رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Tuhanku, sesungguhnya mereka telah menyesatkan banyak dari manusia. Maka siapa yang mengikutiku, sesungguhnya dia termasuk golonganku, dan siapa yang mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau pengampun, pengasih.
Terjemahan bertahap (7 jeda)
- رَبِّrabbiTuhanku
- إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَinnahunna adhlalnasesungguhnya mereka telah menyesatkan
- كَثِيرًا مِنَ النَّاسِkatsiiran mina n-naasibanyak dari manusia
- فَمَنْ تَبِعَنِيfa-man tabi'aniimaka siapa yang mengikutiku
- فَإِنَّهُ مِنِّيfa-innahu minniisesungguhnya dia termasuk golonganku
- وَمَنْ عَصَانِيwa-man 'ashaaniidan siapa yang mendurhakaiku
- فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-innaka ghafuurun rahiimunsesungguhnya Engkau pengampun, pengasih
Terjemahan per kata (15 kata)
- رَبِّrabbiTuhan
- إِنَّهُنَّinnahunnasesungguhnya mereka
- أَضْلَلْنَadhlalnamereka menyesatkan
- كَثِيرًاkatsiiranbanyak
- مِنَminadari
- النَّاسِn-naasimanusia
- فَمَنْfa-manmaka orang yang
- تَبِعَنِيtabi'aniimengikutiku
- فَإِنَّهُfa-innahumaka sesungguhnya dia
- مِنِّيminniidari-Ku
- وَمَنْwa-mandan orang yang
- عَصَانِي'ashaaniimendurhakaiku
- فَإِنَّكَfa-innakamaka sesungguhnya Engkau
- غَفُورٌghafuurunpengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Ibrahim tidak mengklaim otoritas menghukum yang menolaknya secara pribadi: 'siapa yang mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau pengampun lagi pengasih', melepaskan penilaian akhir kepada otoritas yang lebih besar, bukan menyimpan dendam pribadi. Konkretnya: melepaskan keinginan menghakimi atau mendendam secara pribadi terhadap yang menolak nasihat/ajakan kita (menyerahkan penilaian akhir kepada yang lebih berwenang) adalah kedewasaan yang membebaskan dari beban emosional yang tidak perlu dipikul sendiri.
Penjelasan pilihan kata
'Menyesatkan' (adlalna) di sini akar yang sama yang berulang sejak Ar-Ra'd: kini dilakukan oleh berhala-berhala itu sendiri sebagai subjek, sisi lain dari pola menyesatkan yang sudah muncul dengan Allah dan manusia sebagai subjek di ayat-ayat sebelumnya. 'Pengampun, pengasih' (ghafuurun rahiimun): tanpa kata 'Maha', konsisten dengan pola bahwa kedua kata ini berpola intensif bukan superlatif.
Tafsiran
Ibrahim mengakui daya rusak berhala-berhala yang menyesatkan banyak orang, lalu menyerahkan nasib pengikutnya kepada kemurahan Allah: bagi yang mengikutinya, dia mengakui mereka sebagai golongannya; bagi yang mendurhakainya, dia tidak menghakimi, melainkan mempercayakan sepenuhnya kepada ampunan dan kasih Allah.
Renungan dan Hikmah
- Ibrahim tidak mengutuk mereka yang mendurhakainya, dia justru mengembalikan urusan itu kepada sifat pengampun Allah, sebuah sikap yang menempatkan kemurahan di atas penghakiman personal, bahkan terhadap mereka yang menolak ajakannya sendiri.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.