اللَّهِ الَّذِي لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَ مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

Allah yang milik-Nya apa yang di langit dan apa yang di bumi. Dan kecelakaan bagi orang-orang kafir dari azab yang keras,

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. اللَّهِ الَّذِيAllaahi lladziiAllah yang
  2. لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِlahu maa fii s-samaawaatimilik-Nya apa yang di langit
  3. وَمَا فِي الْأَرْضِwa-maa fii l-ardidan apa yang di bumi
  4. وَوَيْلٌ لِلْكَافِرِينَwa-waylun lilkaafiriinadan kecelakaan bagi orang-orang kafir
  5. مِنْ عَذَابٍ شَدِيدٍmin adzaabin shadiidindari azab yang keras
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar a-l-h, s-m-w, a-r-d, k-f-r, '-dz-b, sh-d-d): wayl diterjemahkan 'kecelakaan'; adhaab shadiid diterjemahkan 'azab yang keras' (شديد DECIDED='keras', bukan 'sangat berat'). gloss '(Dialah)' dibuang.

Aplikasi

Kepemilikan Allah atas 'apa yang di langit dan apa yang di bumi' disebutkan berdampingan langsung dengan peringatan 'kecelakaan bagi orang-orang kafir', klaim kepemilikan mutlak ini yang mendasari mengapa penolakan terhadap-Nya punya konsekuensi serius. Konkretnya: menyadari bahwa apa pun yang dimiliki atau dikuasai manusia sebenarnya berada dalam kepemilikan yang lebih besar semestinya menumbuhkan sikap rendah hati terhadap kepemilikan sendiri, mengklaim kendali mutlak atas sesuatu yang sebenarnya dipinjamkan adalah akar dari sikap yang diperingatkan ayat ini.