وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ ۚ كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۚ فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ

Dan orang-orang yang mempersekutukan berkata, “Sekiranya Allah menghendaki, tentu kami tidak menyembah sesuatu pun selain Dia, kami maupun leluhur kami, dan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa kehendak-Nya.” Demikianlah orang-orang sebelum mereka berbuat. Maka bukankah kewajiban para rasul hanyalah menyampaikan dengan jelas?

Terjemahan bertahap (5 jeda)
  1. وَقَالَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُwa-qaala lladziina ashrakuu law shaa'a llaahudan orang-orang yang mempersekutukan berkata, sekiranya Allah menghendaki
  2. مَا عَبَدْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلَا آبَاؤُنَاmaa abadnaa min duunihi min shay'in nahnu wa-laa aabaa'unaatentu kami tidak menyembah sesuatu pun selain Dia, kami maupun leluhur kami
  3. وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍwa-laa harramnaa min duunihi min shay'indan tidak pula kami mengharamkan sesuatu pun tanpa kehendak-Nya
  4. كَذَٰلِكَ فَعَلَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْka-dzaalika fa'ala lladziina min qablihimdemikianlah orang-orang sebelum mereka berbuat
  5. فَهَلْ عَلَى الرُّسُلِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُfa-hal alaa r-rusuli illaa l-balaaghu l-mubiinumaka bukankah kewajiban para rasul hanyalah menyampaikan dengan jelas
Catatan pilihan kata (ringkas)

(akar q-w-l, sh-r-k, sh-y-a, a-l-h, '-b-d, d-w-n, a-b-w, h-r-m, f-'-l, q-b-l, r-s-l, b-l-gh, b-y-n): maa abadnaa…wa laa harramnaa diterjemahkan 'kami tak menyembah…tak mengharamkan' (akar '-b-d + akar h-r-m: musyrik memakai takdir sbg dalih menyembah+menetapkan haram sendiri, kerangka diin); hal alaa r-rusul illaa l-balaagh al-mubiin diterjemahkan 'kewajiban rasul hanya menyampaikan dengan jelas', akar b-l-gh (BLG, sejalan 13:40, peran-disangkal). gloss '(ketetapan)/(kafir)/(amanat Allah)' dibuang.

Aplikasi

Alasan fatalistik kaum musyrik ('sekiranya Allah menghendaki, tentu kami tidak menyembah selain-Nya') dipakai untuk lari dari tanggung jawab pilihan sendiri, dijawab dengan penegasan bahwa tugas rasul hanyalah 'menyampaikan dengan jelas', batas tanggung jawab komunikator berhenti pada penyampaian yang jelas, bukan mengendalikan respons penerima. Konkretnya: menyalahkan takdir atau keadaan eksternal untuk menghindari tanggung jawab pilihan pribadi adalah pola pembenaran diri yang perlu diwaspadai, begitu pesan sudah disampaikan dengan jelas, tanggung jawab menerima atau menolaknya beralih ke penerima.