إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari, dan mereka adalah orang-orang yang menyombongkan diri.
Terjemahan bertahap (3 jeda)
- إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌilaahukum ilaahun waahidunTuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa
- فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌfa-lladziina laa yu'minuuna bi-l-aakhirati quluubuhum munkiratunmaka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari
- وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَwa-hum mustakbiruunadan mereka adalah orang-orang yang menyombongkan diri
Terjemahan per kata (11 kata)
- إِلَٰهُكُمْilaahukumTuhan kalian
- إِلَٰهٌilaahunTuhan
- وَاحِدٌwaahidunYang Esa
- فَالَّذِينَfa-lladziinamaka orang-orang yang
- لَاlaatidak
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
- بِالْآخِرَةِbi-l-aakhiratidengan akhirat
- قُلُوبُهُمْquluubuhumhati mereka
- مُنْكِرَةٌmunkiratunyang mengingkari
- وَهُمْwa-humdan mereka
- مُسْتَكْبِرُونَmustakbiruunaorang-orang yang menyombongkan diri
Inti bacaan
Keesaan Tuhan dikaitkan langsung dengan kondisi psikologis: hati yang tidak beriman pada akhirat digambarkan 'mengingkari' dan 'sombong', ketidakpercayaan dikaitkan dengan sikap batin (penolakan, kesombongan), bukan semata kurangnya informasi. Konkretnya: keraguan yang menetap sering kali lebih terkait sikap batin (keengganan menerima, kesombongan) daripada kurangnya bukti, introspeksi jujur tentang sikap batin sendiri terhadap kebenaran yang sudah jelas lebih berguna daripada terus mencari alasan pembenaran intelektual.
Penjelasan pilihan kata
'Mengingkari' (munkirah) tidak diberi objek eksplisit tambahan dalam terjemahan: teks Arab sendiri tidak menyebut 'keesaan Allah' secara eksplisit di titik ini, cukup dipahami dari konteks kalimat sebelumnya tanpa perlu disisipkan. 'Menyombongkan diri' (mustakbiruun), akar yang sama dengan 'Sang Besar' (kabiir) namun dalam bentuk berbeda (refleksif, bermakna negatif): menempatkan diri sebagai besar, sebuah klaim palsu atas kedudukan yang bukan miliknya.
Tafsiran
Ayat ini menghubungkan penolakan terhadap keesaan Allah dengan dua kondisi batin (pengingkaran hati dan kesombongan), menyiratkan bahwa penolakan akan akhirat bukan sekadar perbedaan pandangan intelektual, melainkan berakar pada sikap hati tertentu.
Renungan dan Hikmah
- Dua penolakan yang tampak terpisah disatukan ayat ini: keesaan Allah dan hari akhir. Hubungannya masuk akal kalau dibalik. Tanpa perhitungan di ujung, mengakui satu Tuhan tak menuntut apa-apa; ia jadi pendapat, bukan ikatan. Yang membuat pengakuan berbobot adalah adanya hari ketika ia ditagih.
- Kata 'menyombongkan diri' berakar sama dengan 'besar', dalam bentuk yang berarti menjadikan diri besar. Yang digambarkan bukan perasaan, melainkan pengambilan: mengambil kedudukan yang bukan miliknya. Karena itu ia berlawanan langsung dengan kalimat pembuka ayat ini, dan bukan sekadar sikap buruk yang kebetulan disebut berdekatan.
- Ayat ini dibuka dengan pernyataan, bukan dengan bukti: 'Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa'. Baru sesudah itu digambarkan bagaimana sebagian orang menerimanya. Allah tidak menawar lebih dulu. Susunan semacam itu memindahkan pertanyaannya dari benar atau tidaknya kalimat itu ke apa yang terjadi di dalam diri orang ketika mendengarnya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) pemakaian diteruskan; per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan belum diputuskan. keluarga memuat 'leluhur terbesar, atau tertua' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif.