وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Sungguh, Kami benar-benar menganugerahkan kepadamu tujuh yang berulang-ulang, dan bacaan yang agung.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِيwa-la-qad aataynaaka sab'an mina l-matsaaniisungguh Kami telah menganugerahkan kepadamu tujuh yang berulang-ulang
  2. وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَwa-l-qur'aana l-'azhiimadan bacaan yang agung

Terjemahan per kata (7 kata)

  1. وَلَقَدْwa-la-qaddan sungguh
  2. آتَيْنَاكَaataynaakaKami memberimu
  3. سَبْعًاsab'antujuh
  4. مِنَminadari
  5. الْمَثَانِيl-matsaaniiyang berulang
  6. وَالْقُرْآنَwa-l-qur'aanadan Al-Qur'an
  7. الْعَظِيمَl-'azhiimayang besar

Inti bacaan

Anugerah khusus (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) disebutkan berdampingan dengan keseluruhan Al-Qur'an, sebuah hadiah istimewa di dalam hadiah yang lebih besar, layak diapresiasi secara khusus karena kedekatannya yang berulang dalam praktik sehari-hari.

Penjelasan pilihan kata

'Tujuh yang berulang-ulang' (sab'an mina l-matsaanii): teks Arab di sini tidak menyebut secara eksplisit apa isi 'tujuh' itu; secara tradisional dikaitkan dengan tujuh ayat pembuka yang dibaca berulang di setiap putaran salat, namun identifikasi itu adalah pemahaman tambahan, bukan sesuatu yang tertulis langsung dalam ayat ini, karena itu tidak disisipkan ke terjemahan. 'Agung' (azhiim): terjemahan tetap untuk akar ini, dibedakan dari 'besar' (kabiir), 'tinggi' (aliyy), 'luhur' (majiid), 'mulia' (kariim), dan 'digdaya' (aziiz), enam kata berbeda untuk enam akar berbeda dalam kosakata sifat keagungan.

Tafsiran

Identifikasi tradisional 'tujuh yang berulang-ulang' dengan tujuh ayat pembuka Al-Qur'an (yang memang dibaca berulang di setiap putaran salat) adalah pemahaman yang luas diterima, didukung oleh kecocokan jumlah dan sifat 'berulang'-nya; namun ayat ini sendiri menyandingkannya dengan penyebutan 'bacaan yang agung' secara umum, yang bisa dibaca sebagai penegasan ganda atas nikmat pemberian wahyu secara keseluruhan.

Renungan dan Hikmah

  • Sifat yang disebut Allah pada pemberian ini adalah 'yang berulang-ulang'. Bukan panjang, bukan sulit, melainkan diulang. Ada hal yang nilainya justru terletak pada kembali kepadanya, bukan pada menyelesaikannya sekali. Yang dibaca berkali-kali bukan karena belum selesai dipahami, melainkan karena memang begitu cara ia bekerja.
  • Ayat ini tidak menyebutkan apa isi 'tujuh' itu, dan terjemahan ini tidak menambahkannya. Membaca yang dibiarkan Allah tanpa nama sebagai sesuatu yang sudah pasti diketahui mengubah kedudukan pembacanya, dari orang yang menerima menjadi orang yang sudah tahu. Kedudukan pertama biasanya yang lebih dekat pada kenyataannya.
  • Kalimat ini berdiri di surah yang penuh peringatan, dan isinya justru pemberian. Allah menyelipkan penyebutan nikmat tepat di tempat pembacanya sedang bersiap mendengar ancaman berikutnya. Urutan semacam itu tidak melunakkan peringatannya; ia mengingatkan kepada siapa peringatan itu sebenarnya ditujukan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

azhiim diterjemahkan 'agung' (takrif diterjemahkan 'Sang Agung'; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. an.2' akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.