قَالَ لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ ۖ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

Yusuf berkata, “Tidak ada cercaan atas kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia paling pengasih di antara para pemberi rahmat.

Terjemahan bertahap (8 jeda)

  1. قَالَqaalaYusuf berkata
  2. لَا تَثْرِيبَlaa tatsriibatidak ada cercaan
  3. عَلَيْكُمُ'alaykumuatas kalian
  4. الْيَوْمَal-yawmapada hari ini
  5. يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْyaghfiru llaahu lakumsemoga Allah mengampuni kalian
  6. وَهُوَwa-huwadan Dia
  7. أَرْحَمُarhamupaling pengasih di antara
  8. الرَّاحِمِينَar-raahimiinapara pemberi rahmat

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. لَاlaatidak
  3. تَثْرِيبَtatsriibacercaan
  4. عَلَيْكُمُ'alaykumuatas kalian
  5. الْيَوْمَal-yawmahari ini
  6. يَغْفِرُyaghfirumengampuni
  7. اللَّهُllaahuAllah
  8. لَكُمْlakumbagi kalian
  9. وَهُوَwa-huwadan Dia
  10. أَرْحَمُarhamupaling pengasih
  11. الرَّاحِمِينَar-raahimiinapara pengasih

Inti bacaan

Pengampunan yang diberikan segera dan penuh: 'Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian', begitu pengakuan tulus diberikan, pengampunan diberikan tanpa syarat tambahan atau tuntutan penebusan lebih lanjut. Konkretnya: memberikan pengampunan penuh dan segera begitu pengakuan tulus disampaikan (bukan menahannya lebih lama atau menuntut lebih banyak penebusan) adalah model pemaafan yang murah hati, pengampunan yang tulus tidak memerlukan proses yang berlarut-larut untuk membuktikan penyesalan lebih jauh, sekali kejujuran sudah tampak.

Penjelasan pilihan kata

'Tidak ada cercaan' (laa tatsriiba): pengampunan yang diberikan secara eksplisit dan langsung, bukan sekadar dibiarkan tak terucap. 'Paling pengasih di antara para pemberi rahmat' (arhamu r-raahimiin) kata yang sama persis dengan seruan Ya'qub di 12:64: kini diucapkan Yusuf sendiri, di titik saat pengampunan yang Ya'qub dulu percayakan kepada Allah kini terwujud lewat tangan anaknya sendiri.

Tafsiran

Pengampunan Yusuf di sini eksplisit dan tanpa syarat: dia tidak hanya diam tanpa membalas, melainkan secara aktif menyatakan tidak ada cercaan sama sekali, dan mendoakan ampunan Allah bagi mereka. Ini puncak dari pola menahan diri yang sudah ditunjukkan Yusuf sepanjang kisah (12:77, 12:84): kini penahanan itu berbuah menjadi pengampunan penuh, bukan sekadar tidak membalas dendam.

Renungan dan Hikmah

  • Frasa 'paling pengasih di antara para pemberi rahmat' yang diucapkan Yusuf di sini adalah kata-kata yang sama persis dengan yang diucapkan Ya'qub jauh sebelumnya (12:64), saat dia mempercayakan Benyamin kepada perlindungan Allah karena tidak lagi bisa mempercayai jaminan manusia. Kini anak yang sama yang dulu jadi korban pengkhianatan mengucapkan kata yang sama, saat dia sendiri memilih mengampuni, bukan membalas; sebuah penutupan lingkaran yang menghubungkan kepercayaan sang ayah dengan pengampunan sang anak.
  • Menyatakan pengampunan secara eksplisit dan tanpa syarat, alih-alih membiarkannya tersirat atau menahannya sebagai pengingat kesalahan masa lalu, memberi kelegaan yang jauh lebih penuh kepada pihak yang bersalah; Yusuf tidak berhenti pada 'tidak membalas', dia melangkah lebih jauh dengan menyatakannya secara terbuka.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Maha Penyayang di antara para penyayang”. terjemahan ini: “serahim-rahim pemberi rahmat”. lema raahimiin yang SAMA ia render “pemberi rahmat” di 23:109 & 23:118 (rumus khayr ar-raahimiin diterjemahkan “sebaik-baik pemberi rahmat”) tapi “penyayang” di 4 ayat rumus arham. Dan “pemberi rahmat” justru PERSIS temuan kita (rahmah = PEMBERIAN) & sejalan dengan verba rahima diterjemahkan “merahmati” (26/28 di DB). **IRONI “Maha”: ia gagal justru di tempat superlatif MEMANG ADA. Di sini Arab punya elatif, superlatif berhak** diterjemahkan. Tapi terjemahan lain menerjemahkan khayr (elatif) diterjemahkan “sebaik-baik” (superlatif Indonesia sungguhan) sementara arham (elatif) diterjemahkan “Maha” (bukan superlatif, cuma penguat kabur). terjemahan lain sendiri membuktikan Indonesia punya alatnya. Idiom se-X-X menuntut ADJEKTIVA (“sebaik-baik”, “sepandai-pandai”), dan “rahmat” itu nomina, jadi buntu. Dasarnya ditemukan di rahim² = a (adjektiva) “bersifat belas kasihan; bersifat penyayang”, contohnya bahkan “Allah yang bersifat rahim”. **TEMUAN: bahasa Indonesia sudah meminjam KEDUA sisi akar r-h-m, KBBI rahim¹(n)=“kandungan” & rahim²(a)=“belas kasihan”, persis seperti Arabnya**. Jangkar kerangka kita (arhaam = rahim = organ pemberi penghidupan) ternyata sudah hidup di lidah Indonesia, dan penuturnya memakainya tanpa sadar keduanya satu akar. diterjemahkan “serahim-rahim” tidak bertabrakan dengan arhaam diterjemahkan “rahim” (kandungan); ia memantulkan kegandaan yang sama. Konteks memisahkan: 22:5 “dalam rahim…” vs ayat ini “serahim-rahim…”. Ini tidak membatalkan rahiim diterjemahkan “pengasih”: berdiri sendiri, “rahim” terbaca kandungan (itulah sebabnya “Sang Rahim” ditolak di basmalah,). Dalam bentuk BERULANG, pembacaan kandungan MUSTAHIL, tak ada “sekandungan-kandungan”; reduplikasi mengunci maknanya. Dalam ayat ini, 'arhamu' berlema 'arham' akar r-h-m, pola af'al = ELATIF, superlatif SUNGGUHAN secara tata bahasa; 'raahimiina' berlema 'raahimiin', partisipel aktif jamak, BERTAKRIF. Arham muncul 4× di seluruh Qur'an, SELALU langsung diikuti raahimiin (7:151, 12:64, 12:92, 21:83), rumus baku.