قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ya'qub berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih.”

Terjemahan bertahap (7 jeda)

  1. قَالَqaalaYa'qub berkata
  2. سَوْفَ أَسْتَغْفِرُsawfa astaghfiruaku akan memohonkan ampunan
  3. لَكُمْlakumbagi kalian
  4. رَبِّيrabbiikepada Tuhanku
  5. إِنَّهُ هُوَinnahu huwasesungguhnya Dialah
  6. الْغَفُورُal-ghafuuruSang Pengampun
  7. الرَّحِيمُar-rahiimuSang Pengasih

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. قَالَqaalaberkata
  2. سَوْفَsawfakelak
  3. أَسْتَغْفِرُastaghfiruaku memohonkan ampun
  4. لَكُمْlakumbagi kalian
  5. رَبِّيrabbiiTuhanku
  6. إِنَّهُinnahusesungguhnya
  7. هُوَhuwaDialah
  8. الْغَفُورُal-ghafuuruMaha Pengampun
  9. الرَّحِيمُar-rahiimuSang Pengasih

Inti bacaan

Respons Ya'qub yang bernuansa: 'Aku akan memohonkan ampunan', bukan pernyataan pengampunan instan, melainkan komitmen untuk memproses permohonan itu, menyerahkan keputusan akhir kepada otoritas yang lebih tinggi. Konkretnya: menjanjikan usaha mendoakan/mendukung pemulihan seseorang (bukan mengklaim otoritas penuh memberi pengampunan sendiri) adalah kerendahan hati yang mengakui bahwa penyelesaian penuh sebuah kesalahan besar melibatkan proses dan waktu, bukan keputusan sesaat.

Penjelasan pilihan kata

'Aku akan memohonkan' (sawfa astaghfiru): partikel sawfa menandai penundaan waktu, bukan penolakan; Ya'qub tidak menolak permintaan mereka, hanya menunjukkan dia akan melakukannya nanti, mungkin menandai bahwa pengampunan penuh butuh waktu meski niatnya sudah bulat sejak awal.

Tafsiran

Ya'qub menyanggupi permohonan anak-anaknya, tapi dengan penundaan yang tersirat dalam kata 'sawfa': sebuah jeda kecil yang mungkin mencerminkan bahwa proses pengampunan, meski sudah diputuskan hatinya, tetap membutuhkan waktu untuk benar-benar tuntas, bukan sesuatu yang bisa langsung selesai dalam sekejap.

Renungan dan Hikmah

  • Penundaan kecil yang tersirat dalam 'aku akan memohonkan' (bukan 'aku memohonkan sekarang') bisa dibaca beberapa cara, mungkin menunggu waktu yang lebih tepat secara spiritual, mungkin proses batin yang masih berlangsung. Teks tidak menjelaskan alasan penundaan ini secara eksplisit, dan pembaca perlu berhati-hati tidak memaksakan satu penjelasan tunggal.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Bedakan dari 58 ayat rumus indefinit (mis. 2:173) yang jadi “pengampun lagi pengasih” (huruf kecil): di SANA sebutan indefinit, di SINI takrif. Corpus yang memutuskan, bukan pola teks Indonesia. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap.