Ayat 12:99
فَلَمَّا دَخَلُوا عَلَىٰ يُوسُفَ آوَىٰ إِلَيْهِ أَبَوَيْهِ وَقَالَ ادْخُلُوا مِصْرَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ
Maka ketika mereka masuk kepada Yusuf, Yusuf merangkul kedua orang tuanya mendekat, dan dia berkata, “Masuklah ke Mesir, insyaallah dalam keadaan aman.”
Terjemahan bertahap (8 jeda)
- فَلَمَّا دَخَلُواfa-lammaa dakhaluumaka ketika mereka masuk
- عَلَىٰ يُوسُفَ'alaa Yuusufakepada Yusuf
- آوَىٰ إِلَيْهِaawaa ilayhidia merangkul mendekat
- أَبَوَيْهِabawayhikedua orang tuanya
- وَقَالَwa-qaaladan dia berkata
- ادْخُلُوا مِصْرَidkhuluu Mishramasuklah ke Mesir
- إِنْ شَاءَ اللَّهُin syaa'a llaahuinsyaallah
- آمِنِينَaaminiinadalam keadaan aman
Terjemahan per kata (14 kata)
- فَلَمَّاfa-lammaamaka ketika
- دَخَلُواdakhaluumereka masuk
- عَلَىٰ'alaaatas
- يُوسُفَYuusufaYusuf
- آوَىٰaawaamelindungi
- إِلَيْهِilayhikepadanya
- أَبَوَيْهِabawayhikedua orang tuanya
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- ادْخُلُواidkhuluumasuklah kalian
- مِصْرَMishraMesir
- إِنْinjika
- شَاءَsyaa'amenghendaki
- اللَّهُllaahuAllah
- آمِنِينَaaminiinadalam keadaan aman
Inti bacaan
Penyambutan penuh sukacita tetap disertai kerendahan hati: 'Masuklah ke Mesir, insya Allah dalam keadaan aman', bahkan di puncak kebahagiaan, ekspresi kepastian tetap dibingkai dengan kesadaran bahwa hasil akhir tetap di luar kendali penuh manusia.
Penjelasan pilihan kata
'Merangkul mendekat' (aawaa ilayhi) memakai akar yang sama dengan gestur Yusuf kepada Benyamin di 12:69: kata dan tindakan yang sama, kini diperluas kepada kedua orang tuanya. 'Kedua orang tuanya' (abawayhi) merujuk pada bentuk dual yang sama dengan 'kedua leluhurmu' (abawayka) di 12:6, tapi konteksnya berbeda: di sana merujuk pada Ibrahim dan Ishaq (leluhur jauh), di sini merujuk pada orang tua Yusuf sendiri secara langsung.
Tafsiran
Pertemuan kembali Yusuf dengan kedua orang tuanya digambarkan dengan gestur fisik yang sama seperti pertemuannya dengan Benyamin: sebuah pola konsisten yang menandai bagaimana Yusuf menyambut anggota keluarganya yang kembali. Undangannya untuk masuk ke Mesir 'dalam keadaan aman' menutup rangkaian panjang ketidakamanan yang telah menimpa keluarga ini sejak Yusuf pertama kali dilemparkan ke sumur.
Renungan dan Hikmah
- Gestur 'merangkul mendekat' yang sama yang dulu diberikan Yusuf kepada Benyamin secara rahasia di penjara Mesir (12:69) kini diberikan secara terbuka kepada kedua orang tuanya, pola penyambutan yang konsisten, kini dilakukan di depan seluruh keluarga tanpa perlu lagi disembunyikan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar d-kh-l, a-w-y, a-b-w, q-w-l, m-s-r, sh-y-a, a-l-h, a-m-n): aawaa diterjemahkan 'merangkul (menempatkan)' (akar '-w-y); abawayhi diterjemahkan 'kedua orang tuanya'; aaminiin diterjemahkan 'aman' (akar '-m-n). Selaras.
Ayat 12:100
وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوا لَهُ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَا أَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ مِنْ قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِي إِذْ أَخْرَجَنِي مِنَ السِّجْنِ وَجَاءَ بِكُمْ مِنَ الْبَدْوِ مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِي ۚ إِنَّ رَبِّي لَطِيفٌ لِمَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
Dan dia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana, dan mereka jatuh tersungkur kepadanya dalam keadaan tunduk. Dan dia berkata, “Wahai ayahku, ini takwil penglihatanku yang dahulu. Sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Dan sungguh Dia telah berbuat baik kepadaku, ketika mengeluarkan aku dari penjara, dan membawa kalian dari dusun, setelah setan mengganggu antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku halus terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Sang Berilmu, Sang Penuh Hikmah.”
Terjemahan bertahap (29 jeda)
- وَرَفَعَwa-rafa'adan dia menaikkan
- أَبَوَيْهِabawayhikedua orang tuanya
- عَلَى الْعَرْشِ'alaa l-'arsyike atas singgasana
- وَخَرُّواwa-kharruudan mereka jatuh tersungkur
- لَهُlahukepadanya
- سُجَّدًاsujjadandalam keadaan tunduk
- وَقَالَwa-qaaladan dia berkata
- يَا أَبَتِyaa abatiwahai ayahku
- هَٰذَاhaadzaaini
- تَأْوِيلُta'wiilutakwil
- رُؤْيَايَru'yaayapenglihatanku
- مِنْ قَبْلُmin qabluyang dahulu
- قَدْ جَعَلَهَاqad ja'alahaasungguh telah menjadikannya
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- حَقًّاhaqqankenyataan
- وَقَدْ أَحْسَنَ بِيwa-qad ahsana biidan sungguh telah berbuat baik kepadaku
- إِذْ أَخْرَجَنِيidz akhrajaniiketika mengeluarkan aku
- مِنَ السِّجْنِmina s-sijnidari penjara
- وَجَاءَ بِكُمْwa-jaa'a bikumdan membawa kalian
- مِنَ الْبَدْوِmina l-badwidari dusun
- مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَmin ba'di an nazaghasetelah mengganggu
- الشَّيْطَانُasy-syaythaanusetan
- بَيْنِي وَبَيْنَ إِخْوَتِيbaynii wa-bayna ikhwatiiantara aku dan saudara-saudaraku
- إِنَّ رَبِّيinna rabbiisesungguhnya Tuhanku
- لَطِيفٌlathiifunhalus
- لِمَا يَشَاءُli-maa yasyaa'uterhadap apa yang Dia kehendaki
- إِنَّهُ هُوَinnahu huwasesungguhnya Dialah
- الْعَلِيمُal-'aliimuSang Berilmu
- الْحَكِيمُal-hakiimuSang Penuh Hikmah
Terjemahan per kata (47 kata)
- وَرَفَعَwa-rafa'adan menaikkan
- أَبَوَيْهِabawayhikedua orang tuanya
- عَلَى'alaaatas
- الْعَرْشِl-'arsyisinggasana
- وَخَرُّواwa-kharruudan mereka jatuh tersungkur
- لَهُlahubaginya
- سُجَّدًاsujjadandalam keadaan tunduk
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- يَاyaawahai
- أَبَتِabatiayahku
- هَٰذَاhaadzaaini
- تَأْوِيلُta'wiilutakwil
- رُؤْيَايَru'yaayamimpiku
- مِنْmindari
- قَبْلُqablusebelumnya
- قَدْqadsungguh
- جَعَلَهَاja'alahaamenjadikannya
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- حَقًّاhaqqansebagai kewajiban
- وَقَدْwa-qadpadahal sungguh
- أَحْسَنَahsanalebih baik
- بِيbiikepadaku
- إِذْidzketika
- أَخْرَجَنِيakhrajaniimengeluarkanku
- مِنَminadari
- السِّجْنِs-sijnipenjara
- وَجَاءَwa-jaa'adan datang
- بِكُمْbikumkepada kalian
- مِنَminadari
- الْبَدْوِl-badwidusun
- مِنْmindari
- بَعْدِba'disesudah
- أَنْanbahwa
- نَزَغَnazaghamengganggu
- الشَّيْطَانُasy-syaythaanusetan
- بَيْنِيbayniiantaraku
- وَبَيْنَwa-baynadan antara
- إِخْوَتِيikhwatiisaudara-saudaraku
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبِّيrabbiiTuhanku
- لَطِيفٌlathiifunMahalembut
- لِمَاli-maabagi apa yang
- يَشَاءُyasyaa'uDia kehendaki
- إِنَّهُinnahusesungguhnya
- هُوَhuwaDialah
- الْعَلِيمُal-'aliimuSang Berilmu
- الْحَكِيمُal-hakiimuSang Penuh Hikmah
Inti bacaan
Yusuf secara murah hati mengaitkan keretakan hubungan dengan saudaranya pada pengaruh setan ('setan merusak hubungan antara aku dengan saudara-saudaraku'), sebuah pembingkaian yang memungkinkan rekonsiliasi tanpa menghapus apa yang sebenarnya terjadi. Konkretnya: memaknai konflik masa lalu dengan cara yang memungkinkan rekonsiliasi (mengakui ada kekuatan/dorongan buruk yang merusak hubungan) tanpa menyangkal apa yang sebenarnya terjadi adalah cara yang bijak menyeimbangkan kejujuran dan kemurahan hati saat memulihkan hubungan yang rusak.
Penjelasan pilihan kata
Pilihan terjemahan di ayat ini bertumpu pada dua kata yang berurutan, yaitu (وَخَرُّوا, wa-kharruu) yang berarti "dan mereka jatuh tersungkur" dan (سُجَّدًا, sujjadan) yang berarti "dalam keadaan tunduk". Di antara keduanya berdiri (لَهُ, lahu) yang berarti "kepadanya". Uraian di bawah memeriksa kedua kata itu, jumlah pelakunya, dan satu sifat Allah di paruh kedua ayat.
Kata wa-kharruu berakar خ-ر-ر dan ditandai morfologi korpus sebagai kata kerja lampau orang ketiga jamak. Akar ini berbentuk kata kerja di 12 ayat, yaitu 7:143, 12:100, 16:26, 17:107, 17:109, 19:58, 19:90, 22:31, 25:73, 32:15, 34:14, dan 38:24. Benda dan orang yang jatuh di ayat-ayat itu bermacam-macam. Di 16:26 (فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ, fa-kharra 'alayhimu s-saqfu) yang berarti "lalu atap runtuh menimpa mereka", di 19:90 (وَتَخِرُّ الْجِبَالُ, wa-takhirru l-jibaalu) yang berarti "dan gunung-gunung runtuh", dan di 7:143 (وَخَرَّ مُوسَىٰ صَعِقًا, wa-kharra muusaa sha'iqan) yang berarti "dan Musa jatuh pingsan". Dari tiga contoh itu tampak bahwa kata kerja ini menyebut jatuhnya sesuatu, sedangkan keadaan yang menyertai jatuh itu dinyatakan kata lain, misalnya (صَعِقًا, sha'iqan) yang berarti "pingsan" di 7:143. Di empat dari 12 ayat itu, kata yang menyusul kata kerja jatuh adalah sujjadan, yaitu di 12:100, 17:107, 19:58, dan 32:15. Di 38:24 kata yang menyusul berakar ر-ك-ع, dan di 17:109 tangis.
Kata sujjadan berakar س-ج-د dan ditandai morfologi korpus sebagai partisip aktif jamak, tak tentu, berakhiran -an. Bentuk persis ini muncul 11 kali, yaitu di 2:58, 4:154, 7:161, 12:100, 16:48, 17:107, 19:58, 20:70, 25:64, 32:15, dan 48:29. Pola pertama ada pada pelakunya, yang tidak selalu manusia. Di 16:48 (سُجَّدًا لِلَّهِ, sujjadan li-llaahi) yang berarti "bersujud kepada Allah" dikenakan pada bayang-bayang segala sesuatu yang berpindah ke kanan dan ke kiri, sehingga sujud mereka tidak dapat berupa kening yang menyentuh tanah. Di 13:15 bayang-bayang disebut lagi, (وَظِلَالُهُمْ, wa-zhilaaluhum) yang berarti "dan bayang-bayang mereka", bersama siapa pun di langit dan di bumi yang bersujud, dan 22:18 menambahkan matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, dan hewan melata.
Pola kedua tampak di sepuluh ayat, tempat gerak tubuh sudah dibawa kata kerja tersendiri. Kata kerja jatuh mengerjakannya di 12:100, 17:107, 19:58, 32:15, dan 38:24. Kata kerja (فَقَعُوا, fa-qa'uu) yang berarti "maka jatuhlah kalian" mengerjakannya di 15:29 dan 38:72, dan bentuk pasif (أُلْقِيَ, ulqiya) yang berarti "dilemparkan" mengerjakannya di 7:120, 20:70, dan 26:46. Di 26:46, (فَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ, fa-ulqiya s-saharatu saajidiina) yang berarti "maka tersungkurlah para penyihir itu dalam keadaan bersujud", gerak disebut lebih dulu oleh kata kerjanya dan keadaan menyusul sebagai kata tersendiri. Di sepuluh ayat itu kata dari akar س-ج-د atau ر-ك-ع tidak diperlukan untuk menyatakan gerak, karena gerak sudah ada.
Lawan yang disebut teks untuk sujud juga mengarah ke sikap dan tidak ke bentuk badan. Di lima ayat, sujud disandingkan dengan menyombongkan diri, yaitu 2:34, 7:206, 16:49, 32:15, dan 38:75. Di 2:34 ucapan tentang Iblis berbunyi (أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ, abaa wa-stakbara) yang berarti "menolak dan menyombongkan diri", dan di 32:15 orang yang jatuh sujud digambarkan (وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ, wa-hum laa yastakbiruuna) yang berarti "dan mereka tidak menyombongkan diri".
Dari ketiga pola itu, terjemahan di sini memisahkan dua kata. Kata (وَخَرُّوا, wa-kharruu) yang berarti "dan mereka jatuh tersungkur" membawa gerak tubuh, dan kata (سُجَّدًا, sujjadan) yang berarti "dalam keadaan tunduk" menyebut keadaan pelaku. Kata "bersujud" sesudah "jatuh tersungkur" akan terbaca sebagai gerak kedua, sedangkan susunan Arabnya menyebut gerak satu kali dan keadaan satu kali. Batasnya perlu dinyatakan. Ayat ini sendiri tidak mengecualikan bahwa ketundukan itu tampak pada tubuh yang sudah tersungkur, sehingga pembacaan yang memahami sujjadan sebagai sikap badan tetap dapat dipertahankan di ayat ini. Penopang pembacaan di sini adalah pola di ayat-ayat lain, yaitu pelaku yang tidak bertubuh seperti manusia, pemisahan gerak di sepuluh ayat, dan lawan berupa kesombongan. Teks 12:100 sendiri tidak menjadi penopangnya.
Kata (أَبَوَيْهِ, abawayhi) ditandai morfologi sebagai bentuk dual, sehingga terjemahannya "kedua orang tuanya", sedangkan wa-kharruu berbentuk jamak. Ayat sebelumnya memakai kata kerja jamak (دَخَلُوا, dakhaluu) yang berarti "mereka masuk" (12:99), dan mimpi di 12:4 menyebut sebelas bintang, matahari, dan bulan. Dari ketiga rujukan itu, pembaca dapat menduga bahwa yang jatuh lebih dari dua orang. Ayat 12:100 tidak menyebut siapa saja mereka, sehingga terjemahan memakai "mereka" saja dan tidak menambahkan "semuanya".
Kata (لَطِيفٌ, lathiifun) berakar ل-ط-ف dan di sini berbentuk sifat. Sebagai sifat Allah, kata ini muncul di tujuh ayat, yaitu 6:103, 12:100, 22:63, 31:16, 33:34, 42:19, dan 67:14. Lima di antaranya memasangkannya dengan sifat lain, yaitu 6:103, 22:63, 31:16, 33:34, dan 67:14, misalnya di 22:63 (لَطِيفٌ خَبِيرٌ, lathiifun khabiirun) yang berarti "halus lagi waskita". Di 12:100 sifat itu disusul (لِمَا يَشَاءُ, li-maa yasyaa'u) yang berarti "terhadap apa yang Dia kehendaki". Konteks 22:63 menyebut air dari langit yang membuat bumi menghijau, dan 31:16 menyebut sesuatu seberat biji sawi di dalam batu besar. Keduanya menyangkut hal kecil dan proses yang tidak tampak, dan terjemahan "halus" mengikuti arah itu.
Tafsiran
Ayat ini menutup kisah Yusuf di titik yang dibuka oleh mimpinya. Di 12:4 Yusuf kecil menceritakan bahwa sebelas bintang, matahari, dan bulan tampak olehnya dalam keadaan sujud, dan gambar itu hanya memuat keadaan, tanpa gerak jatuh. Di 12:100 akar yang sama kembali, kali ini dengan singgasana, dengan orang yang menaikkan, dan dengan kata kerja jatuh yang tidak ada di mimpi. Penggenapan itu menambahkan adegan pada gambar yang dulu kecil, sedangkan keadaan yang digambarkan tetap sama.
Urutan di dalam ayat ikut bermakna. Yusuf lebih dulu menaikkan kedua orang tuanya ke singgasana, baru mereka jatuh kepadanya. Sesudah itu Yusuf berbicara kepada ayahnya, (يَا أَبَتِ, yaa abati) yang berarti "wahai ayahku", dan kalimat pertamanya menunjuk mimpi, (هَٰذَا تَأْوِيلُ رُؤْيَايَ, haadzaa ta'wiilu ru'yaaya) yang berarti "ini takwil penglihatanku". Lalu Yusuf menyebut Tuhannya sebagai pelaku penggenapan, (قَدْ جَعَلَهَا رَبِّي حَقًّا, qad ja'alahaa rabbii haqqan) yang berarti "sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan". Daftar kebaikan yang disebutnya sesudah itu berisi dua hal, yaitu dikeluarkan dari penjara dan dibawanya keluarga dari dusun. Kekuasaan tidak ada dalam daftar itu. Yusuf menyebutnya di ayat berikutnya, dalam doa, (قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ, qad aataytanii mina l-mulki) yang berarti "sungguh Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan" (12:101).
Paruh akhir kalimat Yusuf menengok ke belakang, (مِنْ بَعْدِ أَنْ نَزَغَ الشَّيْطَانُ, min ba'di an nazagha asy-syaythaanu) yang berarti "setelah setan mengganggu". Sebutan setan untuk keretakan itu mengikat ayat ini dengan 12:5, tempat Ya'qub menyebut setan sebagai musuh yang nyata bagi manusia sebelum saudara-saudara itu bertindak. Pengakuan salah mereka di 12:91 dan 12:97 sudah mendahului kalimat Yusuf ini.
Ayat ditutup dengan kalimat yang sama dengan penutup 12:83, (إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ, innahu huwa al-'aliimu al-hakiimu) yang berarti "sesungguhnya Dialah Sang Berilmu, Sang Penuh Hikmah". Rangkaian kata itu terdapat di dua tempat dalam Al-Qur'an, yaitu 12:83 dan 12:100. Di 12:83 Ya'qub mengucapkannya dalam harapan, (عَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا, 'asaa llaahu an ya'tiyanii bihim jamii'an) yang berarti "semoga Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku". Di 12:100 Yusuf menyebut (وَجَاءَ بِكُمْ, wa-jaa'a bikum) yang berarti "dan membawa kalian". Di 12:83 Ya'qub berharap anak-anaknya yang hilang kembali, sedangkan di 12:100 yang datang seluruh keluarga, sehingga kesamaannya terletak pada kalimat penutup dan pada kata kerja membawa, tidak pada orang yang dibicarakan.
Renungan dan Hikmah
- Mimpi di 12:4 hanya memuat keadaan, dan penggenapannya di 12:100 memuat singgasana, orang tua yang dinaikkan, dan sebuah kejatuhan yang tidak tergambar sebelumnya. Orang yang menyimpan gambar tentang apa yang dijanjikan kepadanya mungkin memegang gambar sekecil mimpi itu, dengan keadaan yang tepat tetapi tanpa adegan yang kelak melengkapinya. Penggenapan yang datang lebih panjang daripada gambarnya belum berarti gambar itu keliru. Berapa banyak adegan yang bersedia dibiarkannya terjadi sebelum menyimpulkan bahwa gambarnya salah?
- Sesudah orang-orang yang datang kepadanya jatuh di hadapannya, kalimat pertama Yusuf ditujukan kepada ayahnya dan berisi arti sebuah mimpi. Orang yang pernah menerima penghormatan mengenal saat itu: beberapa kata pertama sesudahnya menunjukkan ke mana perhatian diarahkan, ke kemenangan atau ke arti peristiwa. Yusuf mengarahkannya ke arti, dan menaruh pelakunya pada Tuhannya.
- Dalam daftar kebaikan yang disebut Yusuf, penjara ada di urutan paling depan dan singgasana tidak ada sama sekali. Daftar nikmat bisa dimulai dari yang terang di depan mata, seperti jabatan, rumah, atau nama baik. Daftar di ayat ini mulai dari penjara, lalu sampai ke kedatangan keluarga. Daftar syukur yang disusun begitu menjadi catatan tentang jalan yang ditempuh, dan pembacanya bisa bertanya hal apa dalam hidupnya yang layak berdiri di urutan pertama.
- Yusuf menyebut keretakan dengan saudara-saudaranya sebagai ulah setan sesudah mereka mengakui salah di 12:91 dan 12:97. Urutannya menentukan artinya. Penyebutan itu datang setelah pengakuan, dan karena itu menutup peristiwa tanpa menggantikan pengakuan. Orang yang menyimpan luka lama dalam keluarganya dapat memperhatikan bahwa ada dua pekerjaan yang berbeda di sini: pihak yang bersalah mengakui, dan pihak yang dirugikan menamai asal perpecahan tanpa menghapusnya. Ayat ini mencatat keduanya dalam urutan itu.
- Di 2:34, 7:206, 16:49, dan 32:15, sujud disandingkan dengan kesombongan, dan ukuran yang dipakai teks adalah ada atau tidaknya kesombongan itu; di 32:15 orang yang jatuh sujud digambarkan tidak menyombongkan diri. Orang yang pernah menunduk di depan seseorang, entah atasan, tamu, atau orang yang lebih tua, dan ingin tahu apakah itu ketundukan, memperoleh ukuran lain dari gerak tubuhnya: sikap yang menyertai gerak itu. Sikap itu sulit dilihat orang lain, sehingga pemiliknya sendiri yang dapat memeriksanya.
- Yusuf menyebut Tuhannya halus terhadap apa yang Dia kehendaki sesudah serangkaian peristiwa yang terlihat terpisah-pisah dari dalam, yaitu dikeluarkan dari penjara, keluarga yang datang dari dusun, dan perpecahan yang lama. Kehalusan itu baru terbaca dari ujung rangkaiannya. Orang yang berada di tengah rangkaian yang belum selesai tidak memegang ujung itu, dan ayat ini tidak menjanjikan ujung tertentu bagi siapa pun. Ayat ini memberi satu contoh orang yang menyebut kehalusan itu setelah sampai di ujung.
- Urutan di ayat ini adalah menaikkan lebih dulu, baru jatuh. Yusuf menempatkan orang tuanya di tempat tertinggi sebelum ada yang jatuh kepadanya, dan ayat tidak memuat permintaan apa pun yang mendahului kejatuhan itu. Orang yang menguasai sebuah ruang rapat, rumah, atau tim dapat membaca urutan itu sebagai pertanyaan tentang apa yang dikerjakannya lebih dahulu dengan tempatnya, sebelum ada yang menunduk kepadanya.