يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

Wahai dua penghuni penjara, apakah tuhan-tuhan yang berpecah-pecah lebih baik, ataukah Allah Yang Esa, Sang Penakluk?

Terjemahan bertahap (11 jeda)

  1. يَاyaawahai
  2. صَاحِبَيِshaahibayidua penghuni
  3. السِّجْنِas-sijnipenjara
  4. أَa-apakah
  5. أَرْبَابٌarbaabuntuhan-tuhan
  6. مُتَفَرِّقُونَmutafarriquunayang berpecah-pecah
  7. خَيْرٌkhayrunlebih baik
  8. أَمِamiataukah
  9. اللَّهُAllaahuAllah
  10. الْوَاحِدُal-waahiduYang Esa
  11. الْقَهَّارُal-qahhaaruSang Penakluk

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. يَاyaawahai
  2. صَاحِبَيِshaahibayidua penghuni
  3. السِّجْنِas-sijnipenjara
  4. أَأَرْبَابٌa-arbaabunapakah tuhan-tuhan
  5. مُتَفَرِّقُونَmutafarriquunayang berpisah-pisah
  6. خَيْرٌkhayrunlebih baik
  7. أَمِamiataukah
  8. اللَّهُAllaahuAllah
  9. الْوَاحِدُal-waahiduYang Maha Esa
  10. الْقَهَّارُal-qahhaaruYang Mahaperkasa

Inti bacaan

Sebelum memberikan jawaban praktis yang diminta, Yusuf mengajukan perbandingan rasional langsung: 'apakah tuhan-tuhan yang berpecah-pecah lebih baik ataukah Allah Yang Esa?', mendahulukan klarifikasi pandangan dunia sebelum layanan praktis, pola yang konsisten dengan pendekatannya sebelumnya (12:37).

Penjelasan pilihan kata

'Tuhan-tuhan' di sini menerjemahkan bentuk jamak dari akar yang sama dengan 'tuan/tuanku' yang dipakai berulang di rangkaian sebelumnya (12:23, 12:25, dan lagi di 12:41-42): bahasa Arab memakai satu kata yang sama untuk 'penguasa/yang ditaati' baik dalam arti tuan rumah tangga maupun dalam arti obyek ketundukan tertinggi; di sini dipilih 'tuhan-tuhan' karena konteksnya eksplisit soal ibadah (ayat berikutnya memakai kata 'menyembah'), bukan sekadar relasi majikan-pelayan. 'Sang Penakluk' (al-qahhaar): akarnya berarti menundukkan dan mengalahkan sepenuhnya, dipakai bentuk makrifat konsisten dengan cara sifat-sifat Allah lain diterjemahkan di terjemahan ini.

Tafsiran

Ini titik balik retoris: setelah membangun kredensialnya lewat ramalan makanan dan silsilah leluhurnya, Yusuf langsung mengajukan pertanyaan yang menantang kedua sesama napinya untuk berpikir, bukan sekadar menerima. Pertanyaannya berbentuk perbandingan, bukan perintah ('mana yang lebih baik') mengundang penalaran, bukan sekadar menuntut kepatuhan.

Renungan dan Hikmah

  • Yusuf tidak langsung memerintahkan dua sesama napinya untuk percaya, dia mengajukan pertanyaan yang mengundang mereka menalar sendiri perbandingan antara banyak otoritas yang saling bertentangan versus satu otoritas yang utuh. Menyampaikan keyakinan lewat pertanyaan yang mengundang pemikiran, bukan cuma pernyataan yang menuntut kepatuhan, adalah pendekatan yang berbeda dari sekadar mendikte.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar s-h-b, s-j-n, r-b-b, f-r-q, kh-y-r, a-l-h, w-h-d, q-h-r): arbaab mutafarriquun diterjemahkan 'tuhan-tuhan (rabb-rabb) yang berpecah-pecah', akar r-b-b (jamak rabb; menaati banyak 'tuan' vs satu Tuhan, kerangka diin, sejalan 9:31); al-waahid diterjemahkan 'Yang Esa'; al-qahhaar diterjemahkan 'Maha Menundukkan' (akar q-h-r).