قَالُوا تَاللَّهِ تَفْتَأُ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ الْهَالِكِينَ

Mereka berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau menjadi sakit parah atau engkau termasuk orang-orang yang binasa.”

Terjemahan bertahap (9 jeda)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. تَاللَّهِta-llaahidemi Allah
  3. تَفْتَأُtafta-uengkau tidak henti
  4. تَذْكُرُtadzkurumengingat
  5. يُوسُفَYuusufaYusuf
  6. حَتَّىٰ تَكُونَhattaa takuunasehingga engkau menjadi
  7. حَرَضًاharadhansakit parah
  8. أَوْ تَكُونَaw takuunaatau engkau menjadi
  9. مِنَ الْهَالِكِينَmina l-haalikiinatermasuk orang-orang yang binasa

Terjemahan per kata (12 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. تَاللَّهِta-llaahidemi Allah
  3. تَفْتَأُtafta-uengkau senantiasa
  4. تَذْكُرُtadzkuruengkau menyebut
  5. يُوسُفَYuusufaYusuf
  6. حَتَّىٰhattaasampai
  7. تَكُونَtakuunamenjadi
  8. حَرَضًاharadhanbinasa
  9. أَوْawatau
  10. تَكُونَtakuunamenjadi
  11. مِنَminadari
  12. الْهَالِكِينَl-haalikiinaorang-orang yang binasa

Inti bacaan

Kekhawatiran anak-anak terhadap kesehatan ayah mereka yang terus berduka, kepedulian genuine yang mungkin juga bercampur dengan ketidaknyamanan mereka sendiri menyaksikan pengingat berkelanjutan atas kesalahan masa lalu.

Penjelasan pilihan kata

'Sakit parah' (haradan) menandai kekhawatiran nyata anak-anak Ya'qub terhadap kesehatan fisik ayah mereka: kesedihan berlarut yang mereka saksikan sudah mencapai titik yang mengancam nyawanya sendiri, bukan sekadar keluhan tentang perilaku ayah mereka yang dianggap berlebihan.

Tafsiran

Kekhawatiran anak-anak ini tampak tulus: mereka menyaksikan kesehatan ayah mereka memburuk akibat kesedihan yang tak kunjung reda, dan mengungkapkan kekhawatiran itu secara langsung, meski dengan nada yang sedikit menuduh ('engkau tidak henti-hentinya'). Ironi tersembunyi di sini: merekalah penyebab awal kesedihan itu, kini mereka yang mengkhawatirkan dampaknya.

Renungan dan Hikmah

  • Yang mengucapkan kekhawatiran ini justru mereka yang dahulu menyebabkan kesedihan itu, dan kalimatnya tidak menyinggung hal tersebut sama sekali. Allah membiarkan pembacanya sendiri yang mengingat. Ingatan itulah yang membuat kalimat sesederhana ini terasa berat.
  • Mereka membuka dengan sumpah, demi Allah. Sumpah dipakai bukan untuk berjanji, melainkan untuk menegur. Orang yang sampai bersumpah di depan orang tuanya sendiri biasanya sudah lama menahan sesuatu sebelum mengucapkannya.
  • Yang mereka sebut sakit parah dan binasa, dua hal yang mengenai tubuh. Bukan tentang kesedihannya sendiri. Orang di sekitar sebuah duka sering hanya sanggup melihat akibatnya di badan, dan dari situlah kekhawatiran mereka bermula.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, a-l-h, f-t-a, dz-k-r, k-w-n, h-r-d, h-l-k): tafta'u diterjemahkan 'tidak henti' (akar f-t-'); tadhkuru diterjemahkan 'mengingat' (akar dz-k-r); harad diterjemahkan 'penyakit berat (merana)'; haalikiin diterjemahkan 'yang binasa' (akar h-l-k). gloss '(mengidap)/(wafat)' dibuang.