أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍ فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

atau Dia mengazab mereka secara berangsur dengan rasa takut. Maka sesungguhnya Tuhan kalian penuh iba lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (2 jeda)
  1. أَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلَىٰ تَخَوُّفٍaw ya'khudzahum alaa takhawwufinatau Dia mengazab mereka secara berangsur dengan rasa takut
  2. فَإِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌfa-inna rabbakum la-ra'uufun rahiimunmaka sesungguhnya Tuhan kalian penuh iba lagi pengasih
Catatan pilihan kata (ringkas)

terjemahan lain di ayat ini: “Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. terjemahan lain memakai *ra'uuf* di 13 ayatnya: “Maha Penyantun” 5×, “belas kasihan” (24:2), “kesantunan” (57:27), lain 2. diterjemahkan *rahmaan* (53×), *rahiim* (10×), **dan *ra'uuf* (4×)“penuh iba lagi pengasih”**, *ra'uuf*=“penuh iba” (PERASAAN), *rahiim*=“pengasih” (PEMBERIAN). Huruf kecil: corpus menandai 13/13 *ra'uuf*. KBBI VI: *iba*¹ = (adjektiva) “berbelas kasihan; terharu dan kasihan”, kelas kata cocok (*ra'uuf* memang ADJ), contohnya bahkan tentang HATI. with rahmah”, keduanya sinonim, dan itu melanggar prinsip non-redundansi10 dari 13** *ra'uuf* berdampingan dengan r-h-m. Qur'an tak mengulang percuma., hlm (*ra'fah* = yang daripada *rahmah*) + hlm (al-Raaghib: *rahmah* untuk Sang Pencipta = “beneficence ”). Dua entri, dua halaman diterjemahkan ***ra'fah* memikul KELEMBUTAN, *rahmah* memikul PEMBERIANDANPalang lolos telak di 24:2ta'khudhkum** bihimaa ra'fatun”, *ra'fah* orang & menahan tangannya dari mendera; “rahmat/pemberian” di situ. menguatkan: “dalam mereka *ra'fatan wa rahmatan*”, keduanya bersama, di hati diterjemahkan harus BEDA. Temuan ini kesimpulan r-h-m = pemberian dari arah yang bebas. Rujukan: -. sebagian penerjemah: 'Or that He will not seize them through slow decay?1 And your Lord is kind and merciful.' Corpus ayat ini: = LEM:ra'uwf ROOT:rAf,; = LEM:r~aHiym ROOT:rHm,.

Aplikasi

Peringatan tentang konsekuensi bertahap langsung dipasangkan dengan penegasan sifat penuh iba dan pengasih Tuhan, keseriusan peringatan dan kasih sayang mendasar disampaikan berdampingan, bukan saling meniadakan. Konkretnya: mengakui adanya konsekuensi serius atas suatu tindakan tidak bertentangan dengan keyakinan mendasar bahwa ada kasih sayang yang tetap berlaku, kedua kebenaran ini bisa dipegang bersamaan tanpa kontradiksi.