وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
Dan ketika Tuhan kalian memaklumkan, “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah bagi kalian, dan sungguh jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku benar-benar keras.”
Terjemahan bertahap (5 jeda)
- وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْwa-idz ta'adzdzana rabbukumdan ketika Tuhan kalian memaklumkan
- لَئِنْ شَكَرْتُمْla-in syakartumsungguh jika kalian bersyukur
- لَأَزِيدَنَّكُمْla-aziidannakumniscaya Aku akan menambah bagi kalian
- وَلَئِنْ كَفَرْتُمْwa-la-in kafartumdan sungguh jika kalian kufur
- إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌinna 'adzaabii la-syadiidunsesungguhnya azab-Ku benar-benar keras
Terjemahan per kata (11 kata)
- وَإِذْwa-idzdan ketika
- تَأَذَّنَta'adzdzanamemaklumkan
- رَبُّكُمْrabbukumTuhan kalian
- لَئِنْla-insungguh jika
- شَكَرْتُمْsyakartumkalian bersyukur
- لَأَزِيدَنَّكُمْla-aziidannakumsungguh Aku akan menambah kalian
- وَلَئِنْwa-la-indan sungguh jika
- كَفَرْتُمْkafartumkalian kufur
- إِنَّinnasesungguhnya
- عَذَابِي'adzaabiiazab-Ku
- لَشَدِيدٌla-syadiidunbenar-benar keras
Inti bacaan
Pemakluman ini menyatakan hubungan langsung antara syukur dan penambahan (nikmat) versus kekufuran dan azab, sebuah prinsip sebab-akibat yang eksplisit, bukan janji vage. Konkretnya: cara seseorang merespons apa yang sudah diterima (dengan mensyukurinya secara aktif, bukan sekadar mengucap lalu lupa) memengaruhi apa yang berikutnya, sikap tidak tahu berterima kasih terhadap yang sudah dimiliki cenderung menghambat, bukan menetralkan, pertambahan berikutnya.
Penjelasan pilihan kata
'Bersyukur' dan 'ingkar' (shakartum/kafartum) dipasangkan sebagai dua respons berlawanan terhadap nikmat. Hanya sisi 'ingkar' (akar kufr) yang diambil kembali oleh Musa sendiri di ayat berikutnya: dia tidak mengulang kata 'bersyukur', melainkan langsung melompat ke skenario terburuk (kekufuran total) untuk menegaskan kemandirian Allah bahkan dari kemungkinan paling ekstrem itu.
Tafsiran
Ayat ini menyampaikan prinsip timbal balik yang sederhana namun tegas: syukur berbuah tambahan nikmat, kekufuran berbuah azab yang keras. Prinsip ini melanjutkan langsung dari peringatan Musa tentang penindasan Firaun, menempatkan pilihan sekarang di tangan kaum yang baru saja dibebaskan.
Renungan dan Hikmah
- Prinsip timbal balik syukur-tambahan dan ingkar-azab yang dinyatakan di sini menempatkan tanggung jawab langsung pada respons seseorang terhadap nikmat yang diterima, bukan nasib yang ditentukan sepihak, melainkan konsekuensi yang berkaitan langsung dengan sikap batin terhadap apa yang sudah diberikan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
Perubahan terjemahan ini atas terjemahan lain di ayat ini murni (kamu diterjemahkan kalian per tag 2MP corpus; sufiks '-mu' jamak diterjemahkan 'kalian'), kata kunci syukur tak diubah (sisi-hamba sudah selaras). Konvensi shkr: manusia diterjemahkan 'bersyukur' (tanpa penanda intensitas; contoh serupa ghaffaar), Allah diterjemahkan 'mengganjar'/'pengganjar' (6 ayat, SEMUA indefinit diterjemahkan kecil tanpa 'Maha'), masykuur diterjemahkan 'diganjar'. Pembeda: 76:22 jazaa'≠mashkuur sesisian; 'menerima' milik akar q-b-l, 'menyambut' milik akar t-w-b; antonim kufr (76:3, 14:7, 27:40). Antonim resmi kufr ('contr. of kufraan') = menutupi (nikmat).