بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِ فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Ketetapan Allah telah datang, maka janganlah kalian meminta agar dipercepat. Mahasuci Dia, dan tinggi jauh dari apa yang mereka persekutukan.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. أَتَىٰ أَمْرُ اللَّهِataa amru llaahiketetapan Allah telah datang
  2. فَلَا تَسْتَعْجِلُوهُfa-laa tasta'jiluuhumaka janganlah kalian meminta agar dipercepat
  3. سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
  4. وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَwa-ta'aalaa 'ammaa yusyrikuunadan tinggi jauh dari apa yang mereka persekutukan

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. أَتَىٰataadatang
  2. أَمْرُamruurusan
  3. اللَّهِllaahiAllah
  4. فَلَاfa-laamaka janganlah
  5. تَسْتَعْجِلُوهُtasta'jiluuhukalian meminta menyegerakannya
  6. سُبْحَانَهُsubhaanahuMahasuci Dia
  7. وَتَعَالَىٰwa-ta'aalaadan Mahatinggi
  8. عَمَّا'ammaadari apa yang
  9. يُشْرِكُونَyusyrikuunamenyekutukan

Inti bacaan

Pembukaan Surah An-Nahl mengulang tema penting: 'Ketetapan Allah pasti datang. Maka, janganlah kalian meminta agar dipercepat', peringatan terhadap ketidaksabaran menuntut kepastian instan atas sesuatu yang sudah pasti akan terjadi pada waktunya.

Penjelasan pilihan kata

'Mahasuci' (subhaana): akar berbeda dari seruan 'Mahasuci Allah' (haashaa lillaah) di 12:31/12:51, namun sama-sama berfungsi sebagai seruan penyucian yang sudah lazim dalam bahasa Indonesia untuk kedua bentuk itu. 'Tinggi jauh' (ta'aalaa): bentuk kata kerja, akar yang sama dengan 'Sang Tinggi' (al-muta'aal) di 13:9, tetapi di sana bentuknya definit/gelar sehingga diterjemahkan 'Sang Tinggi'; di sini bentuknya kata kerja biasa, sehingga diterjemahkan 'tinggi' tanpa 'Sang' maupun 'Maha', pola yang sama dengan pembedaan takrif/tak-takrif pada kata sifat lain di seluruh terjemahan ini.

Tafsiran

Ayat pembuka surah ini menegaskan kepastian datangnya ketetapan Allah sebagai respons terhadap sikap tergesa-gesa sebagian orang yang meminta azab dipercepat (sikap yang akan muncul lagi di ayat-ayat berikutnya): sekaligus menegaskan bahwa Allah sepenuhnya bebas dari segala bentuk persekutuan yang dituduhkan kepada-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Ketetapan Allah disebut 'telah datang', padahal yang dibicarakan belum tiba. Bentuk kalimatnya sudah selesai. Kepastian dinyatakan sebagai sesuatu yang usai, bukan sebagai janji yang menunggu; dan yang sudah selesai memang tak lagi masuk akal untuk ditawar waktunya.
  • Yang mereka minta dipercepat adalah kehancuran mereka sendiri. Ketidaksabaran di sini tertuju pada benda yang salah, dan itu justru menunjukkan mereka tidak benar-benar memercayainya. Orang tidak pernah menantang datangnya sesuatu yang ia yakini akan datang.
  • Peringatan itu langsung disusul 'Mahasuci Dia'. Dua nada yang berbeda dalam satu ayat pendek. Allah tidak memisahkan penyucian nama-Nya dari peringatan-Nya, dan pembaca yang cuma menangkap salah satunya akan membawa pulang setengah kalimat.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) pemakaian diteruskan; per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan belum diputuskan. keluarga memuat 'leluhur terbesar, atau tertua' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif.