وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ

Dan Kami jadikan bagi kalian di bumi sumber-sumber kehidupan, dan bagi yang bukan kalian pemberi rezekinya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَwa-ja'alnaa lakum fiihaa ma'aayisyadan Kami jadikan bagi kalian di bumi sumber-sumber kehidupan
  2. وَمَنْ لَسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَwa-man lastum lahu bi-raaziqiinadan bagi yang bukan kalian pemberi rezekinya

Terjemahan per kata (8 kata)

  1. وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
  2. لَكُمْlakumbagi kalian
  3. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  4. مَعَايِشَma'aayisyapenghidupan
  5. وَمَنْwa-mandan orang yang
  6. لَسْتُمْlastumkalian bukanlah
  7. لَهُlahubaginya
  8. بِرَازِقِينَbi-raaziqiinapara pemberi rezeki

Inti bacaan

Detail penting: penyediaan mencakup 'makhluk yang bukan kalian pemberi rezekinya', pengingat bahwa kehidupan non-manusia punya sumber penyediaannya sendiri, tidak sepenuhnya bergantung pada pengelolaan manusia. Konkretnya: menyadari bahwa makhluk hidup lain punya sistem penyediaan kebutuhan mereka sendiri yang tidak sepenuhnya bergantung pada manusia melawan asumsi bahwa manusia adalah pusat pengendali segala kehidupan, kerendahan hati ekologis ini membantu memandang alam sebagai sistem yang lebih besar dari sekadar sumber daya untuk dikelola manusia.

Penjelasan pilihan kata

'Sumber-sumber kehidupan' (ma'aayish): mencakup segala yang menunjang penghidupan; ayat ini menyebut makhluk lain (hewan, dsb.) yang juga bergantung pada sumber daya bumi namun rezekinya bukan berasal dari manusia, menegaskan bahwa Allah, bukan manusia, adalah pemberi rezeki sesungguhnya bagi seluruh makhluk.

Tafsiran

Ayat ini memperluas cakupan tanda-tanda ciptaan dari sekadar keberadaan sumber daya menjadi soal kepemilikan atas pemberian rezeki: manusia menikmati apa yang disediakan bumi, tetapi bukan manusia yang menjadi sumber rezeki bagi makhluk lain yang turut hidup di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini menyingkap batas kendali manusia atas bumi, manusia menikmati sumber-sumber kehidupan tetapi bukan pemilik atau penentu rezeki bagi makhluk lain yang berbagi ruang hidup yang sama, sebuah pengingat terhadap sikap yang menganggap alam semata sebagai milik dan kendali manusia.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar j-'-l, '-y-sh, l-y-s, r-z-q): ma'aayish diterjemahkan 'sumber-sumber kehidupan (penghidupan)' (akar '-y-sh); raaziqiin diterjemahkan 'pemberi rezeki' (akar r-z-q). gloss '(menjadikan pula)/(makhluk hidup)' dibuang.