وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus sebelummu kecuali laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki peringatan itu, jika kalian tidak mengetahui.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْwa-maa arsalnaa min qablika illaa rijaalan nuuhii ilayhimdan Kami tidak mengutus sebelummu kecuali laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka
  2. فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَfa-s'aluu ahla dz-dzikri in kuntum laa ta'lamuunamaka bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki peringatan itu jika kalian tidak mengetahui

Terjemahan per kata (15 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. أَرْسَلْنَاarsalnaaKami mengutus
  3. مِنْmindari
  4. قَبْلِكَqablikasebelummu
  5. إِلَّاillaakecuali
  6. رِجَالًاrijaalanpara lelaki
  7. نُوحِيnuuhiiKami wahyukan
  8. إِلَيْهِمْilayhimkepada mereka
  9. فَاسْأَلُواfa-s'aluumaka tanyakanlah kalian
  10. أَهْلَahlaahli
  11. الذِّكْرِdz-dzikriperingatan
  12. إِنْinjika
  13. كُنْتُمْkuntumkalian adalah
  14. لَاlaatidak
  15. تَعْلَمُونَta'lamuunakalian mengetahui

Inti bacaan

Instruksi praktis saat tidak tahu: 'bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan', kerendahan hati epistemik yang konkret. Konkretnya: saat menghadapi ketidaktahuan, mencari dan bertanya kepada orang yang benar-benar berpengetahuan di bidang tersebut adalah langkah yang lebih bijaksana daripada menebak-nebak atau menolak bertanya karena gengsi.

Penjelasan pilihan kata

Ayat ini menjawab satu keberatan yang disebut beberapa ayat sebelumnya, yaitu tuntutan agar yang diutus bukan manusia.

Jawabannya tidak mengelak. Yang diutus sebelum ini pun manusia yang diberi wahyu. Pola itu disebut tetap, tak pernah berubah. Orang yang menuntut utusan dari jenis lain sedang meminta sesuatu yang belum pernah ada, lalu memakai ketiadaannya sebagai alasan menolak.

Jalan keluarnya satu kalimat, yaitu bertanyalah kepada “orang-orang yang memiliki peringatan itu” (أَهْلَ الذِّكْرِ, ahla dz-dzikri). Sebutan itu muncul dua kali saja di dalam Al-Qur'an (16:43, 21:7), dan di kedua tempat itu perkaranya sama persis: orang yang meragukan pola kenabian diarahkan memeriksa catatan umat sebelumnya. Teks Arabnya sendiri tidak merinci siapa persisnya kelompok itu, sehingga di dalam terjemahan ini sebutannya pun tidak dipersempit.

Perintahnya diberi syarat, “jika kalian tidak mengetahui”. Ia tidak berlaku bagi yang sudah tahu, dan tidak menuntut siapa pun menyerahkan penilaiannya selamanya. Yang diminta bertanya selama belum tahu, dan itu langkah menuju mengetahui, bukan penggantinya.

Pola yang disebut ayat ini berulang dengan kalimat yang hampir sama di dua tempat lain. Rangkaian “beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka” (رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ, rijaalan nuuhii ilayhim) muncul tiga kali di dalam Al-Qur'an (12:109, 16:43, 21:7). Ketiganya menjawab keberatan yang sama, dan ketiganya menjawab dengan cara yang sama, yaitu menyebut apa yang selama ini terjadi.

Yang perlu diperhatikan, jawaban itu tidak menyangkal kemanusiaan yang dipersoalkan. Ia justru menegaskannya. Sebuah bantahan yang menerima kenyataan lawan lalu menolak kesimpulan yang ditarik darinya berdiri di tanah yang lebih kokoh daripada bantahan yang menyangkal kenyataannya.

Sebutan bagi pihak yang harus ditanya muncul dua kali saja di dalam Al-Qur'an (16:43, 21:7). Teks Arabnya tidak merinci siapa persisnya kelompok itu, dan di dalam terjemahan ini sebutannya pun tidak dipersempit. Penahanan itu bukan sikap ragu-ragu; ia mengembalikan kepada pembaca apa yang memang dibiarkan terbuka oleh teksnya.

Syarat penutupnya, yaitu jika kalian tidak mengetahui, adalah bagian dari perintah dan bukan tambahan. Bertanya diperintahkan selama seseorang belum tahu, sehingga bertanya diletakkan sebagai langkah menuju mengetahui. Perintah yang diberi syarat seperti itu tidak bisa dipakai untuk membenarkan penyerahan penilaian selamanya kepada orang lain, dan pembatasan itu justru datang dari ayatnya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan pola pengutusan rasul selalu berupa manusia yang menerima wahyu, pola yang sama dengan pertanyaan skeptis di 16:33 tentang menunggu kedatangan malaikat, sekaligus mengarahkan mereka yang ragu untuk mencari konfirmasi dari orang-orang yang sudah mengenal peringatan-peringatan sebelumnya. Cara menjawabnya patut diperhatikan, sebab ia tidak membantah.

Kemanusiaan yang dipersoalkan justru ditegaskan, bukan disangkal. Yang dibantah bukan kenyataannya, melainkan kesimpulan yang ditarik darinya. Menuntut utusan dari jenis lain berarti menuntut sesuatu yang belum pernah ada, lalu memakai ketiadaannya sebagai alasan menolak. Syarat semacam itu tidak bisa dipenuhi oleh apa pun, sebab ia memang disusun agar tak terpenuhi.

Jalan keluar yang ditawarkan sederhana sampai hampir terlewat, yaitu bertanya kepada yang mengenal peringatan terdahulu. Yang menyelamatkannya dari menjadi ajakan taklid adalah syarat yang menyertainya. Perintah itu berlaku selama seseorang belum tahu, sehingga bertanya diletakkan sebagai langkah menuju mengetahui, bukan sebagai penggantinya.

Sebutan bagi pihak yang ditanya pun dibiarkan tidak dirinci, dan penahanan itu bekerja lintas zaman. Sebuah daftar nama akan kedaluwarsa dan bisa disalahgunakan; sebuah ukuran tetap bisa dipakai kapan saja dan justru menuntut penilaian dari orang yang memakainya. Yang diwariskan ayat ini bukan siapa yang harus dipercaya, melainkan cara menilai siapa yang layak ditanya.

Renungan dan Hikmah

  • Perintah 'bertanyalah kepada orang-orang yang memiliki peringatan itu' ditujukan kepada orang yang sedang meragukan. Jalan keluar yang ditawarkan Allah bukan menunggu tanda yang lebih besar, melainkan bertanya. Yang paling sering menghalangi orang menemukan jawaban memang bukan sulitnya bertanya, melainkan tidak sudinya bertanya. Rangkaian perintahnya (فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ) muncul di dua ayat, di sini dan di 21:7, dan di kedua tempat ia menyusul keterangan yang sama tentang para utusan yang selalu manusia. Jadi perintah bertanya itu tidak berdiri sendiri; ia selalu dipasang sesudah sebuah pola disebutkan, dan yang ditanyakan adalah apakah pola itu benar.
  • Perintah itu diberi syarat: 'jika kalian tidak mengetahui'. Ia tidak berlaku bagi yang sudah tahu, dan tidak memaksa siapa pun bergantung selamanya. Yang diminta cuma satu pengakuan kecil yang justru paling mahal, yaitu mengakui bahwa memang ada yang belum diketahui. Syarat itu membalik arah perintahnya. Tanpa syarat, kalimatnya akan berbunyi bahwa setiap orang harus bertanya kepada pihak tertentu, dan itu menutup pintu memeriksa sendiri. Dengan syarat yang dipasang, perintah bertanya cuma berlaku pada orang yang memang tidak tahu, dan yang sudah tahu tidak diminta menyerahkan penilaiannya kepada siapa pun.
  • Pola yang disebut Allah tetap: yang diutus manusia, bukan malaikat. Mereka yang menuntut utusan dari jenis lain sedang meminta sesuatu yang tak pernah terjadi sekali pun sepanjang sejarah yang mereka sendiri akui. Tuntutan yang terdengar masuk akal kadang runtuh hanya dengan diperiksa apakah hal semacam itu pernah terjadi sebelumnya. Yang ditegaskan bukan jenis kelaminnya melainkan kemanusiaannya. Yang dibantah adalah tuntutan agar utusan berupa malaikat, dan bantahan itu berupa keterangan tentang pola yang sudah berjalan sejak dahulu. Apa yang dilakukan pola terhadap tuntutan? Ia memindahkan bebannya. Yang menuntut sesuatu yang belum pernah terjadi harus menerangkan mengapa kali ini harus berbeda.
  • Allah menyebut pola pengutusan itu tetap, yaitu manusia yang diberi wahyu, sehingga menuntut jenis lain berarti menuntut sesuatu yang belum pernah ada. Syarat apa yang diam-diam kita pasang sebelum bersedia menerima sesuatu, dan dari mana syarat itu kita dapat? Ada satu hal yang tidak dilakukan ayat ini. Ia tidak menyatakan bahwa utusan berupa malaikat mustahil bagi Allah. Yang dinyatakan cuma bahwa itu bukan cara yang dipakai. Perbedaannya penting: yang pertama akan menjadi pernyataan tentang kesanggupan, yang kedua pernyataan tentang pilihan, dan cuma yang kedua yang bisa diperiksa dari sejarah.
  • Pihak yang disuruh ditanyai tidak disebut dengan gelar keilmuan dan tidak disebut dengan nama golongan. Mereka disebut sebagai pemilik peringatan, yaitu orang yang menyimpan kabar terdahulu. Apa yang dikerjakan penyebutan itu? Ia membatasi apa yang boleh ditanyakan. Yang ditanyakan bukan pendapat mereka tentang benar salahnya, melainkan kabar yang mereka simpan tentang bagaimana utusan-utusan sebelumnya datang. Pertanyaan yang dibatasi begitu bisa dijawab dengan keterangan, bukan dengan kewenangan.
  • Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum perintah. Pola pengutusan disebut lebih dulu, dan baru sesudah itu perintah bertanya diberikan. Kalau urutannya dibalik, yang mendengar akan disuruh bertanya tanpa tahu apa yang perlu ditanyakan. Dengan urutan yang dipakai di sini, pertanyaannya sudah terbentuk sendiri di kepala pendengar sebelum perintahnya sampai, dan Allah cuma menunjukkan ke mana pertanyaan itu dibawa.