وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan. Sesungguhnya jiwa itu sungguh mendorong kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku pengampun lagi pengasih.”
Terjemahan bertahap (14 jeda)
- وَwa-dan
- مَا أُبَرِّئُmaa ubarri'uaku tidak membebaskan
- نَفْسِيnafsiidiriku
- إِنَّinnasesungguhnya
- النَّفْسَan-nafsajiwa itu
- لَأَمَّارَةٌla-ammaaratunsungguh mendorong
- بِالسُّوءِbi-s-suu'ikepada kejahatan
- إِلَّاillaakecuali
- مَا رَحِمَmaa rahimayang dirahmati
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Aplikasi
Momen kerendahan hati yang luar biasa: tepat setelah dinyatakan benar dan terpuji, Yusuf menolak mengklaim dirinya bebas dari kesalahan, 'nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku'. Konkretnya: bahkan setelah berhasil menunjukkan karakter luar biasa dan divalidasi sepenuhnya, mengakui bahwa keberhasilan menahan godaan bukan semata kekuatan diri sendiri, melainkan juga anugerah, adalah kerendahan hati sejati, kesuksesan moral yang paling mengesankan sekalipun tidak seharusnya menghasilkan klaim kesempurnaan diri.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,. sebagian penerjemah: '“And I absolve not myself; the soul commands to evil,1 save that my Lord has mercy; my Lord is forgiving and merciful.”2' Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.