نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Akulah Sang Pengampun, Sang Pengasih,
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- نَبِّئْ عِبَادِيnabbi' 'ibaadiikabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku
- أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُannii anaa l-ghafuuru r-rahiimubahwa sesungguhnya Akulah Sang Pengampun, Sang Pengasih
Terjemahan per kata (6 kata)
- نَبِّئْnabbi'beritakanlah
- عِبَادِي'ibaadiihamba-hamba-Ku
- أَنِّيanniibahwa Aku
- أَنَاanaaAku
- الْغَفُورُl-ghafuuruMaha Pengampun
- الرَّحِيمُr-rahiimuSang Pengasih
Inti bacaan
Instruksi eksplisit untuk menyampaikan kabar tentang sifat pengampun terlebih dahulu, urutan penyampaian pesan (rahmat sebelum peringatan) yang disengaja.
Penjelasan pilihan kata
'Sang Pengampun, Sang Pengasih' (al-ghafuur ar-rahiim): di sini kedua kata bertakrif (memakai kata sandang 'al-'), berbeda dari bentuk tak-bertakrif yang dipakai di 12:53 dan 14:36 ('pengampun lagi pengasih', huruf kecil, tanpa 'Sang'). Terjemahan ini mengikuti pola takrif yang sama dengan 12:98. 'Mengampuni' (ghafara) secara leksikal berarti menutupi: dosa tetap tercatat tetapi terlindungi dari akibatnya; 'mengasihi' (rahima) berarti memberi, dua tindakan berbeda, bukan pengulangan bermakna sama.
Tafsiran
Perintah ini datang tepat setelah gambaran taman (15:45-48), menegaskan bahwa jaminan itu berakar pada dua sifat Allah yang saling melengkapi: pengampunan menghapus rintangan akibat kesalahan, kasih memberikan jalan menuju kebahagiaan itu.
Renungan dan Hikmah
- Perintah Allah di ayat ini mengabarkan bahwa Dia Sang Pengampun lagi Sang Pengasih. Yang disuruh disampaikan lebih dulu sifat-Nya yang menerima, bukan ancaman-Nya. Urutan penyampaian itu menentukan siapa yang masih bersedia mendengar kalimat berikutnya.
- Yang disapa disebut 'hamba-hamba-Ku', bukan orang-orang yang beriman atau yang taat. Sebutan yang dipakai Allah paling luas, mencakup yang belum kembali sekalipun. Kabar tentang pengampunan memang paling dibutuhkan justru oleh yang belum merasa berhak menerimanya.
- Dua nama di sini memakai bentuk bertakrif, berbeda dari bentuk tak-bertakrif yang biasa dipakai di banyak ayat lain. Yang disebut bukan sifat yang menerangkan, melainkan sebutan yang menamai. Di ayat yang isinya kabar tentang siapa Dia, bentuk itu tepat.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Ku bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Bedakan dari 58 ayat rumus indefinit (mis. 2:173) yang jadi “pengampun lagi pengasih” (huruf kecil): di SANA sebutan indefinit, di SINI takrif. Corpus yang memutuskan, bukan pola teks Indonesia. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap.