وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ ۙ قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Apa yang telah Tuhan kalian turunkan?” mereka berkata, “Dongeng-dongeng orang-orang terdahulu.”

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْwa-idzaa qiila lahum maadzaa anzala rabbukumdan apabila dikatakan kepada mereka, apa yang telah Tuhan kalian turunkan
  2. قَالُوا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَqaaluu asaathiiru l-awwaliinamereka berkata, dongeng-dongeng orang-orang terdahulu

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. وَإِذَاwa-idzaadan apabila
  2. قِيلَqiiladikatakan
  3. لَهُمْlahumkepada mereka
  4. مَاذَاmaadzaaapa
  5. أَنْزَلَanzalamenurunkan
  6. رَبُّكُمْrabbukumTuhan kalian
  7. قَالُواqaaluumereka berkata
  8. أَسَاطِيرُasaathiirudongeng-dongeng
  9. الْأَوَّلِينَl-awwaliinaorang-orang terdahulu

Inti bacaan

Respons peremehan terhadap wahyu, 'Dongeng-dongeng orang-orang terdahulu', menunjukkan pola retorika yang dikenali: menolak sesuatu yang serius dengan melabelinya sebagai cerita usang tanpa benar-benar terlibat dengan isinya. Konkretnya: mewaspadai kecenderungan meremehkan gagasan penting dengan melabelinya sebagai 'kuno/usang' tanpa benar-benar mengevaluasi isinya adalah kebiasaan berpikir yang perlu dijaga, baik saat menerima kritik maupun saat memberi penilaian terhadap gagasan orang lain.

Penjelasan pilihan kata

'Dongeng-dongeng' (asaatiir): kata yang menandai cerita rekaan tanpa dasar kebenaran, sebuah tuduhan yang meremehkan sumber wahyu sebagai sekadar warisan cerita lama.

Tafsiran

Respons ini mengungkap penolakan mereka bukan berdasar argumen substantif, melainkan liputan (dismissal) langsung yang menyamakan wahyu dengan cerita rakyat tanpa nilai kebenaran: sebuah sikap yang akan dijawab dengan konsekuensinya di ayat berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Mereka ditanya apa yang Tuhan mereka turunkan, dan yang mereka sebut 'dongeng-dongeng orang-orang terdahulu'. Pertanyaan tentang isi dijawab dengan penilaian tentang jenis. Melabeli sesuatu memang cara tercepat untuk tidak pernah berhadapan dengan isinya.
  • Alasan yang mereka pakai bahwa itu berasal dari orang-orang terdahulu. Usia dijadikan cacat. Padahal hal yang sama, yaitu bertahan melintasi generasi, dipakai Allah di tempat lain sebagai penanda bahwa pesannya satu dan berulang.
  • Pertanyaan yang diajukan berbunyi 'apa yang telah Tuhan kalian turunkan', memakai kata yang mengakui hubungan mereka dengan Allah. Yang bertanya tidak lebih dulu menuduh. Jawaban meremehkan itu keluar terhadap pertanyaan yang justru disusun dengan hormat.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

(akar q-w-l, n-z-l, r-b-b, s-t-r, a-w-l): anzala diterjemahkan 'menurunkan' (akar n-z-l); asaatiir al-awwaliin diterjemahkan 'dongeng-dongeng orang terdahulu' (akar s-t-r + akar '-w-l). Selaras.