وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar pengampun lagi pengasih.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَاwa-in ta'udduu ni'mata llaahi laa tuhshuuhaajika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya
- إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌinna llaaha la-ghafuurun rahiimunsesungguhnya Allah benar-benar pengampun lagi pengasih
Terjemahan per kata (10 kata)
- وَإِنْwa-indan jika
- تَعُدُّواta'udduukalian menghitung
- نِعْمَةَni'matanikmat
- اللَّهِllaahiAllah
- لَاlaajanganlah
- تُحْصُوهَاtuhshuuhaakalian menghitungnya
- إِنَّinnasesungguhnya
- اللَّهَllaahaAllah
- لَغَفُورٌla-ghafuurunbenar-benar pengampun
- رَحِيمٌrahiimunpengasih
Inti bacaan
Pengakuan bahwa nikmat Allah 'tidak akan mampu dihitung' jika dicoba dihitung, kelimpahan yang melampaui kemampuan akuntansi manusia. Konkretnya: rasa syukur tidak perlu menunggu sampai bisa menghitung semua yang diterima secara lengkap, mengapresiasi kelimpahan yang jelas-jelas tak terhitung adalah sikap yang lebih realistis daripada menunda syukur sampai inventarisasi lengkap selesai.
Penjelasan pilihan kata
'Pengampun lagi pengasih' (ghafuurun rahiim): bentuk tak-bertakrif, diterjemahkan tanpa 'Sang' maupun 'Maha', konsisten dengan pola di 12:53 dan 14:36.
Tafsiran
Ayat ini menyimpulkan rangkaian tanda-tanda kemurahan Allah (16:3-17) dengan pernyataan bahwa nikmat-nikmat itu tidak terhitung banyaknya, lalu menyandingkannya dengan dua sifat Allah yang relevan: pengampunan atas kegagalan manusia bersyukur penuh, dan kemurahan yang terus mengalir meski tak pernah cukup dihitung.
Renungan dan Hikmah
- Kalimat لَا تُحْصُوهَا terpakai dua kali saja, di sini dan 14:34, dan keduanya menutup dengan sifat yang berlawanan arah. Di 14:34 yang disebut sesudahnya sifat manusia: “sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur”. Di sini yang disebut sifat Allah: pengampun lagi pengasih. Satu pernyataan yang sama tentang nikmat yang tak terhitung, dua penutup yang menghadap ke arah bertentangan.
- Penutup لَغَفُورٌ رَحِيمٌ dengan penegas di depannya terpakai tujuh kali di empat surah, dan tiga di antaranya berkumpul di surah ini saja (16:18, 16:110, 16:119). Yang menarik pada penempatannya di sini: pengampunan disebut sesudah kalimat tentang nikmat, bukan sesudah kalimat tentang dosa. Kegagalan yang tersirat bukan berbuat salah, melainkan tak sanggup menghitung, dan justru untuk kegagalan itu ampunan disebutkan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus “ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya 1× di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaan ≠ rahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.