وَإِنْ تَعْجَبْ فَعَجَبٌ قَوْلُهُمْ أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا أَإِنَّا لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Dan jika engkau heran, maka yang mengherankan adalah ucapan mereka, “Apakah bila kami telah menjadi tanah, kami benar-benar akan menjadi makhluk yang baru?” Merekalah orang-orang yang kufur kepada Tuhan mereka, dan merekalah, belenggu-belenggu ada di leher mereka, dan merekalah penghuni api; mereka kekal di dalamnya.

Terjemahan bertahap (13 jeda)
  1. وَإِنْ تَعْجَبْwa-in ta'jabdan jika engkau heran
  2. فَعَجَبٌfa-ajabunmaka yang mengherankan
  3. قَوْلُهُمْqawluhumucapan mereka
  4. أَإِذَا كُنَّا تُرَابًاa-idzaa kunnaa turaabanapakah bila kami telah menjadi tanah
  5. أَإِنَّاa-innaaapakah kami benar-benar
  6. لَفِي خَلْقٍ جَدِيدٍla-fii khalqin jadiidinakan menjadi makhluk yang baru
  7. أُولَٰئِكَ الَّذِينَulaa'ika lladziinamerekalah orang-orang yang
  8. كَفَرُوا بِرَبِّهِمْkafaruu bi-rabbihimkufur kepada Tuhan mereka
  9. وَأُولَٰئِكَ الْأَغْلَالُwa-ulaa'ika l-aghlaaludan merekalah, belenggu-belenggu
  10. فِي أَعْنَاقِهِمْfii a'naaqihimada di leher mereka
  11. وَأُولَٰئِكَwa-ulaa'ikadan merekalah
  12. أَصْحَابُ النَّارِashaabu n-naaripenghuni api
  13. هُمْ فِيهَا خَالِدُونَhum fiihaa khaaliduunamereka kekal di dalamnya
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar '-j-b, q-w-l, k-w-n, t-r-b, kh-l-q, j-d-d, k-f-r, r-b-b, gh-l-l, '-n-q, s-h-b, n-w-r, kh-l-d): ta'jab/'ajab diterjemahkan 'heran/mengherankan' (akar '-j-b); turaab diterjemahkan 'tanah'; khalq jadiid diterjemahkan 'makhluk baru' (akar kh-l-q); aghlaal/a'naaq diterjemahkan 'belenggu/leher' (akar gh-l-l). gloss '(Nabi Muhammad)/(orang-orang kafir)/(dikembalikan)/(yang dilekatkan)' dibuang.

Aplikasi

Pengingkaran terhadap kebangkitan ('apakah bila kami telah menjadi tanah, kami akan menjadi makhluk baru?') digambarkan bukan sekadar kesalahan intelektual netral, melainkan disertai citra 'belenggu di leher', pengingkaran itu sendiri menjadi bentuk keterkungkungan. Konkretnya: menolak gagasan pertanggungjawaban akhirat bukan sikap yang 'membebaskan' seperti sering diklaim, melainkan justru menyempitkan horizon etis seseorang, hidup seakan-akan kematian adalah titik akhir cenderung mengikis alasan untuk bertanggung jawab atas pilihan hari ini.