قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ya'qub berkata, “Aku akan memohonkan ampunan bagi kalian kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Sang Pengampun, Sang Pengasih.”

Terjemahan bertahap (7 jeda)
  1. قَالَqaalaYa'qub berkata
  2. سَوْفَ أَسْتَغْفِرُsawfa astaghfiruaku akan memohonkan ampunan
  3. لَكُمْlakumbagi kalian
  4. رَبِّيrabbiikepada Tuhanku
  5. إِنَّهُ هُوَinnahu huwasesungguhnya Dialah
  6. الْغَفُورُal-ghafuuruSang Pengampun
  7. الرَّحِيمُar-rahiimuSang Pengasih
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain di ayat ini: “Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. terjemahan ini: kata sandang berarti “the” (kepastian), superlatif; “Maha” adalah tambahan yang tak ada di teks. Bedakan dari 58 ayat rumus indefinit (mis. 2:173) yang jadi (huruf kecil): di SANA sebutan indefinit, di SINI takrif. Corpus yang memutuskan, bukan pola teks Indonesia. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,.

Aplikasi

Respons Ya'qub yang bernuansa: 'Aku AKAN memohonkan ampunan', bukan pernyataan pengampunan instan, melainkan komitmen untuk memproses permohonan itu, menyerahkan keputusan akhir kepada otoritas yang lebih tinggi. Konkretnya: menjanjikan usaha mendoakan/mendukung pemulihan seseorang (bukan mengklaim otoritas penuh memberi pengampunan sendiri) adalah kerendahan hati yang mengakui bahwa penyelesaian penuh sebuah kesalahan besar melibatkan proses dan waktu, bukan keputusan sesaat.