ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Kemudian, sesungguhnya Tuhanmu , bagi orang-orang yang melakukan keburukan karena kebodohan, lalu bertobat setelah itu dan memperbaiki diri , sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar pengampun lagi pengasih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ عَمِلُوا السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِ ذَٰلِكَ وَأَصْلَحُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌtsumma inna rabbaka li-lladziina 'amiluu s-suu'a bi-jahaalatin tsumma taabuu min ba'di dzaalika wa-ashlahuu inna rabbaka min ba'dihaa la-ghafuurun rahiimunkemudian sesungguhnya Tuhanmu, bagi orang-orang yang melakukan keburukan karena kebodohan lalu bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar pengampun lagi pengasih

Terjemahan per kata (19 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. إِنَّinnasesungguhnya
  3. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  4. لِلَّذِينَli-lladziinabagi orang-orang yang
  5. عَمِلُوا'amiluumereka beramal
  6. السُّوءَs-suu'akeburukan
  7. بِجَهَالَةٍbi-jahaalatinkarena kebodohan
  8. ثُمَّtsummakemudian
  9. تَابُواtaabuubertobat
  10. مِنْmindari
  11. بَعْدِba'disesudah
  12. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  13. وَأَصْلَحُواwa-ashlahuudan memperbaiki
  14. إِنَّinnasesungguhnya
  15. رَبَّكَrabbakaTuhanmu
  16. مِنْmindari
  17. بَعْدِهَاba'dihaasesudahnya
  18. لَغَفُورٌla-ghafuurunbenar-benar pengampun
  19. رَحِيمٌrahiimunpengasih

Inti bacaan

Jalur pemulihan yang jelas ditawarkan bagi kesalahan karena kebodohan/ketidaktahuan: bertobat dan memperbaiki diri, dua langkah konkret (pengakuan dan tindakan korektif), bukan sekadar penyesalan verbal semata. Konkretnya: pemulihan dari kesalahan membutuhkan dua langkah nyata, mengakui kesalahan (bertobat) dan benar-benar memperbaiki perilaku (aslahuu), pengakuan tanpa perubahan nyata tidak cukup untuk proses pemulihan yang genuine.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian dengan janji ampunan bagi mereka yang berbuat keburukan karena kebodohan namun kemudian bertobat dan memperbaiki diri: Tuhan tetap pengampun dan pengasih bagi mereka yang kembali.

Renungan dan Hikmah

  • Allah menyebut berbuat keburukan karena kebodohan, bertobat sesudahnya, dan memperbaiki diri. Tiga. Bertobat saja tak disebut cukup tanpa yang ketiga.
  • Allah mengulang sesungguhnya Tuhanmu dua kali dalam satu ayat, mengapit syaratnya. Kalimatnya dibingkai. Yang menjamin di kedua ujung sama.
  • Penutupnya menyebut Dia pengampun lagi pengasih sesudah itu. Frasa sesudah itu dipakai dua kali dalam ayat ini. Yang ditekankan bukan sifat-Nya saja, melainkan bahwa ia berlaku sesudah semuanya terjadi.
Catatan kerja penerjemah (teknis, belum disunting)

Bagian ini catatan mentah dari proses penerjemahan, ditampilkan apa adanya demi keterbukaan. Isinya memakai singkatan kerja dan belum ditulis ulang untuk pembaca umum.

terjemahan lain di ayat ini: “Sesungguhnya Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dua penyimpangan dari Arab, keduanya (a) “Maha”, superlatif yang TIDAK ADA di teks. Ghafuur berpola fa'uul & rahiim berpola fa'iil: intensif, bukan superlatif (bandingkan arham, pola af'al = elatif, di situ superlatif memang ada, dan justru di situ terjemahan lain tidak memakai superlatif Indonesia; lih. 7:151). (b) “Yang”, kepastian yang tak ada pada sebutan indefinit. terjemahan ini: “pengampun lagi pengasih”, huruf kecil, bebas “Maha”, sesuai indefinitnya. Dasarnya praktik terjemahan lain SENDIRI: di 9:128 ia menulis rahiim diterjemahkan “penyayang” POLOS, tanpa “Maha”, sebab subjeknya NABI, seorang manusia. Jadi terjemahan lain TAHU aturan takrif/indefinit; ia hanya tak konsisten menerapkannya. Rumus ghafuurun rahiim” muncul di 58 ayat, konvensi di sini berlaku sama di semuanya (bila TAKRIF, jadi “Sang Pengampun lagi Sang Pengasih”; lih. 39:53, 46:8). Pasangan ini BUKAN tautologi, dan itu penting: ghafara = MENUTUPI (dosa tetap ada, diselubungi dari akibat), rahima = MEMBERI. Dua tindakan berbeda, bukan dua kata untuk satu makna, logika non-redundansi yang sama yang menegakkan basmalah. Uji kolokasi mengunci bahwa ghafuur & rahiim memang saling terikat namun berbeda: akar gh-f-r muncul 76× di dekat rahiim tapi hanya di dekat rahmaan, sinonim mustahil berprofil sedisjoin itu; itulah salah satu dari empat jalur yang membuktikan rahmaanrahiim. Akar tetangga yang BELUM diputuskan ('aziiz, hakiim, haliim, 'aliim dst) sengaja dibiarkan sebagai teks terjemahan lain, register campur ini ia menandai akar mana yang sudah digarap. Dalam ayat ini, kata dari akar gh-f-r dan r-h-m sama-sama indefinit (tanpa kata sandang). Keduanya sebutan, dan sebutan Arab memang indefinit ('innahu ghafuurun rahiim' = 'sungguh Dia pengampun, pengasih'); itu struktur NORMAL, bukan kelalaian.