رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ ۖ فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Tuhanku, sesungguhnya mereka telah menyesatkan banyak dari manusia. Maka siapa yang mengikutiku, sesungguhnya dia termasuk golonganku, dan siapa yang mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau pengampun, pengasih.

Terjemahan bertahap (7 jeda)
  1. رَبِّrabbiTuhanku
  2. إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَinnahunna adlalnasesungguhnya mereka telah menyesatkan
  3. كَثِيرًا مِنَ النَّاسِkatsiiran mina n-naasibanyak dari manusia
  4. فَمَنْ تَبِعَنِيfa-man tabi'aniimaka siapa yang mengikutiku
  5. فَإِنَّهُ مِنِّيfa-innahu minniisesungguhnya dia termasuk golonganku
  6. وَمَنْ عَصَانِيwa-man asaaniidan siapa yang mendurhakaiku
  7. فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌfa-innaka ghafuurun rahiimunsesungguhnya Engkau pengampun, pengasih
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain di ayat ini: “Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya, superlatif yang di teks. *Ghafuur* berpola *fa'uul* & *rahiim* berpola *fa'iil*: intensif, superlatif (bandingkan *arham*, pola *af'al* = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151)., kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik KEMENAG SENDIRI: di ia menulis *rahiim* diterjemahkan “penyayang”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus muncul di, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8)., dan itu penting: *ghafara* = (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), *rahima* =. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. bahwa *ghafuur* & *rahiim* memang saling terikat namun berbeda: akar akar gh-f-r muncul di dekat *rahiim* tapi hanya di dekat *rahmaan*, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan *rahmaan* ≠ *rahiim*. ⚠ Akar tetangga yang BELUM diputuskan (*'aziiz*, *hakiim*, *haliim*, *'aliim* dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Rujukan:,. sebagian penerjemah: '“My Lord: they have led astray many among mankind. But whoso follows me, he is of me; and whoso disobeys me: Thou art forgiving and merciful.' Corpus ayat ini: = LEM:gafuwr ROOT:gfr,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,. Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.

Aplikasi

Ibrahim tidak mengklaim otoritas menghukum yang menolaknya secara pribadi: 'siapa yang mendurhakaiku, sesungguhnya Engkau pengampun lagi pengasih', melepaskan penilaian akhir kepada otoritas yang lebih besar, bukan menyimpan dendam pribadi. Konkretnya: melepaskan keinginan menghakimi atau mendendam secara pribadi terhadap yang menolak nasihat/ajakan kita (menyerahkan penilaian akhir kepada yang lebih berwenang) adalah kedewasaan yang membebaskan dari beban emosional yang tidak perlu dipikul sendiri.