وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan. Sesungguhnya jiwa itu sungguh mendorong kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku pengampun lagi pengasih.”

Terjemahan bertahap (14 jeda)

  1. وَwa-dan
  2. مَا أُبَرِّئُmaa ubarri'uaku tidak membebaskan
  3. نَفْسِيnafsiidiriku
  4. إِنَّinnasesungguhnya
  5. النَّفْسَan-nafsajiwa itu
  6. لَأَمَّارَةٌla-ammaaratunsungguh mendorong
  7. بِالسُّوءِbi-s-suu'ikepada kejahatan
  8. إِلَّاillaakecuali
  9. مَا رَحِمَmaa rahimayang dirahmati
  10. رَبِّيrabbiiTuhanku
  11. إِنَّinnasesungguhnya
  12. رَبِّيrabbiiTuhanku
  13. غَفُورٌghafuurunpengampun
  14. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أُبَرِّئُubarri'uaku membebaskan
  3. نَفْسِيnafsiidiriku
  4. إِنَّinnasesungguhnya
  5. النَّفْسَan-nafsajiwa
  6. لَأَمَّارَةٌla-ammaaratunbenar-benar sangat menyuruh
  7. بِالسُّوءِbi-s-suu'ipada keburukan
  8. إِلَّاillaakecuali
  9. مَاmaaapa yang
  10. رَحِمَrahimamerahmati
  11. رَبِّيrabbiiTuhanku
  12. إِنَّinnasesungguhnya
  13. رَبِّيrabbiiTuhanku
  14. غَفُورٌghafuurunpengampun
  15. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Momen kerendahan hati yang luar biasa: tepat setelah dinyatakan benar dan terpuji, Yusuf menolak mengklaim dirinya bebas dari kesalahan, 'nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku'. Konkretnya: bahkan setelah berhasil menunjukkan karakter luar biasa dan divalidasi sepenuhnya, mengakui bahwa keberhasilan menahan godaan bukan semata kekuatan diri sendiri, melainkan juga anugerah, adalah kerendahan hati sejati, kesuksesan moral yang paling mengesankan sekalipun tidak seharusnya menghasilkan klaim kesempurnaan diri.

Penjelasan pilihan kata

'Pengampun lagi pengasih' (ghafuurun rahiimun) sengaja tanpa kata 'Maha': kedua kata ini berpola intensif (menandai sifat yang kuat/berulang), bukan pola superlatif/elatif yang secara gramatikal membenarkan 'Maha'; menambahkan 'Maha' di sini menyisipkan penekanan yang tidak ada di bentuk kata Arabnya sendiri.

Tafsiran

Kalimat ini melanjutkan langsung ambiguitas siapa-yang-bicara dari ayat sebelumnya. Dibaca sebagai ucapan Yusuf: setelah membersihkan namanya dari tuduhan spesifik itu, dia tetap tidak mengklaim kesucian mutlak, mengakui jiwa manusia secara umum condong kepada kejahatan, dirinya tidak terkecuali, kecuali sejauh dia dijaga oleh rahmat Tuhannya. Ini gema langsung dari pengakuan serupa di 12:24 dan 12:33: Yusuf berulang kali menolak mengklaim kekebalan moral bahkan di titik-titik saat dia baru saja terbukti benar.

Renungan dan Hikmah

  • Ini kali ketiga Yusuf mengakui kerentanan jiwanya sendiri terhadap kejahatan (setelah 12:24 dan 12:33), pola yang konsisten dari awal sampai akhir babak godaan ini: kemenangan moral yang terbukti berulang kali tidak pernah dijadikannya alasan mengklaim dirinya kebal atau suci dengan sendirinya.
  • Justru di titik paling terbukti benar dan dipuji sebagai 'orang yang sangat benar' (12:46, 12:51), Yusuf memilih menegaskan kerentanan moralnya sendiri, bukan mengklaim keunggulan. Kerendahan hati semacam ini bukan kelemahan, melainkan kejujuran yang menolak mengubah pembuktian atas satu tuduhan spesifik menjadi klaim kesucian menyeluruh.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.