إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ
Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada tanda-tanda Allah, dan mereka itulah para pendusta.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِinnamaa yaftarii l-kadziba lladziina laa yu'minuuna bi-aayaati llaahisesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada tanda-tanda Allah
- وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَwa-ulaa'ika humu l-kaadzibuunadan mereka itulah para pendusta
Terjemahan per kata (11 kata)
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- يَفْتَرِيyaftariimengada-ada
- الْكَذِبَl-kadzibakebohongan
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- لَاlaatidak
- يُؤْمِنُونَyu'minuunaberiman
- بِآيَاتِbi-aayaatipada tanda-tanda
- اللَّهِllaahiAllah
- وَأُولَٰئِكَwa-ulaa'ikadan mereka itu
- هُمُhumumerekalah
- الْكَاذِبُونَl-kaadzibuunapara pendusta
Inti bacaan
Definisi tajam: 'yang mengada-adakan kebohongan hanyalah orang-orang yang tidak beriman', tuduhan kebohongan terhadap wahyu justru membalik untuk menyingkap karakter penuduhnya sendiri. Konkretnya: tuduhan yang dilontarkan seseorang terhadap sesuatu yang benar sering kali lebih mengungkap karakter dan motif si penuduh daripada kebenaran objek yang dituduh, pola ini berguna dipahami saat menghadapi kritik yang tidak berdasar.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini membalikkan tuduhan 'pembuat kebohongan' (muftarin) di 16:101 secara langsung, bukan penerima wahyu yang berdusta, melainkan justru mereka yang menolak beriman itulah yang sesungguhnya layak disebut pendusta.
Tafsiran
Ayat ini menutup gugusan pembelaan wahyu dengan pembalikan tuduhan yang tegas: kebohongan bukan berasal dari sumber wahyu, melainkan dari sikap penolakan itu sendiri, sebuah pembalikan logis yang menyimpulkan seluruh argumen dari 16:101-104.
Renungan dan Hikmah
- Ayat ini dibuka dengan sebuah perbuatan dan ditutup dengan sebuah sebutan bagi pelakunya. Satu kalimat, dua tingkat. Yang mula-mula dikerjakan seseorang pada akhirnya dipakai untuk menamainya.
- Yang disebut Allah sebagai pangkalnya bukan ketidaktahuan, melainkan tidak beriman kepada tanda-tanda-Nya. Tandanya sudah ada dan sudah terlihat. Yang menjadi soal bukan tersedianya bukti, melainkan apa yang dikerjakan orang terhadap bukti yang sudah tersedia.
- Allah memakai kata yang membatasi, hanyalah, sehingga kalimatnya menutup kemungkinan lain. Pernyataan sekeras itu jarang dipakai tanpa alasan. Yang dijawab kalimat begini biasanya bukan sebuah pertanyaan, melainkan sesuatu yang sudah terlanjur ramai dikatakan orang.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
akar a-y (aayah), 353 ayat / 382 kemunculan, SATU lema, tak ada dasar morfologis utk memecahnya. tambahan terjemahan lain '(kebesaran)/(kekuasaan)' dibuang, TIDAK ADA di teks Arab.