وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًا ۚ أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ

Hanya milik-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan hanya kepada-Nya pertanggungjawaban selama-lamanya. Mengapa kepada selain Allah kalian bertakwa?

Terjemahan bertahap (3 jeda)

  1. وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِwa-lahu maa fii s-samaawaati wa-l-ardhihanya milik-Nya segala apa yang ada di langit dan di bumi
  2. وَلَهُ الدِّينُ وَاصِبًاwa-lahu d-diinu waashibandan hanya kepada-Nya pertanggungjawaban selama-lamanya
  3. أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَa-fa-ghayra llaahi tattaquunamengapa kepada selain Allah kalian bertakwa

Terjemahan per kata (11 kata)

  1. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  2. مَاmaaapa yang
  3. فِيfiidi
  4. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  5. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  6. وَلَهُwa-lahudan bagi-Nya
  7. الدِّينُd-diinuagama
  8. وَاصِبًاwaashibanyang kekal
  9. أَفَغَيْرَa-fa-ghayramaka apakah selain
  10. اللَّهِllaahiAllah
  11. تَتَّقُونَtattaquunabertakwa

Inti bacaan

terjemahan terjemahan ini atas 'diin' sebagai 'pertanggungjawaban' (bukan sekadar 'ketaatan') di sini disertai kata 'wasiban' (terus-menerus/selama-lamanya), pertanggungjawaban yang berlangsung terus-menerus, bukan tindakan sesaat. Konkretnya: memahami akuntabilitas hidup sebagai orientasi berkelanjutan sepanjang waktu (bukan kewajiban ritual sesekali) mendorong konsistensi jangka panjang dalam bertindak, bukan sekadar kepatuhan formal di momen-momen tertentu.

Penjelasan pilihan kata

'Pertanggungjawaban' (diin): terjemahan konsisten untuk akar ini di seluruh terjemahan (band. 12:40, 13:12, 14:13, 15:35), kini disertai kata 'selama-lamanya' (waasiban) yang menegaskan sifatnya yang tidak pernah berhenti atau berubah kepada siapa pun selain Allah.

Tafsiran

Ayat ini memperluas argumen 16:51 dengan menegaskan kepemilikan mutlak Allah atas segala sesuatu di langit dan bumi, menjadikan pertanggungjawaban sebagai sesuatu yang secara logis hanya bisa diarahkan kepada-Nya: pertanyaan retoris penutup menantang langsung kebiasaan bertakwa kepada selain-Nya.

Renungan dan Hikmah

  • Pertanggungjawaban di ayat ini disebut berlangsung 'selama-lamanya'. Bukan pada hari tertentu, bukan pada peristiwa tertentu. Yang digambarkan Allah bukan satu hari perhitungan yang menunggu di ujung, melainkan keadaan yang sedang berlaku sekarang dan tak pernah berhenti berlaku.
  • Penutupnya bertanya 'mengapa kepada selain Allah kalian bertakwa'. Yang ditanyakan bukan kepada siapa mereka bersujud, melainkan kepada siapa mereka berhati-hati. Rasa takut memang penanda yang lebih jujur daripada ibadah, sebab ia muncul tanpa diniatkan dan menunjukkan siapa yang sungguh dianggap berkuasa.
  • Kalimat pertamanya menyebut kepemilikan Allah atas langit dan bumi, dan dari situ pertanggungjawaban disimpulkan. Alurnya bukan ancaman, melainkan penalaran. Bertanggung jawab kepada pemilik adalah hal paling biasa di dunia; yang tidak biasa cuma seberapa luas yang dimiliki-Nya.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain menerjemahkan diin di sini sbg 'ketaatan/pengabdian'. terjemahan ini menyeragamkan ke 'pertanggungjawaban' lintas 87 ayat akar diin. Rollout kelompok (b) akar diin. Penyeragaman 'pertanggungjawaban' menegakkan Prinsip #1 (konsistensi leksikal) & menyanggah reduksi 'agama=institusi'. PASS: berbasis terjemahan lain edisi terkini dgn kata diin ditukar. akar d-y-n (dyn), sense 'ketaatan/pengabdian kepada Allah'. Diverifikasi corpus Leeds (root dyn). Konvensi terjemahan ini: diin diterjemahkan 'pertanggungjawaban' (kata payung; definisi-jangkar & entri kanonik 1:4).