فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan telah meniupkan ke dalamnya dari roh-Ku, maka menyungkurlah kalian kepadanya dengan bersujud.”
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- فَإِذَا سَوَّيْتُهُfa-idzaa sawwaytuhumaka apabila Aku telah menyempurnakannya
- وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِيwa-nafakhtu fiihi min ruuhiidan telah meniupkan ke dalamnya dari roh-Ku
- فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَfa-qa'uu lahu saajidiinamaka menyungkurlah kalian kepadanya dengan bersujud
Catatan pilihan kata (ringkas)
(akar s-w-y, n-f-kh, r-w-h, w-q-', s-j-d): sawwaytuhu diterjemahkan 'menyempurnakannya' (akar s-w-y); nafakhtu min ruuhii diterjemahkan 'meniupkan dari roh-Ku' (akar n-f-kh + akar r-w-h); qa'uu diterjemahkan 'menyungkurlah' (akar w-q-'); saajidiin diterjemahkan 'bersujud' (akar s-j-d SJD). gloss '(kejadian)/(ciptaan)' + footnote dibuang.
Aplikasi
Momen krusial: manusia menjadi layak dihormati bukan karena materi asalnya (tanah liat), melainkan setelah 'ditiupkan roh-Ku ke dalamnya', martabat sejati datang dari dimensi yang melampaui komposisi material semata. Konkretnya: nilai dan martabat sejati seseorang tidak ditentukan oleh asal-usul material atau keadaan awal yang sederhana, melainkan oleh dimensi yang lebih dalam yang melekat pada diri mereka, kerangka ini mendorong penghormatan terhadap martabat manusia terlepas dari latar belakang material yang tampak dari luar.