أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Mereka itulah orang-orang yang Allah kunci hati, pendengaran, dan penglihatan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang lalai.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- أُولَٰئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْulaa'ika lladziina thaba'a llaahu 'alaa quluubihim wa-sam'ihim wa-abshaarihimmereka itulah orang-orang yang Allah kunci hati, pendengaran, dan penglihatan mereka
- وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَwa-ulaa'ika humu l-ghaafiluunadan mereka itulah orang-orang yang lalai
Terjemahan per kata (11 kata)
- أُولَٰئِكَulaa'ikamereka itu
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- طَبَعَthaba'amengunci
- اللَّهُllaahuAllah
- عَلَىٰ'alaaatas
- قُلُوبِهِمْquluubihimhati mereka
- وَسَمْعِهِمْwa-sam'ihimdan pendengaran mereka
- وَأَبْصَارِهِمْwa-abshaarihimdan penglihatan mereka
- وَأُولَٰئِكَwa-ulaa'ikadan mereka itu
- هُمُhumumerekalah
- الْغَافِلُونَl-ghaafiluunaorang-orang yang lalai
Inti bacaan
Konsekuensi dari pola pikiran tertutup digambarkan sebagai 'terkunci' hati, pendengaran, penglihatan, deskripsi bertahap: penolakan berulang terhadap kebenaran akhirnya mengeraskan kapasitas menerima informasi baru itu sendiri. Konkretnya: mewaspadai bagaimana penolakan berulang terhadap kebenaran atau kritik yang valid bisa secara bertahap mengurangi kemampuan diri sendiri untuk tetap terbuka menerima informasi baru, menjaga keterbukaan pikiran adalah usaha aktif, bukan kondisi otomatis.
Penjelasan pilihan kata
'Mengunci' (taba'a): akar yang menandai penutupan/penyegelan, sebuah konsekuensi yang datang setelah pilihan berulang mencintai dunia dan menolak kebenaran, bukan penentuan sewenang di awal.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan konsekuensi akhir dari preferensi yang dijelaskan di 16:107: penutupan hati, pendengaran, dan penglihatan sebagai hasil dari pilihan berulang, bukan sebab awal dari penolakan itu sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Ayat sebelumnya menyebut pilihan mereka, dan ayat ini menyebut penguncian oleh Allah. Urutannya menentukan segalanya. Yang dikunci bukan pintu yang tak pernah dibuka, melainkan pintu yang berkali-kali ditutup sendiri sampai akhirnya tak bisa dibuka lagi.
- Allah menyebut tiga: hati, pendengaran, dan penglihatan. Bukan hanya yang di dalam. Ketiganya pintu masuk, dan ketiganya disebut tertutup. Yang tak lagi bisa masuk bukan keterangan yang kurang jelas, melainkan keterangan apa pun.
- Yang disebut Allah di penutup bukan jahat atau membangkang, melainkan lalai. Kata yang paling ringan dipakai untuk keadaan yang paling berat. Orang dalam keadaan itu memang tidak merasa sedang menentang apa pun; ia cuma tidak merasa ada yang perlu diperhatikan.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)
Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.
ayat verba/nomina smE-bSr non-sebutan: pemakaian diteruskan terjemahan lain (mendengar/melihat/pendengaran/penglihatan konsisten); pasangan belum ditelaah dipertahankan sementara. Konvensi smE/bSr: samii' diterjemahkan 'mendengar', basiir diterjemahkan 'melihat', verba melekat pada pelaku seragam Allah+manusia (Bandingkan 76:2, 11:24, 35:19); takrif diterjemahkan 'Yang Mendengar'/'Yang Melihat' (: takrif-verba pakai 'Yang'); indefinit kecil tanpa Maha. Verba sami'a/absara + sam'/basar + basiirah/basaa'ir = pemakaian diteruskan (cabang mata-hati didokumentasi). Kolisi 'melihat'⟷ra'aa = utang terbuka bedah r-'-y.