مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِ وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Siapa yang kufur kepada Allah setelah keimanannya , kecuali orang yang dipaksa, sedangkan hatinya tenang dengan keimanan , tetapi siapa yang melapangkan dada untuk kekufuran, maka atas mereka kemurkaan dari Allah, dan bagi mereka azab yang agung.

Terjemahan bertahap (4 jeda)

  1. مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِman kafara bi-llaahi min ba'di iimaanihisiapa yang kufur kepada Allah setelah keimanannya
  2. إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالْإِيمَانِillaa man ukriha wa-qalbuhu muthma'innun bi-l-iimaanikecuali orang yang dipaksa sedangkan hatinya tenang dengan keimanan
  3. وَلَٰكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًاwa-laakin man syaraha bi-l-kufri shadrantetapi siapa yang melapangkan dada untuk kekufuran
  4. فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌfa-'alayhim ghadhabun mina llaahi wa-lahum 'adzaabun 'azhiimunmaka atas mereka kemurkaan dari Allah, dan bagi mereka azab yang agung

Terjemahan per kata (24 kata)

  1. مَنْmanorang yang
  2. كَفَرَkafarakufur
  3. بِاللَّهِbi-llaahipada Allah
  4. مِنْmindari
  5. بَعْدِba'disesudah
  6. إِيمَانِهِiimaanihiimannya
  7. إِلَّاillaakecuali
  8. مَنْmanorang yang
  9. أُكْرِهَukrihadipaksa
  10. وَقَلْبُهُwa-qalbuhudan hatinya
  11. مُطْمَئِنٌّmuthma'innunyang tenang
  12. بِالْإِيمَانِbi-l-iimaanipada keimanan
  13. وَلَٰكِنْwa-laakintetapi
  14. مَنْmanorang yang
  15. شَرَحَsyarahamelapangkan
  16. بِالْكُفْرِbi-l-kufridengan kekufuran
  17. صَدْرًاshadrandada
  18. فَعَلَيْهِمْfa-'alayhimmaka atas mereka
  19. غَضَبٌghadhabunkemurkaan
  20. مِنَminadari
  21. اللَّهِllaahiAllah
  22. وَلَهُمْwa-lahumdan bagi mereka
  23. عَذَابٌ'adzaabunazab
  24. عَظِيمٌ'azhiimunyang agung

Inti bacaan

Pengecualian penting: orang yang dipaksa mengucapkan kekufuran dengan 'hatinya tetap tenang dengan keimanan' dibebaskan dari dosa, kontras dengan yang 'berlapang dada' menerima kekufuran secara sukarela, pembedaan tegas antara keterpaksaan eksternal dan keputusan batin yang genuine. Konkretnya: keadaan batin/niat yang sesungguhnya (bukan sekadar tindakan lahiriah di bawah tekanan) menjadi penentu utama tanggung jawab moral, perbedaan ini penting dipahami baik saat menilai diri sendiri dalam situasi terpaksa maupun saat menilai orang lain.

Penjelasan pilihan kata

'Dipaksa...hatinya tenang dengan keimanan': pengecualian eksplisit bagi mereka yang terpaksa mengucapkan kekufuran secara lisan namun hatinya tetap teguh beriman, dibedakan tegas dari 'melapangkan dada' (sharaha sadran), sebuah penerimaan sukarela dan penuh terhadap kekufuran, bukan sekadar ucapan di bawah paksaan.

Tafsiran

Ayat ini membuat pembedaan penting antara ucapan di bawah paksaan (yang tidak mengubah status keimanan hati) dan penerimaan sukarela kekufuran (yang berkonsekuensi kemurkaan): sebuah prinsip yang menegaskan bahwa keadaan hati, bukan sekadar ucapan lahiriah, menjadi penentu utama.

Renungan dan Hikmah

  • Pembedaan antara ucapan terpaksa dan penerimaan sukarela ini menunjukkan bahwa penilaian keimanan seseorang tidak bisa disederhanakan hanya dari ucapan lahiriah semata di bawah tekanan ekstrem, kondisi hati yang tetap teguh diakui secara eksplisit sebagai faktor yang membebaskan dari konsekuensi, sebuah nuansa yang jarang dibahas dalam pembacaan sepintas tentang kekufuran.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

azhiim diterjemahkan 'agung' (indefinit, tanpa Maha; swap sadar-kolokasi per nomina corpus); per kelas morfologi; pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi zhm: azhiim diterjemahkan 'agung' seragam (takrif 'Sang Agung'); a'zham diterjemahkan 'lebih agung'; verba azhzhama pemakaian diteruskan. Pembeda: kabiir='besar' (k-b-r, kelak, al-Kabiir sebutan sendiri), majiid='luhur', kariim='mulia', aziiz='digdaya'. Objek negatif (azab/dosa) memakai kata sama, skala, konteks yang bekerja. akar '-zh-m: azhuma = 'menjadi besar (skala/bobot)'; azhiim = besar-agung (magnitude); jangkar konkret keluarga: azhm/'izhaam = TULANG (kerangka, yang besar-menopang). KBBI agung indra-1: 'besar; mulia; luhur'.