وَاسْتَفْتَحُوا وَخَابَ كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ
Dan mereka memohon kemenangan, dan kecewalah setiap orang yang sewenang-wenang lagi keras kepala.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- وَاسْتَفْتَحُواwa-istaftahuudan mereka memohon kemenangan
- وَخَابَwa-khaabadan kecewalah
- كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيدٍkullu jabbaarin 'aniidinsetiap orang yang sewenang-wenang lagi keras kepala
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَاسْتَفْتَحُواwa-istaftahuudan mereka memohon kemenangan
- وَخَابَwa-khaabadan merugilah
- كُلُّkullusetiap
- جَبَّارٍjabbaarinyang bengis
- عَنِيدٍ'aniidinyang keras kepala
Inti bacaan
Permohonan 'kemenangan/keputusan' (istiftaah) berujung kekecewaan justru bagi 'setiap orang yang sewenang-wenang lagi keras kepala', dua sifat yang disebut berpasangan sebagai penyebab kegagalan, bukan kekuatan atau kecerdikan mereka. Konkretnya: kesewenang-wenangan (memaksakan kehendak atas orang lain) dan kekeraskepalaan (menolak koreksi) bukan strategi yang akhirnya menang, betapa pun tampak berkuasa untuk sementara, dua sifat ini secara struktural mengarah pada kekecewaan pada akhirnya.
Penjelasan pilihan kata
'Memohon kemenangan' (istaftahuu): para rasul yang memohon keputusan/pertolongan; ayat ini tidak menyebut eksplisit siapa yang meminta, tapi konteksnya menyiratkan permohonan para rasul untuk penyelesaian konflik. 'Sewenang-wenang' (jabbaar) dan 'keras kepala' (aniid) dua sifat yang dipasangkan menggambarkan karakter para penolak yang dibinasakan.
Tafsiran
Ayat pendek ini menandai titik balik: permohonan (kemungkinan dari para rasul) dijawab dengan kekecewaan bagi pihak yang sewenang-wenang dan keras kepala, sebuah kesimpulan singkat sebelum penjelasan lebih rinci tentang nasib mereka di ayat-ayat berikutnya.
Renungan dan Hikmah
- Yang kecewa disebut dengan dua sifat sekaligus: sewenang-wenang dan keras kepala. Keduanya memang tak bisa dipisah. Seseorang hanya sanggup memaksakan kehendaknya pada orang lain sesudah ia berhenti bisa dikoreksi, dan Allah menyebut keduanya sebagai satu gambaran, bukan dua kesalahan terpisah.
- Yang disebut bukan dihancurkan, melainkan 'kecewa'. Sebuah kata tentang harapan yang tidak terpenuhi. Sebelum apa pun menimpa mereka, yang lebih dulu runtuh adalah perhitungan mereka sendiri. Kesewenangan selalu berdiri di atas ramalan tentang apa yang akan berhasil, dan di situlah ia pertama kali patah.
- Ayat ini menyebut permohonan kemenangan tanpa menyebut siapa yang memohon. Yang disebutkan hanya siapa yang kecewa. Kedua pihak boleh jadi sama-sama meminta kepada Allah, dan yang membedakan bukan kesungguhan permintaannya melainkan siapa yang meminta.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
(akar f-t-h, kh-y-b, k-l-l, j-b-r, '-n-d): istaftahuu diterjemahkan 'memohon kemenangan/keputusan' (akar f-t-h); khaaba diterjemahkan 'kecewa/gagal' (akar kh-y-b); jabbaar diterjemahkan 'yang sewenang-wenang' (akar j-b-r putaran JBR, spt 5:22); aniid diterjemahkan 'keras kepala' (akar '-n-d). gloss '(para rasul)' dibuang.