksudnya dijadikan bahan pembicaraan sebagai pelajaran bagi generasi setelahnya. Rentang seluas inilah yang coba dipertahankan lewat satu kata Indonesia yang cukup luas, alih-alih dipersempit tergantung konteks setempat.

Khusus di ayat ini dan dua ayat lain tentang karunia Yusuf (12:21, 12:101), frasa 'takwil al-ahaadiits' lazim diterjemahkan 'takwil mimpi'. Tapi Al-Qur'an sendiri punya kata terpisah untuk 'mimpi, penglihatan' (ru'yaa), dipakai di ayat lain dalam surah ini justru untuk mimpi itu sendiri. Di sini kata yang dipilih bukan itu, melainkan al-ahaadiits: tuturan, hal yang dituturkan, dalam makna yang lebih luas. Karunia Yusuf yang digambarkan ayat ini karenanya bukan sekadar 'bisa menafsirkan mimpi', melainkan kemampuan memahami makna di balik apa yang dituturkan kepadanya, yang dalam praktiknya memang banyak berupa mimpi orang lain, tapi kata yang dipakai Al-Qur'an sendiri tidak menyempit sejauh itu.

'Tuturan' dipilih, di antara beberapa kandidat lain, karena cukup luas mencakup seluruh rentang pemakaian di atas tanpa terikat pada satu konteks saja, dan karena tidak bertabrakan dengan kata yang sudah dipakai konsisten untuk akar Arab lain dalam terjemahan ini: 'kisah' untuk qasas (bentuk cerita/narasi, seperti pada penutup ayat 12:3), 'berita' untuk khabar (laporan/warta), dan 'perkataan' untuk qawl (akar yang sangat umum, dipakai lebih dari seribu kali, untuk kata 'berkata'/'ucapan'). Menjaga ketiga akar ini tetap terpisah di terjemahan Indonesia, alih-alih melebur jadi sinonim yang saling tertukar, adalah bagian dari upaya menjaga kesetiaan kata demi kata.

Dua kata di ayat ini tidak muncul lagi di ayat mana pun. "Memilihmu" (يَجْتَبِيكَ, yajtabiika) berasal dari akar yang makna dasarnya mengumpulkan atau memungut, jadi memilih di sini bukan menunjuk satu dari sekian, melainkan memungut sesuatu untuk didekatkan kepada diri sendiri. Yang kedua, "kedua leluhurmu" (أَبَوَيْكَ, abawayka), berbentuk ganda dan secara harfiah berarti "kedua bapakmu". Yang disebut sesudahnya adalah Ibrahim dan Ishaq, padahal bapak Yusuf sendiri adalah Ya'qub, yang justru disebut terpisah di kalimat sebelumnya sebagai "keluarga Ya'qub". Kata "bapak" di sini karena itu merentang melewati satu dan dua lapis ke atas.

Frasa "takwil tuturan" (تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ, ta'wiili l-ahaadiitsi) muncul di tiga ayat, dan ketiganya di surah ini: 12:6, 12:21, dan 12:101. Ketiganya menandai tiga titik yang berbeda dalam satu kisah. Di 12:6 ia janji yang diucapkan kepada seorang anak. Di 12:21 ia disebut sewaktu Yusuf sudah berada di rumah orang Mesir yang membelinya, jadi di tengah jalan dan dalam keadaan yang sama sekali tidak menyerupai janji itu. Di 12:101 ia disebut oleh Yusuf sendiri dalam doanya, sesudah semuanya selesai, sebagai sesuatu yang telah diterimanya. Janji, pemberian di tengah kesulitan, lalu syukur di ujung.

Tafsiran

Ayat ini menutup adegan pembuka dengan menempatkan Yusuf dalam rantai pewarisan yang sama dengan pola pemilihan lintas-generasi: dari Ibrahim, ke Ishaq, ke Ya'qub, dan kini ke Yusuf. Kemampuan menakwilkan tuturan yang disebut di sini, yang dalam kisah ini terutama terwujud sebagai penakwilan mimpi, bukan detail sampingan, itulah kemampuan yang kelak menyelamatkan hidupnya di penjara dan mengantarkannya ke kedudukan tinggi.

Yang berbicara di ayat ini bukan Allah, melainkan Ya'qub. Rangkaiannya dimulai di 12:4 ketika Yusuf menceritakan mimpinya, dilanjutkan di 12:5 dengan peringatan supaya mimpi itu tidak diceritakan kepada saudara-saudaranya, dan ayat ini adalah lanjutan ucapan yang sama. Jadi seorang ayah yang baru saja memperingatkan anaknya tentang bahaya dari saudara sendiri meneruskan kalimatnya dengan menyebut pemilihan, pengajaran, dan nikmat yang akan disempurnakan. Peringatan dan kabar gembira keluar dari mulut yang sama dalam satu tarikan napas.

Kata yang dipakai untuk nikmat itu bukan "memberi" melainkan "menyempurnakan", dan ukurannya diambil dari masa lalu: sebagaimana Dia telah menyempurnakannya kepada Ibrahim dan Ishaq. Sesuatu yang disempurnakan berarti sudah dimulai sebelumnya, jadi yang dijanjikan kepada Yusuf bukan pemberian baru melainkan kelanjutan. Dan ukuran kelanjutan itu bukan janji lain, melainkan sesuatu yang sudah terjadi dan bisa diperiksa dalam sejarah keluarganya sendiri.

Ya'qub menutup kalimatnya bukan dengan penenangan, melainkan dengan dua nama: Tuhanmu berilmu lagi penuh hikmah. Ia tidak berkata bahwa semuanya akan berjalan mudah, dan memang tidak berjalan mudah. Ia menyebutkan dua sifat yang tetap berlaku baik ketika jalannya mudah maupun ketika jalannya melewati sumur, perbudakan, dan penjara.

Renungan dan Hikmah

  • Kemampuan menakwilkan tuturan yang dijanjikan di sini baru terlihat manfaatnya berbab-bab kemudian, pola yang berulang di seluruh kisah Yusuf: karunia yang diberikan di awal sering tidak langsung terlihat gunanya sampai jauh kemudian.
  • Kata "memilihmu" di ayat ini tidak muncul lagi di ayat mana pun, dan akar katanya bermakna dasar mengumpulkan atau memungut. Memilih dalam pengertian itu bukan menunjuk satu nama dari sebuah daftar, melainkan memungut sesuatu dan mendekatkannya kepada diri sendiri. Perbedaannya terasa kalau kita membaca sisa kisahnya. Yusuf tidak dipilih lalu ditinggalkan berjalan sendiri; ia dipungut dari sumur, dari rumah yang memfitnahnya, dan dari penjara, berkali-kali, di tempat yang paling tidak menyerupai tempat orang terpilih. Allah menyebut satu kata di awal kisah, dan kisahnya kemudian mengeja kata itu berkali-kali.
  • Frasa "takwil tuturan" muncul di tiga ayat, dan ketiganya di surah ini: 12:6, 12:21, dan 12:101. Ketiganya menandai tiga titik yang jauh berbeda dalam satu kisah. Di sini ia janji yang diucapkan kepada seorang anak yang belum mengalami apa pun. Di 12:21 ia disebut ketika Yusuf sudah dijual dan tinggal di rumah orang Mesir, yaitu di keadaan yang sama sekali tidak menyerupai isi janjinya. Di 12:101 ia disebut Yusuf sendiri dalam doanya, sesudah semuanya selesai, sebagai sesuatu yang sudah diterima. Satu frasa yang sama menjadi janji, lalu bukti di tengah kesulitan, lalu syukur.
  • Ayat ini menyebut "kedua leluhurmu" dengan kata yang secara harfiah berarti kedua bapakmu, dalam bentuk ganda yang tidak muncul lagi di ayat mana pun, lalu menamai keduanya: Ibrahim dan Ishaq. Tapi bukankah bapak Yusuf adalah Ya'qub? Ya'qub memang disebut, hanya saja di kalimat sebelumnya dan sebagai keluarga yang ikut menerima nikmat, bukan sebagai salah satu dari kedua bapak itu. Kata "bapak" di sini merentang melewati dua lapis ke atas, dan rentangan itu memindahkan letak seseorang di dalam ceritanya sendiri. Yusuf tidak sedang memulai sesuatu. Ia sedang menerima giliran.
  • Yang dipilih satu orang, tapi nikmat yang disebut sesudahnya jatuh kepada dua alamat sekaligus: kepada Yusuf dan kepada keluarga Ya'qub. Di dalam keluarga itu ada saudara-saudara yang beberapa ayat kemudian melemparkannya ke dalam sumur. Mereka sudah termasuk penerima sebelum kejahatan itu terjadi, dan Allah menyebut mereka tanpa pengecualian apa pun. Pilihan yang dijatuhkan kepada satu orang ternyata bukan hadiah pribadi yang bisa dinikmati sendiri. Ia dititipkan lewat satu orang untuk sampai kepada banyak orang, termasuk kepada mereka yang kelak menyakitinya.
  • Yang berbicara di ayat ini bukan Allah, melainkan Ya'qub, meneruskan kalimat yang di ayat sebelumnya memperingatkan Yusuf agar tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Seorang ayah yang baru saja menyebut bahaya dari dalam rumahnya sendiri mengakhiri kalimatnya bukan dengan menenangkan, melainkan dengan dua nama: Tuhanmu berilmu lagi penuh hikmah. Ia tidak menjanjikan bahwa jalannya akan mudah, dan jalannya memang tidak mudah. Yang ia sebutkan adalah dua sifat yang tetap berlaku baik di jalan yang mudah maupun di jalan yang melewati sumur, perbudakan, dan penjara.